Manufaktur Thailand Tertekan, Produksi Mobil Anjlok Parah

1 jam yang lalu 2
ARTICLE AD BOX

Jakarta, CNBC Indonesia - Sektor manufaktur Thailand tetap menghadapi tekanan. Produksi pabrik Negeri Gajah Putih tercatat kembali menyusut pada Mei 2026, dengan penurunan nan lebih dalam dari perkiraan analis, menunjukkan pemulihan industri nan tetap rapuh.

Kementerian Perindustrian Thailand pada Selasa (30/6/2026) melaporkan indeks produksi manufaktur turun 0,8% secara tahunan (year-on-year/yoy) pada Mei. Angka ini lebih jelek dibandingkan proyeksi ahli ekonomi dalam jajak pendapat Reuters nan memperkirakan penurunan hanya 0,34%.

Meski demikian, kontraksi tersebut sedikit lebih baik dibandingkan revisi penurunan 0,94% nan terjadi pada April. Pemerintah Thailand menyebut pelemahan sektor manufaktur terutama dipicu oleh merosotnya produksi otomotif serta tekanan inflasi nan tetap tinggi.

Data Federasi Industri Thailand menunjukkan produksi kendaraan ambruk 17,94% pada Mei dibandingkan periode nan sama tahun lalu. Selain itu, ketegangan geopolitik nan tetap berjalan turut membebani industri.

Konflik tersebut mendorong kenaikan biaya energi, transportasi, serta mengganggu pengadaan sejumlah bahan baku impor. Sehingga meningkatkan biaya produksi dan logistik bagi pelaku manufaktur.

Di sisi lain, pemerintah menilai sejumlah aspek tetap menopang aktivitas industri, termasuk beragam stimulus ekonomi nan digelontorkan pemerintah serta keahlian ekspor nan tetap kuat. Kementerian Perindustrian Thailand tetap mempertahankan proyeksi pertumbuhan produksi manufaktur sebesar 1%-2%sepanjang 2026.

Pekan lalu, bank sentral Thailand juga memutuskan mempertahankan suku kembang acuannya. Otoritas moneter apalagi meningkatkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Thailand tahun 2026 menjadi 2,3%, didorong oleh prospek ekspor nan diperkirakan melonjak 14% sepanjang tahun.

(sef/sef)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya