Jakarta, CNBC Indonesia - Sebuah serangan peledak sadis nan menargetkan jutawan asal Ukraina di Monaco sekarang berujung pada persekongkolan pembunuhan berantai. Sang penyelenggara pengeboman nan sukses melarikan diri, secara mengejutkan justru ditemukan tewas terkubur di sebuah rimba di Ukraina hanya beberapa hari setelah melancarkan aksinya.
Mengutip CNN, Kamis (20/08/2026), sasaran dari pengeboman pada 29 Juni lampau tersebut adalah Vadym Yermolaiev, nan mengalami luka parah akibat ledakan di depan apartemen mewahnya.
Pihak berkuasa kemudian mengidentifikasi pelaku sebagai Anastasiia Berezovska, seorang ibu tunggal berumur 39 tahun nan tidak mempunyai catatan pidana maupun hubungan dengan Vadym.
Pelarian dan Bayaran 7.000 Euro
Setelah meletakkan ransel hitam berisi bom, Anastasiia sukses melarikan diri melintasi Prancis, Jerman, hingga akhirnya tiba di desa halamannya di Horodyshche, Ukraina. Pada 3 Juli pagi, dia meminta staf pom bensin untuk memanggilkan taksi dan bayar tarif sebesar US$ 45 (Rp 801.000) untuk membawanya ke jalan raya menuju Kyiv.
Di letak tersebut, dia dijemput oleh sebuah mobil BMW hitam nan ditumpangi oleh dua komplotannya, ialah Vladyslav Reut dan Vitaliy Zhykovych. Berdasarkan keterangan jaksa penuntut Ukraina, kedua laki-laki tersebut telah berkomunikasi dengan Anastasiia selama berbulan-bulan sebelum serangan dan membayarnya menggunakan mata duit mata uang digital serta transfer bank.
Menurut pengacara Vitaliy, Anatoliy Ivanov, total penghasilan nan diterima penyelenggara peledak tersebut mencapai nomor hingga 7.000 euro (Rp 145 juta).
Namun, pertemuan itu justru berujung maut. Vladyslav dan Vitaliy membawa Anastasiia ke sebuah rimba di dekat desa Yuriv, di mana wanita itu akhirnya ditembak meninggal di bagian kepala dan dikuburkan secara sembunyi-sembunyi. Kedua laki-laki tersebut sekarang telah ditahan dan saling menyalahkan mengenai siapa nan menarik pelatuk senjata.
Sebagai informasi, Vladyslav merupakan seorang perwira aktif di Badan Intelijen Pertahanan Ukraina (GUR) saat pengeboman terjadi, meski GUR membantah tegas keterlibatan resmi lembaga mereka. Sementara itu, Vitaliy adalah mantan pegawai penegak norma nan ruang bawah tanah rumahnya disebut oleh penyelidik menyerupai sebuah ruang penyiksaan.
Misteri Motif Serangan
Hingga saat ini, motif utama dari upaya pembunuhan tersebut tetap menjadi misteri. Vadym sendiri merupakan pengusaha real estat kaya raya nan pernah disanksi oleh Kyiv pada Desember 2023 lantaran berbisnis di Krimea, sebuah tuduhan nan dibantahnya dengan keras.
Putra sulungnya, Artur Yermolaiev, memang diketahui sebagai tokoh pidana nan mengaku bersalah lantaran menjalankan penipuan telepon di Eropa senilai 100 juta euro alias sekitar US$ 114 juta (Rp 2,02 triliun). Artur apalagi telah dijatuhi denda sebesar 8,5 juta euro oleh pengadilan Estonia. Meski demikian, Vadym membantah keras bahwa dirinya terlibat dalam jaringan penipuan tersebut alias bahwa serangan ini diotaki oleh personil keluarganya sendiri.
"Itu sama sekali tidak mungkin," tegasnya.
Vadym juga menepis dugaan bahwa negara Ukraina secara resmi memerintahkan pembunuhannya, dan meyakini bahwa Vladyslav kemungkinan besar beraksi sendiri demi duit dari pihak swasta. Ia merasa sunyi saat memikirkan nasib tragis Anastasiia nan nyaris membunuhnya dan membikin pasangannya cacat.
"Saya pikir dia hanyalah seorang operator nan tolol dan naif nan diberi tahu, dengan suatu cara, bahwa dia melakukan sesuatu nan penting, sesuatu nan hebat," ucapnya.
"Agar Anastasiia sendirian mengawasi saya selama empat bulan dan mengatur semua itu di lapangan sendirian, itu tidak realistis," pungkasnya.
Pemakaman Anastasiia pun dilangsungkan di desanya dengan peti meninggal nan tertutup rapat, sebuah keputusan nan tidak biasa di Ukraina.
"Ibunya menangis sangat keras dan terus berbicara di makam, 'Anakku, apa nan telah Anda lakukan?'," tutur salah satu tetangganya.
(tps/luc)
[Gambas:Video CNBC]

11 jam yang lalu
4








English (US) ·
Indonesian (ID) ·