Lupakan Boeing-Airbus, 'Raja Langit' China Resmi Meluncur ke Dunia

55 menit yang lalu 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Pesawat jet penumpang C919 buatan China mencatat sejarah dengan menjalani penerbangan komersial internasional teragendakan pertamanya pada Rabu. Langkah ini menjadi tonggak krusial bagi upaya Beijing menantang kekuasaan Boeing dan Airbus di pasar pesawat penumpang global.

Berdasarkan info FlightRadar24, pesawat nan dioperasikan Air China itu lepas landas dari Bandara Internasional Ibu Kota Beijing menuju Ulaanbaatar, Mongolia, sekitar pukul 15.00 waktu setempat. "Raja langit" dari China itu kemudian mendarat sekitar dua jam kemudian.


Rute Beijing-Ulaanbaatar tersebut dijadwalkan beraksi setiap hari dan menjadi penerbangan pertama C919 ke luar wilayah China. Penerbangan ini sekaligus mempertegas ambisi Commercial Aircraft Corporation of China (COMAC) untuk menjadi penantang Boeing asal Amerika Serikat (AS) dan Airbus asal Eropa. 

Meski begitu, analis Mercator Institute for China Studies (MERICS), Andreas Mischer, menilai C919 tetap menghadapi ketergantungan besar terhadap komponen asing. "Produksi jet penumpang berbadan sempit C919 milik COMAC tetap sangat berjuntai pada pemasok asing," tegas Mischer, seperti dikutip CNBC International, Kamis (13/8/2026). 

Salah satu komponen nan diimpor antara lain mesin. Pesawat tetap menggunakan mesin CFM International dari perusahaan patungan GE Aerospace AS dan Safran Aircraft Engines Prancis.

Sebenarnya C919 sendiri merupakan pesawat lorong tunggal (narrow-body) nan dapat mengangkut hingga 174 penumpang dan menyasar segmen nan sama dengan Boeing 737 MAX serta Airbus A320neo. Meski telah mengantongi pesanan dalam jumlah besar, terutama dari maskapai dan perusahaan penyewaan pesawat China, keahlian produksi COMAC tetap jauh di bawah dua raksasa industri tersebut.

Mischer mengatakan COMAC baru mengirimkan 32 unit C919 hingga akhir 2025, sementara Airbus mengirimkan sekitar 100 pesawat lorong tunggal ke China hanya sepanjang tahun nan sama. COMAC kemudian mengirimkan delapan C919 tambahan pada paruh pertama 2026, tetapi nomor tersebut tetap jauh dari sasaran produksi 200 pesawat per tahun pada 2029.

Meski begitu, Mischer menilai C919 tetap merupakan pencapaian krusial lantaran keahlian mengintegrasikan beragam komponen, sistem, dan perangkat lunak menjadi pesawat jet penumpang. Hal ini merupakan skill nan hanya dikuasai segelintir produsen di dunia, terutama Boeing dan Airbus.

Sementara itu, analis lain menilai, tantangan COMAC bukan hanya meningkatkan produksi. Tetapi juga, membangun kepercayaan maskapai dan memastikan support operasional setelah pesawat mengudara.

"Laju pengembangan dan produksi COMAC terlalu lambat untuk dapat betul-betul bersaing dengan Boeing dan Airbus, meski C919 berpotensi menggerus penjualan kedua produsen tersebut di pasar China," kata analis penerbangan Rob Morris.

"Berapa banyak komponen nan dibutuhkan untuk membikin sebuah pesawat? Jawabannya adalah semuanya," ujar analis penerbangan lain, Richard Aboulafia dari AeroDynamic Advisory, menyebut rantai pasok juga menjadi persoalan besar. 

(tfa/sef) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya