Jakarta, CNN Indonesia --
Legenda Manchester United Paul Scholes mengkritik pedas Bruno Fernanes dan Luke Shaw usai kekalahan Setan Merah dari Hull City pada pekan pembuka Liga Inggris, Sabtu (22/8).
Man United kalah 0-2 di Stadion MKM nan seluruhnya berasal dari situasi bola meninggal di babak pertama. Kekalahan ini terasa menyakitkan lantaran Hull adalah tim promosi nan diprediksi bakal terdegradasi.
Selepas pertandingan, Bruno Fernandes mengeluh kepada media bahwa timnya telah melakukan kesalahan nan sama seperti musim lalu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Di setiap laga tandang, kami terlalu banyak membiarkan musuh menguasai bola. Dalam 20 menit pertama, kiper kami nan paling banyak menyentuh bola," kata Fernandes dikutip Daily Mail.
"Kami semestinya melakukan pressing lebih tinggi dan bermain lebih agresif. Selain itu, kami perlu membenahi pertahanan saat situasi bola meninggal agar tidak kebobolan seperti tiu. Tim-tim seperti ini selalu menunggu momen tersebut," ujar Fernandes menambahkan.
Namun, Scholes menyoroti komentar Bruno Fernandes. Menurutnya sang kapten tidak layak mengkritik rekan setim di saat permainannya sendiri juga tak maksimal.
"Saya mau tahu apa maksudnya. Kesalahan apa nan mereka lakukan," kata Scholes dalam sebuah siniar nan dikutip Daily Mail.
"Apalagi mengingat performanya sendiri di laga itu. Menurut saya sebaiknya dia tak bersuara saja. Dia juga tidak tampil maksimal," ujar Scholes menambahkan.
Selain mengkritik komentar Bruno Fernandes, Scholes juga menyoroti pernyataan Luke Shaw nan dianggap meremehkan pembimbing Michael Carrick.
Shaw mengatakan, dua gol nan bersarang ke gawang MU disebabkan persiapan tim nan kurang maksimal mengantisipasi bola meninggal tim lawan.
"Luke Shaw selalu saja berkomentar. Dan, itu merupakan kritik terhadap staf pelatih. Jika ada pemain nan bicara begitu, Anda pasti bakal berpikir 'sialan', dan Anda bakal memanggil mereka untuk menghadap pada Senin pagi," ujar Scholes.
Scholes mengungkapkan sungguh dia dan para pemain bintang Man United di eranya, sangat menghormati pembimbing Sir Alex Ferguson.
"Komentar-komentar seperti itu bukan sekadar rasa hormat, bicara soal rasa takut terhadap pembimbing dan apa nan mereka kayakan, itu sebenarnya corak ketidakhormatan terhadap pembimbing dan staf."
"Sebagai pemain, jika kami berani bilang soal Sir Alex bahwa 'kami tidak siap', wah gawat! Dia pasti langsung menegur keras dan mungkin mempermalukanmu di depan seluruh tim," tutur Scholes.
Dion Dublin, legenda Premier League lainnya nan datang dalam siniar tersebut, juga mendukung pernyataan Scholes. Dublin menyarankan Carrick untuk 'memutus' hubungan terlalu berkawan dengan pemain demi menegaskan otoritasnya sebagai pelatih.
"Masalah soal status kawan alias rekan kerja nan dia alami saat menjadi pembimbing sementara, sekarang berubah. Tantangan terberat adalah setelah Carrick diangkat sebagai pembimbing tetap dan dia kudu memutus ikatan itu. Menurut saya, situasi ini bakal susah bagi sosok seperti Michael [Carrick] lantaran dia orang nan sangat baik."
"Tapi sekarang dia seorang pembimbing dan kudu berakhir bersikap seperti, 'apa kabar, kawan', 'bagaimana kabarmu, sobat', alias 'mau minum bir bareng?'. Hal-hal itu tidak bisa dilakukan lagi. Saat ini situasinya adalah, "Saya pembimbing dan Anda pemain. Lakukan saja apa nan diinstruksikan," ujar Dublin.
Kekalahan menyakitkan dari tim promosi wajib menjadi pertimbangan bagi Michael Carrick. The Red Devils sekarang terpuruk di ranking ke-16 klasemen Premier League dan kudu berbenah sebelum terlambat.
(jun)

1 jam yang lalu
3








English (US) ·
Indonesian (ID) ·