Jakarta, CNBC Indonesia - Gempa luar biasa berkekuatan Mw7,4 mengguncang wilayah barat Kolombia pada hari Senin pagi (10/8/2026) pukul 07.34 waktu setempat. Hingga saat ini, gempa tersebut dilaporkan menyebabkan 138 orang tewas dan 570-an orang luka-luka. Sementara, ratusan orang juga dilaporkan lenyap dan ribuan gedung rusak.
Episenter gempa nan terjadi pada pukul 19:34:28 WIB itu disebut berlokasi di koordinat 4.844°Lintang Utara dan 76.242° Bujur Barat, tepatnya 5 km di sebelah selatan San José del Palmar, Kolombia. Hiposenter gempa berada pada kedalaman menengah (intermediate-depth), ialah 110,3 km di dalam kerak bumi.
Lantas, apa nan membikin gempa ini begitu merusak padahal pusatnya jauh di dalam perut bumi?
Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) Daryono menjelaskan, gempa bumi ini merupakan manifestasi langsung dari dinamika deformasi internal pada sistem subduksi aktif sepanjang Palung Peru-Chile, di mana Lempeng Samudra Nazca menunjam secara aktif ke bawah Lempeng Benua Amerika Selatan.
Daryono menjelaskan, pelepasan daya tidak terjadi di bagian kontak antarlempeng (interplate interface-megathrust).
Tapi, dipicu deformasi internal, akumulasi regangan mekanis, serta patahan di dalam bagian slab litosfer samudra nan sedang menunjam tersebut.
"Sebagai gempa dalam-lempeng (intraslab earthquake), peristiwa ini mempunyai perilaku perambatan gelombang seismik (ground motion) nan sangat khas," kata Daryono.
Menurut Daryono, gempa di Kolombia tersebut terjadi akibat pelepasan daya (stress release) namun tidak terjadi di bagian kontak antarlempeng (interplate interface-megathrust). Melainkan dipicu oleh deformasi internal, akumulasi regangan mekanis, serta patahan di dalam bagian slab litosfer samudra nan sedang menunjam tersebut.
Sebagai gempa dalam-lempeng (intraslab earthquake), terangnya lagi, peristiwa ini mempunyai perilaku perambatan gelombang seismik (ground motion) nan sangat khas.
"Dalam konteks tatanan tektonik wilayah ini, peristiwa tersebut dipicu oleh pecah alias robeknya bagian internal dari Lempeng Samudra (Nazca Plate) nan tengah menunjam curam ke bawah Lempeng Benua Amerika Selatan di sepanjang sistem subduksi Palung Kolombia-Ekuador-Peru-Chile," tambah Daryono.
"Pada kedalaman menengah sekitar 110 km tersebut, slab litosfer samudra nan kaku, padat, dan relatif dingin mengalami style tarikan gravitasi ke bawah (slab pull) sekaligus tekukan nan ekstrem akibat mencoba menembus lapisan mantel bumi nan lebih panas dan kental," ungkap Daryono.
Tekanan mekanis dan akumulasi regangan regim style tarikan nan masif di dalam tubuh lempeng tersebut, sambungnya, pada akhirnya melampaui pemisah elastisitas batuan.
Kondisi ini lampau memicu terjadinya patahan alias deformasi internal secara tiba-tiba dengan sistem sumber sesar normal (normal faulting) dengan komponen geser (oblique-normal faulting).
Karakteristik pola sistem sumber ini sangat konsisten dengan rezim tegangan ekstensional (down-dip tension) nan lazim ditemukan pada peristiwa gempa intraslab akibat style tarik gravitasi lempeng penunjam (slab pull).
"Deformasi internal nan merobek bagian dalam lempeng penunjam inilah nan kemudian melepaskan gelombang seismik berfrekuensi tinggi, memancarkan guncangan tanah merusak nan merambat sangat efisien hingga menghantam prasarana di permukaan," jelas Daryono.
"Energi seismik nan dilepaskan merambat melalui slab litosfer tersubduksi nan berkarakter kaku, padat, dan relatif dingin. Kondisi material ini menghasilkan tingkat atenuasi gelombang nan sangat rendah, sehingga transmisi daya berfrekuensi tinggi tersebar berjalan secara efisien," paparnya.
Dampak perambatan gelombang geser (S-wave) dan gelombang permukaan kemudian memicu Puncak Percepatan Tanah (Peak Ground Acceleration/PGA) nan tinggi di area terdampak. Gaya inersia mendadak ini bekerja langsung pada massa gedung bertingkat. Serta struktur pasangan batu, memicu kejadian lantai lemah akibat beban lateral nan melampaui kapabilitas komponen penopang utama.
"Ketidakmampuan struktur menahan simpangan antar-lantai (drift) ini bersambung pada keruntuhan progresif alias keruntuhan total secara bertingkat, melontarkan reruntuhan material beton dan bata rentan ke area jalan raya," demikian Daryono menggambarkan pengaruh gempa tersebut.
"Keruntuhan material nan hancur secara mendadak mengompresi udara dan membangkitkan awan debu padat masif nan menyelimuti pemukiman dan persimpangan jalan hingga melumpuhkan jarak pandang. Selain awan debu dan lontaran falling debris, kerentanan area juga diperparah oleh munculnya kejadian kebakaran pada gedung beratap seng akibat rusaknya jalur daya pascaguncangan," sambungnya.
Daryono mengatakan, seluruh rangkaian kerusakan bentuk pada lingkungan terbangun ini secara langsung memicu kepanikan penduduk nan berceceran ke luar gedung untuk menghindari akibat runtuhan susulan. Tapi juga memperumit proses pemindahan berdikari di tengah puing-puing dan kepulan debu pekat.
Indonesia Harus Belajar
Menurut Daryono, peristiwa gempa merusak di Kolombia tidak kali ini saja. Sebagai area seismik aktif dan kompleks, sejarah mencatat Kolombia sudah beberapa kali dilanda gempa merusak.
Berikut 3 kejadian gempa lain nan mengguncang dan merusak di Kolombia:
(1) Gempa Kolombia Mw8,8 tahun 1906: Gempa terkuat di lepas pantai perbatasan Ekuador-Kolombia nan memicu tsunami dan menewaskan hingga 1.500 jiwa
(2) Gempa Cúcuta Mw7,9 tahun 1875: Gempa luar biasa di dekat perbatasan Venezuela nan menyebabkan sekitar 10.000 orang meninggal dunia
(3) Gempa Armenia Mw6,2 tahun 1999: Gempa nan mengguncang area kopi (Eje Cafetero) dan menewaskan lebih dari 1.900 orang
Guncangan gempa tersebut, ujarnya, memberikan pemahaman dan gambaran komprehensif mengenai sistem seismotektonik lempeng penunjam serta dampaknya terhadap kegagalan struktur di area perkotaan.
Rangkaian peristiwa gempa merusak di Kolombia itu, imbuhnya, memberikan pelajaran berbobot bagi Indonesia, nan mempunyai karakter subduksi lempeng serupa di sepanjang Samudra Hindia hingga Indonesia Timur.
"Bahwa ancaman gempa tidak hanya berasal dari area megathrust alias sesar aktif permukaan. Melainkan juga dari kejadian intraslab kedalaman menengah nan bisa memancarkan guncangan berfrekuensi tinggi dengan spektrum wilayah terdampak nan sangat luas," kata Daryono.
"Efisiensi perambatan gelombang seismik nan merusak gedung non-standar hingga memicu kegagalan struktur seperti soft-story collapse menegaskan pentingnya audit ketat terhadap standar gedung tahan gempa, pemetaan akibat seismik nan mencakup sumber dalam-lempeng, serta penguatan kesiapsiagaan masyarakat menghadapi akibat sekunder seperti runtuhan material dan potensi kebakaran di area perkotaan padat," tegas Daryono.
Suasana pasca gempa bumi, di Cali, Kolombia, Senin (10/8/2026). (REUTERS/Christian EscobarMora) Foto: REUTERS/Christian EscobarMora
(dce/dce)
[Gambas:Video CNBC]

1 jam yang lalu
4








English (US) ·
Indonesian (ID) ·