Marak Proyek TOD di Jakarta, Begini Efek Dahsyatnya

1 jam yang lalu 7

Jakarta, CNBC Indonesia - Head of Research & Consulting CBRE Indonesia, Anton Sitorus memandang konsep Transit-Oriented Development (TOD) nan marak tengah dibangun di Jakarta menjadi perihal nan krusial bagi semua pihak, baik pemerintah, swasta, konsumen, developer dan semua pemangku kepentingan di industri properti.

Selama ini, TOD hanya dianggap sebagai sarana prasarana semata, padahal konsep tersebut berpotensi menciptakan pertumbuhan baru baik dari segi ekonomi maupun urban. Mengingat, TOD sendiri merupakan konsep pembangunan area nan menghubungkan transportasi publik dengan hunian, gedung kantor, pusat perbelanjaan, maupun area komersial dalam satu area nan saling terintegrasi.

Saat ini, peran TOD bukan hanya menawarkan integrasi prasarana transportasi publik. Pada dasarnya, konsep TOD telah berkembang menjadi kunci untuk menciptakan nilai tambah bagi area dan meningkatkan nilai properti.

"Tapi, dengan kondisi pasar, tren nan ada saat ini, dan gimana ekonomi dan industri seperti ini bakal berkembang ke depan. Kita memandang bahwa TOD ini nantinya nggak hanya sebagai prasarana transportasi, tapi bisa menjadi penggerak alias aspek nan membentuk value daripada property. Jadi from transportation infrastructure to property value creation dan ini sebenarnya sudah terjadi di banyak negara maju, Singapura, Hong Kong, dan golongan lain," ujar dia dikutip, Sabtu (1/8/2026).

Bukan hanya menciptakan pusat pertumbuhan baru, TOD juga diyakini dapat mendukung program pemerintah dalam meningkatkan keterjangkauan hunian. Dalam perihal ini, pemerintah memberikan sejumlah insentif bagi developer nan membangun proyek TOD, salah satunya melalui peningkatan Koefisien Lantai Bangunan (KLB).

Dari situ, developer dapat membangun gedung lebih tinggi. Alhasil, jumlah unit kediaman bakal bertambah, sedangkan efisiensi proyeknya turut meningkat.

Anton menyebutkan, TOD juga dipandang sebagai solusi menghadapi tantangan perkembangan Jakarta nan tidak lagi memungkinkan untuk terus melebar alias urban sprawl. Dengan kata lain, pengembangan area nan lebih padat diharapkan bisa mengurangi nomor kemacetan hingga polusi.

Lebih jauh, Anton bilang, konsep TOD tidak hanya berfaedah bagi sektor hunian, tetapi juga bisa juga dirasakan oleh sejumlah perkantoran dan pusat ritel. Dalam perihal ini, gedung perkantoran nan terhubung dengan transportasi publik lebih menarik sumber daya manusia (SDM), khususnya bagi generasi muda nan kerap kali menggunakan pikulan umum.

"Jadi perusahaan-perusahaan saat ini, jika misalnya mau mengincar karyawan-karyawan milenial alias Gen Z gitu ya kan banyak nan sudah berpikir "Aduh, daripada bawa mobil macet pengennya nan punya transportasi publik". Dengan TOD itu membikin gedung-gedung instansi nan ada di wilayah CBD itu mempunyai kelebihan, jadi dengan aksesibilitas nan lebih bagus bakal meng-attract talent buat kantor-kantor," kata dia.

Di samping itu, Anton menjelaskan, pusat perbelanjaan nan terhubung dengan konsep TOD, berpotensi mengalami peningkatan jumlah kunjungan sehingga memberikan nilai tambah bagi area tersebut. Ia juga memperkirakan kenaikan properti di Jakarta bakal semakin dibayangi oleh kualitas akses transportasi daripada posisi lokasi. Artinya, area nan mempunyai akses transportasi terbaik berpotensi menjadi pusat pertumbuhan baru maupun magnet investasi di industri properti.

"Jadi mixed use, perpaduan sejumlah segmen. Jadi istilahnya work, play, shop, eat, sleep, whatever, semua in one place gitu jadi mixed use. Kesimpulannya tadi kita berbincang mengenai kondisi ekonomi, bisnis, growth remain intact gitu ya, tapi mobility, mobilitas itu menjadi lebih valuable, menjadi lebih krusial dan disinilah TOD bisa meningkatkan posisi Jakarta dalam pengembangan ke depan, dalam aspek pengembangan urban," tandas dia.

(wur/wur) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya