Atlet loncat bagus putri Indonesia Gladies Lariesa Garina melakukan loncatan saat final loncat bagus nomor menara 10 meter putri pada SEA Games 2023 di Aquatics Center, Morodok Techo National Stadium, Kamboja, Rabu (10/5/2023).(ANTARA/Muhammad Adimaja)
TIMNAS loncat indah Indonesia mulai menyusun strategi baru dengan memetakan nomor-nomor potensial untuk meraih lencana emas pada SEA Games 2027 di Malaysia. Langkah ini diambil setelah skuad Merah Putih dipastikan tidak bakal berperan-serta dalam arena Asian Games Aichi-Nagoya 2026.
Wakil Ketua Komisi Teknik Loncat Indah Akuatik Indonesia, Ronaldy Herbintoro, menjelaskan bahwa saat ini federasi tengah menghitung kekuatan atlet guna menentukan nomor prioritas. Meski sasaran utama telah ditetapkan, program pemusatan latihan nasional (pelatnas) untuk arena tersebut belum dimulai.
“Untuk Asian Games kali ini kami belum ikut. Persiapan sekarang diarahkan ke SEA Games 2027 di Malaysia. Kami tetap menghitung nomor apa saja nan bakal diikuti dan nomor mana nan diprediksi berkesempatan meraih lencana emas,” ujar Ronaldy di Jakarta, Selasa (11/8).
Fokus Peningkatan Daya Saing
Keputusan untuk konsentrasi pada SEA Games 2027, nan dijadwalkan berjalan pada 18-29 September 2027, didasari oleh kemauan untuk meningkatkan daya saing Indonesia di level Asia Tenggara. Pada jenis SEA Games 2025 di Thailand sebelumnya, Indonesia hanya bisa membawa pulang satu lencana perunggu.
Medali tersebut diraih oleh pasangan Gladies Lariesa Garina Haga Kore dan Linar Betiliana. Berikut adalah rincian capaian terakhir atlet loncat bagus Indonesia di arena internasional:
| SEA Games 2025 Thailand | Gladies Lariesa & Linar Betiliana | Sinkronisasi Putri (211,74 poin) | Medali Perunggu |
| Asian Games Hangzhou 2022 | Gladies Lariesa Garina | Papan 1 Meter Putri | Peringkat 12 |
| Papan 3 Meter Putri | Peringkat 8 |
Pematangan Mental dan Jam Terbang
Ronaldy menekankan bahwa meskipun tidakhadir di Asian Games 2026, latihan para atlet tidak boleh terhenti. Menurutnya, pembinaan jangka panjang tetap melangkah agar performa atlet tidak menurun. Ia mengakui bahwa persaingan di level Asia memang sangat berat, terutama dengan kekuasaan negara-negara seperti China, Jepang, dan Korea Selatan.
Selain aspek bentuk dan teknik, tantangan terbesar atlet Indonesia saat ini adalah kematangan mental bertanding. Ronaldy menilai jam terbang di kejuaraan internasional menjadi kunci utama untuk membentuk mentalitas juara.
“Secara teknik dan bentuk kita bisa bersaing, tapi mental itu kudu dibentuk lewat pertandingan. Makin sering ikut kejuaraan internasional, makin matang mental atlet,” pungkasnya. (Ant/Z-1)









English (US) ·
Indonesian (ID) ·