Lebih Efisien, Perusahaan Lokal Tawarkan Model Kepemilikan Penuh Software

1 jam yang lalu 6
Lebih Efisien, Perusahaan Lokal Tawarkan Model Kepemilikan Penuh Software PT Ilmuprogram Teknologi Informasi meluncurkan Ilmuprogram Agentic AI Platform, ialah platform AI enterprise nan menghubungkan AI agent dengan sistem inti perusahaan dan melangkah sepenuhnya di prasarana milik klien.(Dok. PT Ilmuprogram Teknologi Informasi)

BANYAK perusahaan di Indonesia tetap menjalankan proses upaya intinya menggunakan perangkat lunak enterprise dari vendor asing dengan skema lisensi tahunan. Model ini membikin perusahaan terus bayar biaya berulang, sementara kendali atas pengembangan sistem, elastisitas kustomisasi, hingga pengelolaan info sering kali berjuntai pada vendor.

Founder dan Direktur PT Ilmuprogram Teknologi Informasi, Wahyu Amaldi, menilai ketergantungan tersebut menjadi semakin krusial untuk dievaluasi di tengah percepatan mengambil kepintaran buatan (AI) di sektor enterprise.

"Polanya selalu sama. Perusahaan bayar setiap tahun, tetapi ketika mau mengubah proses kerjanya sendiri, mereka kudu menunggu vendor. Sekarang gelombang AI mengulang pola nan sama, dan taruhannya lebih besar. Bukan hanya sistemnya nan disewa, datanya ikut dikirim keluar," kata Wahyu dalam keterangan tertulis, Rabu (12/8).

Menurut Wahyu, penggunaan perangkat lunak enterprise berbasis lisensi dan cloud asing dapat menimbulkan sejumlah konsekuensi, mulai dari biaya operasional nan terus meningkat, keterbatasan dalam menyesuaikan sistem dengan kebutuhan bisnis, hingga tantangan mengenai letak penyimpanan info dan kepatuhan terhadap regulasi. Dalam praktiknya, perusahaan juga dapat menghadapi akibat vendor lock-in, ialah kondisi ketika perpindahan sistem alias integrasi dengan platform lain menjadi susah dan mahal.

Ia menambahkan bahwa setiap industri mempunyai standar kepatuhan nan berbeda, sehingga perusahaan perlu memastikan bahwa pengelolaan info dan sistem informasinya sejalan dengan izin nan berlaku, termasuk UU Perlindungan Data Pribadi (UU No 27/2022) serta standar industri nan relevan.

Berangkat dari kondisi tersebut, PT Ilmuprogram Teknologi Informasi meluncurkan Ilmuprogram Agentic AI Platform, ialah platform AI enterprise nan menghubungkan AI agent dengan sistem inti perusahaan dan melangkah sepenuhnya di prasarana milik klien. Berbeda dengan jasa AI berbasis cloud publik, info perusahaan maupun proses konklusi AI tetap berada di lingkungan perusahaan.

Wahyu mengatakan peluncuran platform ini sejalan dengan prinsip bahwa perusahaan Indonesia perlu mempunyai kendali atas sistem dan datanya sendiri. "Perusahaan Indonesia semestinya mempunyai sistemnya sendiri, bukan menyewanya selamanya," ujarnya.

Selain aspek kedaulatan data, model kepemilikan penuh juga menawarkan potensi efisiensi biaya jangka panjang. Berdasarkan simulasi skematis nan disusun Ilmuprogram untuk perusahaan dengan 100 pengguna, model lisensi tahunan awalnya lebih murah pada dua tahun pertama lantaran biaya penerapan model kepemilikan ditanggung di muka. 

Namun, titik lunas tercapai pada akhir tahun kedua, dan pada akhir tahun ketiga model kepemilikan menjadi lebih murah sekitar 13%, alias sekitar Rp580 juta. Selisih tersebut melebar menjadi sekitar 29% pada tahun kelima, alias sekitar Rp1,87 miliar. Simulasi tersebut menggunakan dugaan lisensi Rp750 ribu per pengguna per bulan, penyesuaian nilai 5% per tahun, serta biaya penerapan dan support dengan parameter tertentu.

"Model kepemilikan tidak selalu lebih murah di tahun pertama, justru biasanya lebih mahal. nan berubah adalah arah biayanya. Langganan naik setiap tahun mengikuti jumlah pengguna dan penyesuaian harga, sementara biaya kepemilikan menurun setelah penerapan selesai," sebut Wahyu.

Ia menegaskan bahwa nomor tersebut merupakan simulasi skematis dengan dugaan tertentu dan bukan hasil pengukuran pada klien. Besaran sebenarnya berjuntai pada jumlah pengguna, cakupan modul, tingkat kustomisasi, serta pilihan infrastruktur.

"Semakin banyak penggunanya dan semakin sering sistemnya perlu diubah, semakin sigap titik impasnya tercapai. Untuk perusahaan mini dengan kebutuhan standar, model langganan bisa saja lebih masuk akal," ujarnya.

Berbeda dengan model berlangganan, seluruh platform Ilmuprogram diserahkan kepada pengguna beserta source code-nya. Pembayaran dilakukan pada masa penerapan tanpa lisensi per pengguna maupun tanggungjawab perpanjangan tahunan. Sistem dapat diimplementasikan di server perusahaan sendiri (on-premise) maupun di jasa cloud pilihan klien.

Dengan model tersebut, perusahaan mempunyai keleluasaan untuk mengaudit sistem, mengembangkan fitur baru berbareng tim internal, alias melanjutkan pengembangan dengan mitra teknologi lain.

"Kalau source code ada di tangan perusahaan, mereka bisa mengauditnya, mengembangkannya dengan tim internal, alias melanjutkannya berbareng vendor lain. Itu nan kami maksud dengan memiliki," ujar Wahyu.

Ilmuprogram Agentic AI Platform berfaedah sebagai lapisan orkestrasi di atas sistem nan sudah digunakan perusahaan. AI agent dapat memahami perintah dalam bahasa natural, mengambil info dari beragam aplikasi enterprise, lampau menjalankan tindakan secara otomatis. Platform ini dapat terhubung dengan sistem Enterprise Asset Management, Spending Management, Budgeting & Planning, CRM, Supply Chain Management, hingga SAP. AI dapat membantu menyusun purchase request, memverifikasi kesiapan anggaran, menerbitkan work order pemeliharaan, serta menjalankan alur kerja lintas aplikasi.

Agentic AI Platform melengkapi portofolio Ilmuprogram nan seluruhnya dikembangkan secara in-house, mencakup delapan platform enterprise utama seperti Enterprise Resource Planning (ERP), Enterprise Asset Management, Spending Management, dan Budgeting & Planning, dua solusi eksekusi lapangan, serta enam solusi industri untuk sektor perkebunan, properti, hulu migas, pertambangan, rumah sakit, dan pendidikan tinggi.

Solusi tersebut dapat diimplementasikan sebagai aplikasi web, aplikasi mobile, maupun ekstensi SAP S/4HANA dengan pendekatan Clean Core nan dirancang agar tetap kondusif terhadap pembaruan sistem.

Produk Ilmuprogram dirancang mengikuti beragam standar dan regulasi, antara lain UU Perlindungan Data Pribadi No. 27 Tahun 2022, IFRS 16/PSAK 73, ISO 55000, HL7 FHIR R4 dan SatuSehat untuk sektor rumah sakit, serta pelaporan PDDIKTI untuk pendidikan tinggi.

Selain mengembangkan perangkat lunak, Ilmuprogram juga menjalankan program pengembangan talenta di bagian full-stack development, SAP Clean Core extension, dan penerapan AI untuk enterprise.

"Kemandirian teknologi tidak berakhir pada perangkat lunaknya. Kalau tidak ada nan bisa merawat dan mengembangkannya di dalam negeri, kepemilikan itu hanya di atas kertas," pungkas Wahyu. (E-1)

Selengkapnya