Mengintip Takdir Akhir Matahari Melalui Daur Ulang Bintang Mati di Nebula Helix

1 jam yang lalu 3
Mengintip Takdir Akhir Matahari Melalui Daur Ulang Bintang Mati di Nebula Helix Ilustrasi(NASA/ESA/C. R. O'Dell (Universitas Vanderbilt) dan M. Meixner, P. McCullough dan G. Bacon (Institut Sains Teleskop Luar Angkasa)/Andrew McCarthy.))

Bintang-bintang di jagat raya memang bisa memperkuat hingga miliaran tahun, tetapi keberadaan mereka tidaklah abadi. Melalui pengamatan terhadap Nebula Helix, para astronom sekarang sukses menyaksikan secara langsung momen langka ketika sebuah bintang nan telah meninggal hancur dan terserap kembali ke dalam medium antarbintang (interstellar medium). Fenomena daur ulang kosmik ini memberikan gambaran jelas mengenai takdir akhir Matahari kita di masa depan.

Nebula Helix, nan berjarak sekitar 650 tahun sinar dari Bumi di rasi bintang Aquarius, merupakan contoh dari nebula planet. Bintang di pusat nebula ini telah kehabisan bahan bakar hidrogen untuk reaksi fusi nuklir di intinya. Kondisi tersebut menyulut reaksi di lapisan luar hingga membikin bintang membengkak menjadi raksasa merah. Seiring waktu, lapisan luar tersebut terlepas ke angkasa membentuk Nebula Helix, sementara intinya menyusut menjadi kerdil putih (white dwarf).

Saat nebula mengembang, materialnya perlahan menyebar dan menyatu dengan awan gas antarbintang. Material inilah nan nantinya menjadi bahan baku pembentukan generasi bintang baru. Meskipun teori ini sudah lama diyakini, para intelektual sebelumnya belum pernah menyaksikan secara langsung titik persis ketika sisa-sisa bintang mati tersebut terserap kembali oleh galaksi.

"Kami memandang material nan dilepaskan di akhir kehidupan sebuah bintang hancur dan dikembalikan ke galaksi," ujar Pieter van Dokkum dari Yale University, ketua penelitian nan terbit di jurnal Nature pada 12 Agustus tersebut. "Peralihan dari serpihan bintang nan terlihat jelas menjadi gas tipis di antara bintang-bintang selama ini sangat susah diamati."

Penemuan mendasar ini sejatinya terjadi tanpa disengaja. Tim van Dokkum sedang melakukan kalibrasi rutin untuk instrumen astronomi baru berjulukan MOTHRA (Modular Optical Telephoto Hyperspectral Robotic Array) di Observatorium El Sauce, Chile. Saat mengarahkan lensa ke Nebula Helix nan sudah sangat dikenal, mereka justru menemukan jaringan struktur melengkung (bow shocks) di area terluar nebula.

Para astronom menemukan 22 gumpalan gas berbentuk busur di halo luar nebula. Gumpalan ini terbentuk akibat material nan terlontar menabrak gas antarbintang. Semakin jauh jaraknya dari pusat bintang, gelombang kejut tersebut tampak kian terkikis dan terfragmentasi. Tim memperkirakan material dari nebula planet ini hanya bisa memperkuat sekitar 10.000 tahun setelah berbenturan dengan medium antarbintang sebelum akhirnya hancur total dan terserap sepenuhnya.

Fenomena ini menjadi cermin bagi masa depan Bumi dan sistem tata surya. Tata surya kita sendiri terbentuk 4,6 miliar tahun lampau dari komponen nan dilepaskan oleh bintang-bintang meninggal terdahulu. Dalam waktu sekitar lima miliar tahun ke depan, Matahari juga bakal kehabisan hidrogen, membengkak, dan akhirnya melepaskan lapisan luarnya menjadi nebula planet.

"Di masa depan nan jauh, Matahari bakal mengalami proses serupa dan materialnya bakal memasuki siklus nan sama," kata van Dokkum. Seluruh komponen nan membentuk Bumi dan kehidupan di atasnya pada akhirnya bakal dikembalikan ke Bima Sakta untuk melahirkan sistem bintang nan baru. (Space/Z-2)

Selengkapnya