Jakarta, CNBC Indonesia - Arab Saudi, Turki, dan Pakistan membentuk kerangka pertahanan berbareng baru melalui "Perjanjian Pertahanan Bersama Mekah". Kesepakatan ini dinilai berpotensi mengubah peta keamanan Timur Tengah dan memperkuat daya tangkal negara-negara kawasan.
Perjanjian tersebut ditandatangani di Mekah oleh Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman (MBS), Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, dan Perdana Menteri (PM) Pakistan Shehbaz Sharif, akhir pekan kemarin. Dalam kesepakatan itu, serangan bersenjata terhadap salah satu dari tiga negara bakal dianggap sebagai serangan terhadap seluruh anggota.
Namun, ketiga negara belum menjelaskan secara rinci sistem penyelenggaraan komitmen tersebut. Termasuk corak support militer nan bakal diberikan alias kemungkinan pembentukan komando bersama.
"NATO Islam"?
Dalam analisisnya sebagaimana dimuat RT dikutip Senin (10/8/2026), Presiden Middle East Studies Center dan Dosen Tamu HSE University di Moskow, Murad Sadygzade, menilai kesepakatan tersebut dapat menjadi salah satu perkembangan "geopolitik krusial nan muncul dari krisis Timur Tengah saat ini".
Menurut Murad, kekuatan nan dimiliki ketiga negara membikin kerangka tersebut mempunyai kombinasi strategis nan signifikan. Arab Saudi mempunyai kekuatan finansial dan politik, Turki mempunyai industri pertahanan serta keahlian militer nan berkembang sementara Pakistan mempunyai angkatan bersenjata besar dan senjata nuklir.
Perjanjian ketiganya pun, kata dia, bisa disebut calon "NATO Timur Tengah" alias "NATO Islam". Namun pemerintah ketiga negara berhati-hati menggambarkan kesepakatan tersebut sebagai aliansi militer ofensif.
Sementara itu, menurut Wakil Presiden Turki Cevdet Yilmaz mengatakan kesepakatan itu tidak ditujukan terhadap negara tertentu. Pejabat Turki juga menegaskan bahwa pakta tersebut berkarakter melindungi dan tidak membatalkan tanggungjawab Ankara terhadap mitra lainnya.
Kurangi Ketergantungan ke AS
Menurut Murad, tetap di laman nan sama, salah satu aspek nan mendorong terbentuknya kerangka tersebut adalah perubahan persepsi negara-negara area terhadap ketergantungan pada Amerika Serikat (AS). Konfrontasi militer nan melibatkan AS, Israel, dan Iran disebut telah memperlihatkan kerentanan negara-negara Teluk meskipun mereka mempunyai hubungan pertahanan nan kuat dengan Washington.
Pembelian senjata Amerika dalam jumlah besar, keberadaan pangkalan militer AS, serta hubungan politik dengan Washington selama ini menjadi bagian krusial dari sistem keamanan kawasan. Namun, eskalasi bentrok menunjukkan bahwa hubungan tersebut tidak sepenuhnya mencegah negara-negara Teluk terkena akibat langsung konflik.
Murad menilai perjanjian Mekah bukan berfaedah Arab Saudi maupun Turki bakal meninggalkan AS alias NATO. Sebaliknya, kesepakatan tersebut lebih merupakan upaya mengurangi ketergantungan terhadap satu penjamin keamanan.
"Kekuatan Amerika tetap tidak tergantikan, tetapi perlindungan dari Amerika tidak lagi dapat dianggap tanpa syarat alias mutlak," tulis Murad dalam analisisnya.
Kerja sama pertahanan ketiga negara sendiri telah berkembang sebelum perjanjian Mekah. Arab Saudi dan Pakistan sebelumnya telah mempunyai pakta pertahanan bersama.
Hubungan militer keduanya juga berkembang melalui pengerahan personel Islamabad. Ada pula kerja sama pesawat tempur, drone, dan keahlian pertahanan udara di Riyadh.
Sementara itu, hubungan pertahanan Arab Saudi-Turki juga semakin erat, di mana Arab Saudi menjadi pembeli krusial produk pertahanan Turki, termasuk drone. Turki dan Pakistan juga telah lama melakukan kerja sama militer melalui pelatihan, pertukaran angkatan laut, dan proyek industri pertahanan.
Negara Lain Segera Bergabung?
Perkembangan berikutnya nan dinilai patut diperhatikan adalah kemungkinan keterlibatan Mesir. Murad menyebut Arab Saudi, Turki, Pakistan, dan Mesir dalam setahun terakhir semakin sering berkoordinasi mengenai keamanan regional.
Rekonsiliasi antara Ankara dan Kairo juga dinilai menghilangkan salah satu halangan politik bagi kerja sama nan lebih luas. Meski belum ada kepastian Mesir bakal bergabung, kehadiran Kairo dinilai bakal memperkuat golongan tersebut.
Mesir mempunyai populasi Arab terbesar, salah satu angkatan bersenjata terbesar di kawasan, serta menguasai Terusan Suez. Jika bergabung, kekuatan tersebut bakal melengkapi sumber daya finansial Arab Saudi, teknologi militer Turki, dan keahlian strategis Pakistan.
Israel dan Iran?
Meski pembentukan kerangka tersebut berjalan di tengah bentrok AS dengan Iran, Murad menilai dampaknya tidak hanya berangkaian dengan Teheran. Menurutnya, perkembangan operasi militer Israel sejak Oktober 2023 nan meluas dari Gaza ke Lebanon, Suriah, hingga Iran telah meningkatkan kekhawatiran sejumlah negara area terhadap perubahan lingkungan keamanan Timur Tengah.
Karena itu, Perjanjian Mekah dinilai berpotensi mempunyai makna krusial bagi Israel. Murad mengutip peneliti RUSI Burcu Ozcelik nan mengatakan kesepakatan tersebut dapat dipahami sebagai upaya menciptakan daya tangkal terhadap Israel sekaligus mengimbangi pengaruh Iran.
Arab Saudi, Turki, dan Pakistan tidak mempunyai kepentingan nan jelas untuk memulai perang baru dengan Israel. Namun, menurut kajian tersebut, kombinasi keahlian militer Turki, sumber daya finansial Saudi, dan keahlian strategis Pakistan dapat memengaruhi kalkulasi negara-negara nan berpotensi melakukan eskalasi di kawasan.
Israel sendiri belum memberikan komentar mengenai kesepakatan tersebut. Sementara itu, posisi Iran dalam arsitektur keamanan baru ini tetap belum jelas tapi negeri itu menjadi salah satu sasaran daya tangkal aliansi tersebut.
Namun, Murad juga membuka kemungkinan Iran pada akhirnya dapat menjadi bagian dari sistem keamanan regional nan lebih luas. Dengan skenario tersebut, kerangka Mekah tidak hanya berfaedah sebagai blok untuk menghadapi Iran, tetapi dapat berkembang menjadi sistem keseimbangan regional nan bermaksud mencegah satu kekuatan mendominasi kawasan.
Dua Kubu nan Saling Berhadapan?
Murad menilai perkembangan ini belum tentu menciptakan dua blok militer nan saling berhadapan seperti era Perang Dingin. Uni Emirat Arab (UEA), misalnya, mempunyai hubungan erat dengan Israel dan India, tetapi pada saat nan sama tetap bekerja sama dengan Arab Saudi, Turki, Mesir, dan Pakistan dalam beragam persoalan kawasan.
India juga mempunyai hubungan pertahanan nan erat dengan Israel, namun terus memperkuat hubungan ekonomi, energi, dan politik dengan Arab Saudi serta negara-negara Teluk. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa negara-negara Timur Tengah dan sekitarnya condong membangun hubungan nan saling tumpang tindih. Mereka dapat bekerja sama dalam satu isu, tetapi bersaing dalam rumor lainnya.
Menurut Murad, perubahan tersebut juga membuka kesempatan bagi Rusia dan China. Negara-negara area nan mau meningkatkan otonomi strategis berpotensi semakin mendiversifikasi pemasok senjata, mitra teknologi, investasi, dan hubungan diplomatik.
(sef/sef)
[Gambas:Video CNBC]

1 jam yang lalu
4








English (US) ·
Indonesian (ID) ·