Warga Pulau Sukun, Desa Samparong, Kecamatan Alok, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), mengungsi ke dataran tinggi dan tetap tidur berdempetan di tenda.(Dok Istimewa)
CAHAYA lampu memantul di terpal biru nan membentuk tembok tenda nan dibangun di dataran tinggi Pulau Sukun, Desa Samparong, Kecamatan Alok, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT). Di dalamnya, tubuh-tubuh penduduk berebahan rapat. Anak-anak, perempuan, dan laki-laki tidur berasaskan tikar dan perlengkapan seadanya.
Sebagian memeluk peralatan nan sempat dibawa dari rumah ketika mereka mengungsi pascagempa magnitude, 7,7 pada Sabtu (15/8) pagi. Sebenarnya, rumah-rumah mereka sebenarnya tetap berdiri. Tidak ada laporan kerusakan berat. Hanya retakan ringan di sejumlah bangunan.
Namun, bagi warga, retakan di tembok bukan satu-satunya argumen untuk pergi. Gempa susulan nan tetap terasa membikin rasa kondusif ikut runtuh. Maka di dataran nan lebih tinggi tersebut, tenda-tenda darurat didirikan. Sebanyak 640 penduduk dari 310 family sekarang memperkuat di sana.
Pada malam hari, tenda menjadi ruang berbareng untuk tidur. Tak ada kamar, tak ada sekat nan cukup. Semua berdekatan, mencoba beristirahat setelah melewati hari-hari nan diliputi kewaspadaan.
"Mereka tinggal di tenda, di dataran tinggi, di sekitar area perbukitan," kata mantan Kepala Desa Samparong, Darmsyah Putra, kepada Media Indonesia.
Di Luar Tenda, Kehidupan Terus Berjalan
Sementara itu, di suatu perspektif letak pengungsian, dua wanita duduk di tanah. Di hadapan mereka, panci dan sejumlah peralatan masak tersusun di antara ember, jeriken, dan wadah plastik. Di bawah penerangan seadanya, mereka menyiapkan makanan untuk keluarga.
Tanah terbuka itu menjadi tempat memasak. Malam menjadi waktu untuk menyelesaikan pekerjaan nan sebelumnya biasa dilakukan di rumah. Pemandangan seperti itu memperlihatkan gempabumi telah mengubah kehidupan penduduk Pulau Sukun dalam sekejap.
Siang dan malam sekarang mereka habiskan di luar rumah. Tenda darurat menjadi tempat tidur, sementara ruang terbuka menjadi tempat memasak dan menjalani kebutuhan sehari-hari.
Akan tetapi, persoalan nan dihadapi penduduk tidak hanya datang berbareng gempa. Di tengah pengungsian, kebutuhan paling mendesak justru adalah air minum dan air bersih. Kebutuhan itu semakin besar ketika ratusan orang berkumpul dan tinggal berbareng di letak pengungsian.
"Kebutuhan mendesak masyarakat di Pulau Sukun itu kekurangan air minum, termasuk MCK. Air untuk minum dan air bersih itu nan memang menjadi hambatan dasar di Samparong," kata Darmsyah.
Bagi penduduk Pulau Sukun, kekurangan air sebenarnya bukan persoalan baru. Sebelum bumi berguncang, mereka sudah terbiasa menghadapi keterbatasan air minum dan air bersih. Gempa hanya membikin persoalan lama itu semakin berat.
Di letak pengungsian, air dibutuhkan untuk nyaris semua hal. Untuk minum, memasak, hingga kebutuhan mandi dan mencuci. Ketika seluruh penduduk berada di tempat nan sama, kebutuhan itu menjadi jauh lebih besar.
Bantuan sudah Tiba
Setelah lima hari pascagempa, pada Rabu (19/8) malam, logistik dari BPBD Kabupaten Sikka dikirim ke Pulau Sukun menggunakan kapal milik warga. Bahan makanan dibawa menyeberangi laut menuju pulau tersebut.
Namun, kebutuhan air bersih dan air minum belum sepenuhnya teratasi, termasuk persoalan komunikasi. "Kalau mau telepon, kami kudu naik ke bukit," jelasnya.
Pulau Sukun merupakan satu pulau nan seluruh wilayahnya menjadi Desa Samparong. Letaknya sekitar 54 mil laut dari Maumere dan sekitar 32 mil dari Pulau Palue. Jarak dan kondisi geografis membikin akses ke pulau itu tidak selalu mudah, terutama dalam situasi darurat.
Di pulau itu, penduduk juga hidup dengan keterbatasan jaringan telepon seluler. BTS nan pernah tersedia beberapa tahun lampau sekarang tidak lagi berfungsi. Ketika memerlukan sinyal, penduduk kudu mencari tempat nan lebih tinggi.
"Pemancar Telkomsel tidak ada. Memang dua-tiga tahun lampau ada BTS, tetapi kendalanya tidak bisa berfaedah maksimal, apalagi sudah nonaktif," tutur Darmsyah.
Keterbatasan tersebut menjadi persoalan serius ketika gempa datang. Informasi mengenai kondisi penduduk dan kebutuhan pengungsi tidak selalu dapat segera disampaikan. Dalam keadaan darurat, ketika komunikasi menjadi salah satu kebutuhan utama, penduduk justru kudu mencari sinyal ke puncak bukit.
Darmsyah berambisi persoalan jaringan telekomunikasi di Pulau Sukun mendapat perhatian. Bagi warga, sinyal bukan lagi sekadar kebutuhan untuk berbincang dengan keluarga, tetapi juga menjadi jalan untuk menyampaikan berita dan meminta pertolongan ketika keadaan darurat datang.
Malam terus melangkah di perbukitan Desa Samparong. Di dalam tenda, penduduk mencoba tidur. Di luar, sebagian tetap menyiapkan makanan dan membereskan kebutuhan keluarga. Cahaya lampu menjadi salah satu penanda kehidupan di tengah gelapnya malam. (I-2)









English (US) ·
Indonesian (ID) ·