Dewan Penasehat Pengurus Pusat Persatuan Umat Islam Indonesia (PP PUI) Prof KH Achmad Tjachja Nugraha.(Dok.Istimewa)
PERINGATAN Maulid Nabi Muhammad SAW nan bertepatan dengan suasana seremoni kemerdekaan Indonesia dinilai menjadi momentum untuk merefleksikan kembali makna perjuangan, kemerdekaan, dan keteladanan Rasulullah SAW dalam kehidupan berbangsa.
Dewan Penasehat Pengurus Pusat Persatuan Umat Islam Indonesia (PP PUI) Achmad Tjachja Nugraha Selasa (25/8) menyatakan Maulid Nabi tidak semestinya berakhir pada aktivitas seremonial. Peringatan tersebut kudu menjadi momentum memperbaiki adab sekaligus memperkuat semangat kebangsaan. Rasulullah SAW memberikan keteladanan dalam membangun masyarakat melalui kejujuran, amanah, persaudaraan, keadilan, kasih sayang, serta kepedulian terhadap sesama dan lingkungan.
“Maulid Nabi kudu kita maknai sebagai momentum untuk kembali kepada keteladanan Rasulullah. Bukan hanya mengingat kelahiran beliau, tetapi gimana akhlak, perjuangan, dan kepemimpinan beliau kita hadirkan dalam kehidupan sehari-hari,” tuturnya.
Achmad menilai pesan tersebut semakin relevan ketika dikaitkan dengan momentum kemerdekaan. Perjuangan para pahlawan, lanjutnya, tidak cukup hanya dikenang melalui upacara dan aktivitas seremonial, tetapi kudu diwujudkan melalui pembangunan nan berorientasi pada pembentukan karakter dan akhlak.
“Kalau kita mau mengisi kemerdekaan dengan benar, salah satu modal terbesarnya adalah akhlak. Kemerdekaan tanpa adab dapat kehilangan arah. Kekuasaan tanpa amanah dapat melahirkan ketidakadilan. Ilmu tanpa adab juga dapat disalahgunakan,” terangnya.
Achmad mengingatkan empat sifat Rasulullah SAW, ialah siddiq, amanah, tabligh, dan fathanah, perlu diterjemahkan dalam kehidupan modern. Siddiq berfaedah menjunjung kejujuran, amanah berarti dapat dipercaya dan bertanggung jawab. Tabligh berfaedah menyampaikan kebenaran dan kebaikan, sedangkan fathanah mencerminkan kepintaran nan disertai kebijaksanaan.
“Empat sifat itu jangan hanya kita hafalkan. Harus menjadi karakter. Kejujuran kudu menjadi budaya, amanah kudu menjadi prinsip dalam menjalankan tugas, kepintaran kudu digunakan untuk kemaslahatan dan setiap kebaikan kudu disampaikan kepada masyarakat,” tandasnya.
Selain persoalan akhlak, Achmad menekankan pentingnya keteladanan Rasulullah SAW dalam menjaga keseimbangan alam. Semangat mengisi kemerdekaan kudu diwujudkan melalui pemanfaatan sumber daya alam secara optimal tanpa mengorbankan kelestarian lingkungan.
“Alam adalah untuk kita saat ini dan untuk anak cucu kita di masa depan. Jangan sampai kemerdekaan hanya menjadi kebanggaan sejarah, tetapi tidak menghasilkan perubahan nyata bagi masyarakat, apalagi sampai merusak alam,” ucapnya.
MENJAGA PERSATUAN
Achmad juga mengingatkan pentingnya menjaga persatuan di tengah keberagaman Indonesia. Perbedaan suku, budaya, bahasa, pandangan, dan latar belakang semestinya menjadi kekuatan bangsa, bukan pemicu perpecahan. Rasulullah SAW, telah memberikan teladan mengenai kehidupan masyarakat nan dibangun atas dasar persaudaraan, keadilan, dan sikap saling menghormati. Nilai-nilai tersebut dinilai tetap relevan untuk diterapkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
“Jangan lantaran perbedaan pilihan, kepentingan, kemauan alias pandangan menjadikan persaudaraan kita rusak. Kita kudu belajar dari Rasulullah gimana membangun kehidupan berbareng dengan keadilan, persaudaraan, dan kebijaksanaan,” jelasnya.
Karena itu lanjut Achmad, Maulid Nabi juga dapat dijadikan momentum untuk mengevaluasi sejauh mana keteladanan Rasulullah SAW telah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, terutama oleh generasi muda. Indonesia memerlukan manusia-manusia, generasi muda ke depan, nan merdeka pikirannya, kuat imannya, baik akhlaknya, dan besar kepeduliannya kepada sesama juga alam lingkungan. Itulah salah satu langkah untuk menghormati perjuangan para pahlawan sekaligus meneladani Rasulullah SAW. (E-2)









English (US) ·
Indonesian (ID) ·