Jakarta, CNBC Indonesia - Betapa mengejutkannya peristiwa nan terjadi di Laut Banda 397 tahun lalu. Saat berada di laut lepas, para nelayan nan mancing tidak melaporkan adanya tanda-tanda air laut nan tidak biasa. Namun, ketika hendak menepi, pesisir Banda telah berubah menjadi letak musibah setelah diterjang tsunami setinggi 15,3 meter.
Peristiwa itu terjadi pada 1 Agustus 1629. Tsunami dipicu gempa megathrust berkekuatan M8,3 nan mengguncang Laut Banda dan menjadi salah satu musibah alam terbesar nan pernah tercatat dalam sejarah Indonesia.
Menurut catatan Wichmann dalam riset Die erdbeben des indischen archipels von 1858 bis 1877 (Gempa Bumi di Kepulauan Hindia pada 1858-1877) (1901), gelombang tsunami bergerak ke arah barat dan menghantam Benteng Nassau di Banda Naira serta sejumlah desa pesisir.
Kerusakan nan ditimbulkan tidak main-main. Rumah-rumah di pantai hancur, pepohonan tercerabut dari tanah, dan Benteng Nassau nan berdiri kokoh nyaris tak terlihat lantaran terendam air. Bahkan, pemecah gelombang nan dibangun dari batu ikut luluh lantak diterjang tsunami.
"Pemecah gelombang nan dibangun dari batu di depan tembok hancur dihantam air. Gelombang tersebut masuk ke dalam tembok dan menyeret bongkahan besi seberat 1.558 kilogram sejauh 11,3 meter," tulis Wichmann.
Guncangan gempa juga dirasakan hingga Ambon nan berjarak sekitar 230 kilometer dari pusat gempa. Namun, tidak ada catatan mengenai terjadinya tsunami di wilayah tersebut. Minimnya catatan sejarah membikin perincian peristiwa ini susah direkonstruksi.
Baru beratus-ratus tahun kemudian, dua ilmuwan, Zac Yung-Chun Liu dan Ron A. Harris, sukses menyusun kembali kemungkinan penyebab musibah tersebut melalui simulasi gempa dan tsunami.
Dalam riset berjudul Discovery of possible mega-thrust earthquake along the Seram Trough from records of 1629 tsunami in eastern Indonesian region (2013), keduanya menyimpulkan, gempa Banda 1629 merupakan gempa megathrust.
Gempa dipicu tumbukan Lempeng Indo-Australia dan Lempeng Eurasia di area subduksi Banda, tepatnya di selatan Pulau Seram. Melalui kalkulasi matematis, peneliti dari Brigham Young University tersebut memperkirakan gempa susulan terus berjalan selama sembilan tahun setelah gempa utama.
"Arah datangnya gelombang dan kebenaran bahwa tsunami tidak tercatat di Ambon membantu mempersempit kemungkinan letak sumber gempa," tulis mereka dalam jurnal tersebut.
Belakangan, penelitian terhadap Laut Banda membuka wawasan jika ancaman serupa terus berulang selama beberapa tahun setelah 1629. Paling luar biasa terjadi pada 50 tahun kemudian ketika Ambon dilanda tsunami besar nan menewaskan sedikitnya 2.000 orang.
Menurut riset Rolling open Earth's deepest forearc basin (2016), perihal ini bisa terjadi lantaran di sana mempunyai Palung Weber nan mencapai kedalaman sekitar 7.400 meter. Letaknya di pertemuan Lempeng Indo-Australia dan Lempeng Eurasia membikin aktivitas tektonik di Laut Banda berpotensi memicu gempa besar maupun tsunami.
Jika disimulasikan, aktivitas tektonik di Laut Banda dapat memicu tsunami setinggi sekitar 7,7 meter, dengan Pulau Seram bagian timur diperkirakan menjadi wilayah pertama nan terdampak.
Namun, secanggih apa pun teknologi saat ini, gempa nan berpotensi memicu tsunami tetap belum dapat diprediksi secara pasti. Atas dasar itu, langkah terbaik untuk berbaikan dengan alam adalah memperkuat mitigasi dan meningkatkan kewaspadaan agar akibat musibah dapat diminimalkan.
(mfa/mfa)
[Gambas:Video CNBC]

1 jam yang lalu
2







English (US) ·
Indonesian (ID) ·