Longsor Salju di Gununng Board Peak Pakistan Tewaskan Nirmal 'Nimsdai' Purja dan 9 Pendaki Lainnya

57 menit yang lalu 2
Longsor Salju di Gunung Board Peak Pakistan Tewaskan Nirmal 'Nimsdai' Purja dan 9 Pendaki Lainnya Nirmal “Nimsdai” Purja(Doc IG Nirmal Purja)

DUNIA pendakian gunung bersungkawa setelah berita meninggalnya Nirmal “Nimsdai” Purja, pendaki asal Nepal nan dikenal sebagai salah satu alpinis terbaik dunia. Purja tewas setelah menjadi salah satu dari 11 pendaki nan terkena longsoran salju mematikan di Gunung Broad Peak, Pakistan.

Purja meninggal bumi saat memimpin ekspedisi nan melibatkan 10 pendaki lainnya di gunung dengan ketinggian 8.047 meter tersebut. Longsoran terjadi pada Kamis sekitar tengah hari waktu setempat ketika tim berada di jalur pendakian menuju puncak Broad Peak.

Perusahaan ekspedisi nan didirikan berbareng Purja, Elite Exped, mengonfirmasi berita duka tersebut melalui sebuah pernyataan.

“Dengan kesedihan mendalam dan hati nan hancur, hari ini kami mengonfirmasi bahwa Nirmal ‘Nimsdai’ Purja secara tragis kehilangan nyawanya setelah longsoran di Broad Peak,” tulis Elite Exped.

Perusahaan tersebut juga menyampaikan bahwa beberapa personil ekspedisi lainnya turut meninggal dunia, meskipun tidak memberikan rincian komplit mengenai jumlah korban.

Pendaki nan Mengukir Sejarah Dunia

Nirmal Purja dikenal luas setelah mencetak sejarah pada 2019 dengan mendaki 14 gunung tertinggi di bumi nan mempunyai ketinggian lebih dari 8.000 meter dalam waktu hanya sedikit lebih dari enam bulan.

Pencapaian tersebut menjadikannya salah satu pendaki paling berpengaruh dalam sejarah dunia. Ia juga menjadi pemimpin tim pertama nan sukses mencapai puncak K2, gunung tertinggi kedua di dunia, saat musim dingin.

Dalam wawancara dengan The Guardian pada 2019, Purja pernah mengatakan bahwa rekor selalu bisa dipecahkan oleh generasi berikutnya.

“Suatu hari seseorang bakal datang dan menjadi lebih kuat. Manusia hanya dibatasi oleh khayalan mereka. Jika tidak bermimpi, maka tidak bakal pernah melakukannya. Manusia bisa melakukan hal-hal luar biasa,” ujar Purja.

Korban Lain dalam Ekspedisi Broad Peak

Ekspedisi tersebut melibatkan lima pendaki asal Nepal serta sejumlah pendaki dari Amerika Serikat, Pakistan, Oman, dan China.

Elite Exped juga mengonfirmasi meninggalnya dua rekan pendakian dan pemandu Purja, ialah Pur Bahadur Gurung (Yukta), penduduk Nepal, serta Nima Sherpa.

“Kami menyampaikan doa, pikiran terdalam, dan belasungkawa tulus kepada keluarga, teman, dan orang-orang terkasih mereka. Tidak ada kata-kata nan dapat menghapus rasa sakit akibat kehilangan nan tidak terbayangkan ini,” kata Elite Exped.

Pada Jumat, tim penyelamat menyatakan telah menemukan empat jenazah dan tetap berupaya mengevakuasi korban meski menghadapi kondisi cuaca ekstrem.

Di antara korban nan ditemukan terdapat Nadhira Alharthy, pendaki asal Oman nan menjadi wanita Oman pertama nan sukses mencapai puncak Everest, serta pendaki asal Amerika Serikat, Mallory Geis.

Data GPS Ungkap Detik-Detik Longsor

Pelacak GPS nan dibawa para pendaki menunjukkan adanya penurunan ketinggian secara cepat, nan mengindikasikan bahwa mereka kemungkinan tersapu longsoran.

Data pencari Purja menunjukkan perubahan letak setelah penurunan drastis pertama. Berdasarkan info GPS, longsoran diduga terjadi sekitar pukul 09.00 waktu setempat pada ketinggian 6.579 meter, di antara Kamp 2 dan Kamp 3 pada jalur punggungan barat Broad Peak, salah satu rute pendakian paling populer.

Sosok nan Dikenang Dunia

Kabar meninggalnya Purja mendapat perhatian dari beragam kalangan, termasuk petualang Inggris Bear Grylls. Ia menyebut kematian Purja sebagai berita nan “menghancurkan hati” bagi banyak pendaki di seluruh dunia.

Purja dan Grylls sebelumnya terlibat dalam dokumenter Finding Michael pada 2023, ketika keduanya berupaya menemukan dan membawa pulang jenazah Michael Matthews, pendaki Inggris termuda nan mencapai Everest sebelum menghilang di gunung tersebut pada 1999.

Sebelum dikenal sebagai pendaki ekstrem, Purja merupakan personil militer Inggris selama 16 tahun, termasuk 10 tahun bekerja di pasukan khusus. Pada 2018, dia dianugerahi penghargaan MBE oleh Kerajaan Inggris atas kontribusinya dalam bumi pendakian gunung ekstrem.

Dikenal lantaran Keberanian Menyelamatkan Pendaki Lain

Selain prestasi pendakiannya, Purja juga dikenal lantaran keberaniannya membantu sesama pendaki dalam situasi berbahaya.

Salah satu tindakan heroiknya terjadi saat dia turun dari Gunung Annapurna. Purja memimpin operasi pengamanan terhadap pendaki Chin Wui Kin nan terpisah dari rombongannya dan memperkuat tanpa makanan, air, serta oksigen selama sekitar 40 jam. Pendaki tersebut kemudian meninggal bumi di rumah sakit.

Kurang dari sebulan kemudian, Purja dan timnya kembali menyelamatkan dua pendaki di ketinggian sekitar 8.400 meter dengan memberikan sebagian persediaan oksigen mereka sendiri.

“Bagi saya, ini bukan tentang ego. Ini tentang prinsip. Anda tidak bisa menyebut diri sebagai pendaki jika tidak membantu dalam situasi seperti itu,” ujar Purja dalam wawancara sebelumnya.

Pangeran William Sampaikan Duka

Pangeran Wales menyampaikan rasa sedih mendalam atas meninggalnya Nirmal Purja. Ia menyebut Purja sebagai sosok nan telah mengabdi dengan penuh kehormatan sebelum menjadi salah satu pendaki gunung terbesar di dunia.

Kepergian Nirmal Purja meninggalkan kehilangan besar bagi bumi pendakian internasional. Namanya bakal tetap dikenang sebagai sosok nan tidak hanya memecahkan rekor, tetapi juga menunjukkan keberanian, kepedulian, dan semangat kemanusiaan di tengah kondisi paling ekstrem. (Z-4)

Sumber: theguardian

Selengkapnya