MHD. FADHIL ARIEF, Bupati Batang Hari(Dok Istimewa)
KETIKA berbincang tentang Indonesia Emas 2045, perhatian publik sering kali tertuju pada pembangunan jalan tol, area industri, investasi, alias hilirisasi. Semua itu memang penting. Namun saya percaya, masa depan Indonesia sesungguhnya sedang ditentukan di tempat-tempat nan jauh lebih sederhana: ruang kelas sekolah dasar, Posyandu di desa, Puskesmas, dan ruang family tempat orang tua mendampingi anak-anaknya belajar.
Di sanalah kualitas sumber daya manusia dibentuk. Di sanalah bingkisan demografi bakal dimenangkan alias justru terlewatkan. Indonesia sekarang memasuki salah satu fase paling menentukan dalam sejarah pembangunannya. Dalam dua dasawarsa ke depan, proporsi masyarakat usia produktif bakal mencapai titik tertinggi. Momentum ini kerap disebut sebagai jendela emas menuju Indonesia Emas 2045. Namun sejarah banyak negara mengajarkan bahwa bingkisan demografi bukanlah agunan kemajuan. Ia hanyalah kesempatan nan kudu diperjuangkan.
Negara nan sukses memanfaatkan bingkisan demografi bukanlah negara dengan jumlah masyarakat usia produktif terbanyak, melainkan negara nan bisa memastikan mereka tumbuh sehat, memperoleh pendidikan nan bermutu, menguasai keahlian nan relevan, serta bisa beradaptasi terhadap perubahan zaman. Tanpa itu, bingkisan demografi justru dapat berubah menjadi beban pembangunan.
Di sinilah saya memandang bahwa peran pemerintah wilayah menjadi sangat strategis. Indonesia tidak bakal memenangkan bingkisan demografi hanya melalui kebijakan nasional. Masa depan bangsa justru dibangun dari ribuan desa, kecamatan, dan kabupaten nan setiap hari berupaya memastikan anak-anaknya memperoleh kesempatan untuk tumbuh, belajar, dan berkembang secara optimal.
Selama ini kita condong mengukur keberhasilan pembangunan dari sesuatu nan tampak: jalan nan dibangun, jembatan nan diresmikan, alias gedung nan berdiri megah. Padahal pembangunan nan paling menentukan masa depan sering kali tidak langsung terlihat hasilnya. Membangun manusia memerlukan waktu lebih panjang dibanding membangun infrastruktur, tetapi manfaatnya bakal dirasakan lintas generasi.
Kesadaran itulah nan kami pegang ketika menyusun visi pembangunan Batang Hari SuPer TANGGUH (Sukses Perekonomian, Terdepan, Agamis, Nyaman, Gotong Royong, Bermutu, dan Harmonis).
Di antara seluruh nilai nan menjadi fondasinya, ada satu kata nan selalu kami jadikan jangkar: Bermutu. Bagi kami, berbobot bukan sekadar meningkatkan kualitas jasa publik, tetapi merupakan tekad untuk melahirkan sumber daya manusia Batang Hari nan kompetitif, profesional, handal menghadapi perubahan, sekaligus berakar pada nilai-nilai adab nan mulia. Semangat tersebut sejalan dengan agenda nasional nan menempatkan penguatan pendidikan, kesehatan dasar, dan penyesuaian teknologi sebagai fondasi menuju Indonesia Emas 2045.
Dari Komoditas Menuju Nilai Tambah
Pilihan menjadikan pembangunan manusia sebagai prioritas juga berangkat dari karakter Batang Hari sendiri. Kabupaten ini mempunyai modal ekonomi nan besar untuk berkembang. Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan tetap menjadi tulang punggung perekonomian wilayah dengan kontribusi mencapai Rp12,93 triliun alias sekitar 45,22 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto pada 2025. Di saat nan sama, Batang Hari mempunyai sekitar 182.702 hektare perkebunan kelapa sawit dan 71.741 hektare perkebunan karet nan menjadi sumber penghidupan sebagian besar masyarakat.
Namun, di tengah dinamika ekonomi global, kami menyadari bahwa masa depan tidak bisa lagi dibangun hanya dengan mengandalkan penjualan komoditas mentah. Daerah kudu berani melakukan lompatan menuju ekonomi nan menghasilkan nilai tambah melalui hilirisasi, inovasi, dan pemanfaatan teknologi.
Karena itu, arah pembangunan Batang Hari tidak berakhir pada peningkatan produksi, tetapi bergerak menuju pembuatan nilai tambah. Munculnya generasi petani muda nan memanfaatkan mekanisasi, teknologi digital, dan pendekatan berbasis info memberi optimisme bahwa sektor agraris dapat menjadi ruang lahirnya wirausaha modern sekaligus penggerak ekonomi daerah.
Pendidikan: Investasi Paling Strategis
Namun transformasi sebesar itu hanya mungkin terjadi andaikan ditopang oleh manusia nan mempunyai kompetensi memadai. Infrastruktur dapat dibangun. Teknologi dapat didatangkan. Investasi dapat masuk. Tetapi keahlian berpikir, berinovasi, dan memimpin perubahan hanya lahir melalui pendidikan nan bermutu. Karena itulah investasi terbesar sesungguhnya bukan hanya pada teknologi, melainkan pada manusia.
Pembangunan ekonomi dan pembangunan manusia kudu melangkah beriringan. Inilah sebabnya pendidikan kami tempatkan sebagai investasi paling strategis. Selama ini kita sering mengukur keberhasilan pendidikan dari nomor partisipasi sekolah alias pembangunan ruang kelas baru. Padahal tantangan terbesar pendidikan hari ini bukan lagi memastikan anak datang ke sekolah, melainkan memastikan mereka betul-betul belajar.
Anak-anak kita kudu bisa memahami apa nan mereka baca, berakal menggunakan angka, memecahkan persoalan, bekerja sama, dan mempunyai karakter nan kuat. Dunia kerja nan bakal mereka hadapi dua puluh tahun mendatang sangat mungkin berbeda dengan bumi kerja hari ini. Karena itu, keahlian belajar sepanjang kehidupan jauh lebih krusial dibanding sekadar menghafal pengetahuan.
Atas dasar itulah kami menempatkan penguatan literasi dan numerasi sebagai fondasi pembelajaran. Kemampuan memahami informasi, berpikir logis, dan mengambil keputusan berbasis info merupakan bekal utama agar generasi muda Batang Hari bisa bersaing sekaligus menjadi pembuat solusi di tengah perubahan nan begitu cepat.
Berbagai upaya tersebut mulai menunjukkan hasil nan menggembirakan. Capaian literasi dan numerasi di jenjang sekolah menengah pertama telah melampaui sasaran pemerintah daerah. Namun kami menyadari bahwa fondasi tersebut kudu dibangun lebih kuat sejak sekolah dasar. Bagi kami, setiap peningkatan keahlian literasi bukan sekadar nomor dalam laporan, melainkan bertambahnya kesempatan anak-anak Batang Hari untuk mengembangkan potensi mereka.
Keberhasilan itu tentu tidak bakal tercapai tanpa pembimbing nan terus bertumbuh. Guru adalah tokoh utama perubahan di ruang kelas. Karena itu, peningkatan kompetensi pembimbing menjadi bagian krusial dari strategi pembangunan manusia kami. Guru perlu didukung agar bisa menghadirkan pembelajaran nan lebih bermakna, memanfaatkan teknologi secara bijak, serta menumbuhkan rasa mau tahu, kreativitas, dan keahlian berpikir kritis peserta didik.
Membangun Manusia Dimulai sejak Awal Kehidupan
Namun pendidikan nan berbobot tidak pernah berdiri sendiri. Seorang anak nan mengalami kekurangan gizi, tumbuh tanpa stimulasi nan memadai, alias menghadapi gangguan kesehatan bakal kesulitan menyerap pembelajaran, betapapun baiknya kualitas pembimbing dan sekolahnya. Pendidikan dan kesehatan adalah dua sisi dari mata duit nan sama.
Karena itu, pembangunan manusia kudu dimulai sejak seribu hari pertama kehidupan. Penguatan posyandu, peningkatan jasa kesehatan ibu dan anak, pencegahan stunting, penyediaan air bersih, dan perbaikan sanitasi bukan sekadar program kesehatan. Semuanya merupakan investasi jangka panjang nan menentukan kualitas sumber daya manusia Indonesia pada masa depan.
Di Batang Hari, kami juga memperkuat pendekatan by name by address agar setiap ibu hamil, bayi, dan balita dapat dipantau secara lebih presisi. Dengan mengenali kondisi setiap family secara individual, pemerintah wilayah dapat memberikan intervensi nan lebih cepat, tepat sasaran, dan berkelanjutan. Pendekatan ini sekaligus memperkuat kerjasama lintas sektor sehingga penanganan persoalan gizi tidak berakhir sebagai program administratif, tetapi betul-betul menjangkau mereka nan paling membutuhkan.
Gotong Royong Menyiapkan Indonesia Emas
Pengalaman kami mengajarkan bahwa pembangunan manusia tidak pernah dapat diselesaikan oleh pemerintah sendirian. Sekolah memerlukan keluarga. Guru memerlukan support orang tua. Tenaga kesehatan memerlukan partisipasi masyarakat. Pemerintah memerlukan bumi usaha, akademisi, media, organisasi masyarakat, dan organisasi lokal.
Fondasi terkuat apalagi berada di rumah. Keluarga adalah sekolah pertama bagi anak, tempat karakter dibentuk, budaya membaca diperkenalkan, dan kebiasaan hidup sehat ditanamkan. Ketika family menjalankan kegunaan tersebut dengan baik, sekolah dan pemerintah bakal lebih mudah menghadirkan pendidikan nan berkualitas. Semangat kerjasama itulah nan terus kami bangun di Batang Hari.
Bersama Tanoto Foundation, misalnya, kami memperkuat kualitas pembelajaran melalui Program PINTAR nan berfokus pada peningkatan literasi dan numerasi. Di saat nan sama, Program SIGAP mendukung penguatan pengasuhan, kesehatan ibu dan anak, serta jasa dasar masyarakat. Kemitraan seperti ini menunjukkan bahwa pembangunan manusia bakal jauh lebih efektif ketika setiap pihak berkontribusi sesuai kapabilitas dan keahliannya.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan pembangunan bukanlah seberapa banyak proyek bentuk nan sukses diselesaikan. nan lebih krusial adalah apakah semakin banyak anak mempunyai kesempatan belajar dengan baik, semakin sedikit family menghadapi persoalan gizi, dan semakin banyak generasi muda nan bisa menciptakan masa depan nan lebih baik bagi dirinya maupun daerahnya.
Saya percaya Indonesia Emas 2045 tidak bakal dibangun hanya dari Jakarta alias kota-kota besar. Indonesia bakal maju andaikan ribuan kabupaten dan kota mengambil keputusan nan sama: menempatkan manusia sebagai investasi paling berharga.
Jalan dapat dibangun dalam hitungan bulan. Gedung dapat berdiri dalam beberapa tahun. Tetapi membangun manusia memerlukan konsistensi, kesabaran, dan keberanian untuk berpikir jauh melampaui satu periode pemerintahan.
Dari Batang Hari, kami belajar bahwa kemajuan sebuah wilayah pada akhirnya tidak ditentukan oleh besarnya sumber daya alam nan dimiliki, melainkan oleh kualitas manusia nan bisa mengelolanya.
Lebih dari dua ribu tahun lalu, kitab klasik Tiongkok Guanzi mengingatkan, 'Jika merencanakan untuk satu tahun, tanamlah tanaman padi. Jika merencanakan untuk sepuluh tahun, tanamlah pohon. Jika merencanakan untuk seumur hidup, tanamlah (kembangkanlah) manusia.'
Pesan itu tetap relevan hingga hari ini. Ketika setiap anak memperoleh kesempatan untuk tumbuh sehat, belajar dengan baik, dan mengembangkan potensinya secara optimal, sesungguhnya kita sedang membangun fondasi Indonesia Emas, bukan besok hari, melainkan mulai hari ini. (H-2)









English (US) ·
Indonesian (ID) ·