Regenerasi Petani di Indonesia Dinilai Lambat

55 menit yang lalu 2
Regenerasi Petani di Indonesia Dinilai Lambat  Perhimpunan Insinyur Sarjana Pertanian Indonesia (PISPI).(MI/Naviandri)

KEMERDEKAAN adalah merdekanya pangan. Salah satu bagian krusial mengisi kemerdekaan nan urgent saat ini adalah menyiapkan Regenerasi Petani untuk pangan masa depan. Mensikapi tantangan mengisi kemerdekaan tersebut,  Perhimpunan Insinyur Sarjana Pertanian Indonesia (PISPI), menilai bahwa saat ini dan kedepan pertanian Indonesia dihadapkan untuk segera menyelesaikan masalah regenerasi petani nan buruk.

Tidak bisa dipungkiri saat ini capaian produksi padi meningkat sesuai angan asta cita presiden. Namun persoalannya bukan hanya gimana meningkatkan produksi, tetapi juga memastikan tersedia generasi baru nan bakal mengelola sektor pertanian dalam dua dasawarsa mendatang. Fenomena anak muda nan memilih meninggalkan pekerjaan di kota untuk masuk ke sektor pertanian mulai menunjukkan perubahan langkah pandang terhadap pekerjaan petani. 

Dukungan teknologi, mekanisasi dan pemasaran digital, pertanian mulai dikembangkan sebagai sektor upaya nan mempunyai kesempatan ekonomi nan diharapkan menarik animo anak muda. Namun, perubahan tersebut belum cukup untuk menjawab persoalan regenerasi. Akses terhadap lahan, modal, teknologi dan pasar tetap menjadi tantangan bagi anak muda nan mau masuk ke sektor pertanian.

Guru Besar Program Studi (Prodi) Agribisnis UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Achmad Tjachja Nugraha, Rabu (12/8) menyatakan, generasi petani bukan sekadar persoalan siapa nan bakal bekerja di sawah. Ini menyangkut masa depan ketahanan pangan Indonesia. 

"Kalau hari ini kita tidak menyiapkan generasi muda untuk masuk ke sektor pertanian, maka 20 tahun mendatang kita bakal menghadapi persoalan nan jauh lebih besar,” katanya.

PENCIPTAAN EKOSISTEM PERTANIAN
Sebagai Ketua Umum Badan Pimpinan Pusat Perhimpunan Sarjana Pertanian Indonesia (BPP PISPI), Achmad menilai pemerintah dan pemangku kepentingan perlu menciptakan ekosistem nan membikin sektor pertanian menarik bagi generasi muda. Menurutnya, anak muda memerlukan prospek ekonomi nan jelas jika mau menjadikan pertanian sebagai pekerjaan sekaligus bisnis.

“Anak muda boleh mempunyai semangat dan pengetahuan, tetapi jika tidak mempunyai akses terhadap lahan, modal, teknologi dan prospek ekonomi pasar, semangat tersebut bakal susah berkembang menjadi upaya pertanian nan berkelanjutan,” terangnya.

Menurut Achmad,  pertanian juga perlu dikembangkan dengan pendekatan  kewirausahaan petani alias agripreneurship. Generasi muda tidak cukup hanya mempunyai keahlian budidaya, tetapi juga perlu memahami manajemen usaha, pembiayaan, pemasaran dan pengolahan hasil pertanian agar mendapatkan nilai tambah. 

Pendidikan menjadi salah satu aspek krusial dalam membentuk generasi baru pelaku pertanian. Perguruan tinggi dan lembaga pendidikan dapat berkedudukan dalam menghubungkan pengetahuan pertanian dengan keahlian kewirausahaan dan teknologi. Trend penurunan minat masuk pendidikan pertanian merupakan PR berat bagi bumi pendidikan perguruan tinggi.

“Kita memerlukan pendidikan nan tidak hanya mengajarkan gimana menanam, tetapi juga gimana mengelola upaya pertanian. Anak muda kudu memahami produksi, teknologi, pembiayaan, pemasaran sampai gimana menciptakan nilai tambah,” tuturnya. 

Achmad menyebut, supporting pemerintah terhadap penguatan prasarana pertanian (agribisnis) bagi bumi pendidikan adalah sesuatu nan tidak bisa ditawar lagi termasuk membikin ekosistem pertanian agribinis nan linkage. 

DAYA TARIK
Perkembangan teknologi dinilai dapat menjadi salah satu daya tarik bagi generasi muda untuk masuk ke sektor pertanian. Mekanisasi, penggunaan data, pemantauan lahan dan pemasaran digital dapat membantu meningkatkan efisiensi sekaligus membuka model upaya baru.

"Kita tidak boleh hanya mendorong anak muda untuk berproduksi. Kita juga kudu memastikan ada ekosistem pasar. Petani muda kudu tahu kepada siapa produknya bakal dijual, berapa nilai tambah nan bisa diperoleh, dan gimana mereka bisa mempunyai posisi tawar,” ucapnya.

Persoalan regenerasi petani lanjut Achmad, pada akhirnya berangkaian langsung dengan ketahanan pangan. Indonesia memerlukan bukan hanya lahan dan teknologi, tetapi juga sumber daya manusia nan bisa menjalankan seluruh rantai produksi pangan.

“Ketahanan pangan pada akhirnya adalah persoalan manusia. Kita memerlukan lahan, teknologi dan modal, tetapi semua itu memerlukan generasi nan bisa mengelolanya. Karena itu, regenerasi petani kudu menjadi bagian dari strategi ketahanan pangan nasional,” tuturnya.

Generasi muda nan mulai masuk ke sektor pertanian saat ini, kata Achmad bakal menjadi bagian dari pelaku utama produksi pangan pada 2046 dan itulah corak mengisi kemerdekaan.  Karena itu, keahlian Indonesia menarik dan mempertahankan generasi muda di sektor pertanian bakal ikut menentukan seberapa kuat dan Merdeka nya ketahanan pangan nasional di masa depan.(E-2)

Selengkapnya