Pesawat A-1319 resmi diserahterimakan PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk (GMF) kepada Kemhan(Dok GMF)
MODERNISASI pesawat Hercules C-130H milik TNI Angkatan Udara dengan tail number A-1319 telah rampung. Program tersebut mencakup pembaruan struktur, sistem avionik, dan peningkatan integritas pesawat sebagai bagian dari upaya memperkuat armada pertahanan nasional.
Pesawat A-1319 resmi diserahterimakan PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk (GMF), nan diwakili Direktur Utama Andi Fahrurrozi, kepada Kementerian Pertahanan RI. Serah terima disaksikan Menteri Pertahanan Jenderal TNI (Purn.) Sjafrie Sjamsoeddin di Hanggar 4 GMF, Rabu (19/8).
A-1319 merupakan pesawat kedua nan menjalani program modernisasi C-130H oleh GMF. Sebelumnya, GMF menyelesaikan modernisasi Center Wing Box Replacement (CWBR) pada pesawat A-1315 nan diserahterimakan kepada Kementerian Pertahanan dan TNI AU pada 2023.
Berbeda dengan proyek sebelumnya, modernisasi A-1319 mencakup tiga pekerjaan utama, ialah CWBR, Avionic Upgrade Program (AUP), dan Structural Integrity Program (SIP). Ketiganya ditujukan untuk menjaga integritas struktur, memperbarui sistem avionik, serta mendukung kesiapan dan keandalan operasional pesawat.
Direktur Utama GMF Andi Fahrurrozi mengatakan, penyelesaian A-1319 menjadi pencapaian krusial dalam penguatan keahlian perusahaan menangani pesawat perangkat utama sistem senjata (alutsista) milik negara.
“Kami tidak hanya memastikan pesawat memenuhi persyaratan kelaikan dan kesiapan operasional, tetapi juga memperkuat kompetensi engineering GMF," ujarnya.
Pekerjaan utama mencakup penggantian struktur utama pesawat alias Center Wing Box. Komponen tersebut berkedudukan krusial dalam memperpanjang usia operasional pesawat sekitar 15–20 tahun.
Sementara itu, melalui AUP, sistem avionik pesawat diperbarui menjadi sistem digital sesuai perkembangan teknologi dan kebutuhan operasional. Adapun SIP dilakukan untuk memastikan integritas struktur tetap terjaga sehingga pesawat kondusif dan laik terbang, termasuk ketika menjalankan operasi berbeban berat secara berulang.
A-1319 juga menjadi pesawat prototipe pertama nan menjalani modifikasi tersebut di luar akomodasi Lockheed Martin. Setelah pengerjaan selesai, pesawat menjalani uji terbang nan melibatkan pilot dan awak TNI AU.
Sebelum mengikuti uji terbang, para awak tersebut telah menyelesaikan training Initial Conversion Avionics Flight 2 System di Tampa, Florida, Amerika Serikat.
Andi mengatakan GMF bakal terus mengembangkan keahlian dan kompetensinya untuk mendukung kebutuhan pemeliharaan armada pertahanan nasional.
“Kami bakal terus mengembangkan kapabilitas untuk mendukung modernisasi armada pertahanan nan berdikari dan berstandar tinggi," terangnya.
Modernisasi A-1319 merupakan bagian dari program offset industri pertahanan nan diperoleh GMF sebagai industri bimbingan Kementerian Pertahanan melalui pembelian pesawat C-130J.
Dalam program tersebut, GMF memperoleh transfer teknologi dari Lockheed Martin untuk pengerjaan CWBR dan AUP pada C-130H. Transfer teknologi itu juga mencakup proses sertifikasi setingkat manufaktur untuk pesawat prototipe.
Dalam pelaksanaannya, GMF berkoordinasi dengan PT Dirgantara Indonesia (PTDI), Lockheed Martin, TNI AU, dan Kementerian Pertahanan.
Seluruh proses modernisasi A-1319 merujuk pada standar izin Indonesia Defence Airworthiness Authority (IDAA) Puslaik Kemhan. Pesawat juga melalui serangkaian proses sertifikasi kelaikan sebelum dinyatakan siap kembali mendukung operasional TNI AU.
Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin mengatakan, modernisasi C-130 menjadi bagian dari upaya membangun kekuatan pertahanan nan sejalan dengan pengembangan industri pertahanan dan industri kedirgantaraan nasional.
Menurutnya, penyelesaian modernisasi A-1319 menunjukkan peningkatan keahlian dalam melakukan pemeliharaan dan modernisasi pesawat transportasi TNI AU secara mandiri.
“Kita sudah bisa berdiri di atas kaki sendiri, baik dari segi pengawakan maupun teknis," tegasnya.
Sjafrie mengatakan keahlian tersebut tidak hanya bakal diterapkan pada C-130, tetapi juga pesawat transportasi TNI AU lainnya.
“Pesawat transportasi milik TNI AU bakal dipelihara oleh negara sendiri dengan tenaga teknis putra-putra bangsa," ucapnya.
Ia juga mengapresiasi keterlibatan GMF, PTDI, dan seluruh pihak nan mendukung program pemeliharaan serta modernisasi pesawat TNI AU.
Penyelesaian A-1319 memperkuat rekam jejak GMF dalam menangani pemeliharaan dan modernisasi pesawat militer, khususnya C-130 Hercules. Kemampuan tersebut juga membuka kesempatan pengembangan GMF menjadi Hercules Service Center dan menangani lebih banyak armada Hercules pada masa mendatang.
Penyelesaian A-1319 merupakan hasil kerjasama GMF, TNI AU, Kementerian Pertahanan, Lockheed Martin, PTDI, dan seluruh pihak nan terlibat dalam program modernisasi tersebut. (H-2)









English (US) ·
Indonesian (ID) ·