loading...
Harryanto Aryodiguno, Associate Professor of International Relations, President University. Foto/Dok.SindoNews
Harryanto Aryodiguno
Associate Professor of International Relations, President University
BEBERAPA waktu lalu, seorang kawan menceritakan kepada saya bahwa keluarganya akhirnya menemukan kembali kerabat nan selama ini apalagi tidak pernah mereka kenal. Mendengar ceritanya, saya spontan berbicara sembari bercanda, “Bukankah ini seperti Dear You dalam kehidupan nyata?”
Kebetulan kami memang sedang berbincang tentang Dear You, movie nan beberapa waktu lampau juga pernah saya tulis lantaran perdebatan mengenai identitas dan politik nan mengitarinya.
Namun kali ini saya tidak mau berbincang tentang politik.
Saya justru mau berbincang tentang sesuatu nan jauh lebih sederhana: keluarga, kasih sayang, dan kemauan manusia untuk mengetahui dari mana dirinya berasal.
Ketika Sejarah Memisahkan Sebuah Keluarga
Kakek kawan saya adalah anak tunggal dalam keluarganya. Pada suatu masa, dia meninggalkan Tiongkok dan merantau ke Indonesia.
Kita nan hidup pada era sekarang mungkin susah membayangkan apa makna “merantau” pada masa itu. Hari ini Jakarta dan kota-kota di Tiongkok hanya dipisahkan beberapa jam penerbangan. Kita mempunyai WhatsApp, WeChat, video call, media sosial, dan beragam teknologi pencarian.
Dahulu, keadaannya sama sekali berbeda.
Bencana besar, peperangan, perubahan politik, perpindahan penduduk, dan apalagi sekadar perubahan alamat dapat membikin hubungan sebuah family terputus selama puluhan tahun.
Itulah nan terjadi pada family kawan saya.
Sang kakek nan telah berada di Indonesia kehilangan hubungan dengan keluarganya di Tiongkok. Tahun demi tahun berlalu. Generasi berganti. Orang-orang nan dulu saling mengenal meninggal dunia, sementara generasi berikutnya lahir tanpa pernah berjumpa satu sama lain.
Akan tetapi, ada sesuatu nan rupanya tidak ikut hilang: ingatan bahwa di tempat nan jauh sana pernah ada keluarga.
Dukungan Tidak Selalu Berbentuk Uang
Ada satu perihal nan membikin saya semakin tersentuh ketika mendengar beragam kisah family diaspora semacam ini.
Sejak era leluhur, mereka sebenarnya telah saling membantu.
Kadang support itu memang berupa uang. Seorang perantau nan hidup pas-pasan di Nanyang tetap menyisihkan hasil jerih payahnya untuk dikirim kepada family di kampung halaman.
Namun jika kita hanya memandang nominal uangnya, kita mungkin kehilangan makna nan jauh lebih penting.
Uang nan dikirim itu sebenarnya membawa sebuah pesan:
“Saya berada jauh di seberang lautan, tetapi saya belum melupakan kalian.”
Karena support family tidak pernah hanya berbentuk materi.
Dukungan bisa berupa uang, tetapi juga bisa berupa semangat, perhatian, surat, doa, kesempatan pendidikan, support ketika menghadapi kesulitan, alias sekadar kepercayaan bahwa di suatu tempat tetap ada seseorang nan memikirkan kita.
Dalam kajian migrasi, kita mengenal konsep transnational family—keluarga nan secara geografis hidup terpisah di negara berbeda, tetapi tetap mempertahankan hubungan sosial dan emosional melampaui pemisah negara.
Saya kira leluhur kita telah menjalani konsep itu jauh sebelum akademisi memberikan nama kepadanya.
Ketika Teknologi Mendekatkan, Mengapa Manusia Bisa Menjauh?
Di sinilah muncul sebuah paradoks.









English (US) ·
Indonesian (ID) ·