Korea Selatan menerapkan sistem pendingin terdistribusi, mulai dari kubah udara Happiso hingga AI untuk melindungi warga.(Dok. The Korea Times)
PEMERINTAH Korea Selatan menerapkan strategi komprehensif untuk menghadapi gelombang panas ekstrem dengan mengubah ruang kota menjadi sistem pendingin terdistribusi. Langkah ini melampaui sekadar imbauan kesehatan, melainkan mengintegrasikan teknologi canggih, jasa sosial, dan perlindungan ketat bagi pekerja luar ruang.
Oasis Pendingin di Jantung Kota
Seoul memperkenalkan "Happiso", sebuah tempat perlindungan luar ruang berbentuk kubah udara nan dilengkapi sistem pendingin. Pada musim panas 2026, akomodasi ini ditargetkan tersedia di 14 letak strategis, termasuk Gwanghwamun Square dan Cheonggye Plaza. Selain itu, kanopi besar dipasang di puluhan koridor pejalan kaki untuk memberikan perlindungan langsung di jalur aktivitas warga.
Infrastruktur Jalan nan Mendinginkan
Untuk menurunkan suhu permukaan, beragam distrik di Seoul menggunakan kombinasi teknologi cooling fog (kabut air) dan sistem cooling road nan membasahi aspal secara otomatis. Saat peringatan gelombang panas aktif, penyemprotan jalan dengan truk tangki ditingkatkan hingga enam kali sehari. Halte bus berpendingin dan kanopi pandai nan beraksi berasas suhu serta kecepatan angin juga menjadi standar baru di trotoar kota.
Ribuan Titik Perlindungan Tersebar
Alih-alih membangun satu pusat besar, Seoul menyiapkan nyaris 3.000 pusat pendinginan unik lansia dan ribuan "tempat perlindungan iklim" di akomodasi publik. Setiap distrik diwajibkan menyediakan minimal satu shelter darurat nan beraksi pada malam hari. Pemanfaatan balai penduduk dan pusat kesejahteraan memastikan penduduk rentan tidak perlu menempuh jarak jauh untuk mendapatkan udara sejuk.
Deteksi Dini Berbasis AI
Kecanggihan strategi ini terletak pada penggunaan info dan kepintaran buatan (AI) untuk memantau golongan rentan, seperti lansia nan tinggal sendiri dan penunggu rumah semi-basement. Sistem ini tidak hanya memantau suhu, tetapi juga mengintegrasikan akibat banjir mendadak. Teknologi digunakan sebagai perangkat navigasi bagi petugas sosial untuk menentukan prioritas support secara presisi.
Perlindungan Pekerja dan Evaluasi
Pemerintah juga memperketat pengawasan di proyek bangunan dengan menerapkan lima prinsip keselamatan: penyediaan air, tempat teduh, pemantauan kesehatan, serta penyesuaian jam kerja saat suhu mencapai level berbahaya. Meski akomodasi terus ditambah, para mahir menekankan pentingnya perpanjangan jam operasional pada akhir pekan dan sistem pemantauan kesehatan waktu nyata agar mitigasi ini betul-betul efektif saat dibutuhkan. (The Korean Times/Z-10)








English (US) ·
Indonesian (ID) ·