Menantu Trump Sebut Dialog AS dan Iran Kini Jauh Lebih Intens

58 menit yang lalu 1
Menantu Trump Sebut Dialog AS dan Iran Kini Jauh Lebih Intens Utusan Khusus AS Jared Kushner mengungkapkan komunikasi Washington dan Iran meningkat pesat di tengah upaya menyepakati perjanjian baru untuk mengakhiri konflik.(ANTARA/Ist)

UTUSAN Khusus Amerika Serikat (AS), Jared Kushner, nan juga menantu Presiden AS Donald Trump mengungkapkan bahwa komunikasi antara Washington dan beragam pihak dalam pemerintahan Iran sekarang berjalan lebih intens jika dibandingkan dengan sebelumnya. Kedua negara dilaporkan terus melakukan perbincangan aktif di tengah ketegangan regional nan tetap berlangsung.

"Saya bakal mengatakan bahwa percakapan antara pemerintah AS dan beragam pihak dalam pemerintahan Iran di semua bagian mungkin lebih intens dibandingkan sebelumnya. Jadi, telah ada banyak perbincangan nan baik," ujar Kushner dalam wawancara dengan Fox News, Senin (17/8).

Kushner menjelaskan bahwa proses perundingan bakal terus berlanjut. Ia menekankan bahwa Presiden AS Donald Trump memilih untuk bersikap sabar dan tidak mau terburu-buru dalam mencapai kesepakatan. Trump disebut sedang menunggu momentum nan tepat untuk menghasilkan perjanjian nan sesuai dengan kepentingan Washington.

"Presiden Trump bakal bersabar. Dia bakal membikin kesepakatan nan tepat ketika waktunya sudah tepat. Namun, kami sedang melakukan pembicaraan nan sangat positif dan aktif," tambah Kushner.

Hubungan kedua negara sempat memanas setelah Trump menyatakan pada 8 Juli bahwa gencatan senjata nan dicapai pada 18 Juni tidak lagi berlaku. Sejak pernyataan itu, militer AS melalui Komando Pusat (CENTCOM) melancarkan sejumlah serangan terhadap Iran sebagai respons atas tindakan Teheran terhadap kapal komersial di Selat Hormuz.

Iran membalas tindakan tersebut dengan menyerang pangkalan-pangkalan militer AS di Timur Tengah dan menuduh Washington melanggar kesepakatan. Meski demikian, dalam beberapa pekan terakhir, kedua pihak dengan support mediator dari Timur Tengah berupaya menyusun ketentuan perjanjian baru guna mengakhiri perang.

Pada 9 Agustus lalu, Trump sempat menyebut negosiasi dengan Teheran berjalan dengan kecepatan nan "setengah hati". Di sisi lain, Washington terus memantau kondisi ekonomi Iran nan dilaporkan semakin memburuk di tengah tekanan diplomatik dan hukuman nan ada. (Sputnik/RIA Novosti-OANA/Ant/I-1)

Selengkapnya