Nuklir Minggir! India Kejar Status Baru "Superpower Stroberi"

57 menit yang lalu 3

Jakarta, CNBC Indonesia - India tengah memasang ambisi besar untuk menjadi "superpower" stroberi dunia. Ya, negeri Bollywood kini hendak menantang Amerika Serikat (AS) dan Eropa nan selama ini menguasai bibit unggul buah tersebut.

Di bagian barat India, area pegunungan Mahabaleshwar menjadi pusat sebagian besar perkebunan stroberi di negara tersebut. Sekitar 85% budidaya stroberi India berada di wilayah ini.

Ketinggian lebih dari 1.000 meter di atas permukaan laut membikin area tersebut mempunyai musim tanam nan panjang dan sejuk, ialah antara November hingga Maret. Selain itu, tanah nan ringan dan mempunyai sistem drainase nan baik sangat cocok untuk budidaya stroberi.

Namun, ambisi itu, bukan perihal mudah. Budidaya stroberi memerlukan tenaga kerja nan besar dan mempunyai akibat tinggi.

"Kalau kebun stroberi sedang penuh buah lampau tiba-tiba hujan deras turun, seluruh hasil panen bisa rusak dan kami kudu menanggung kerugian besar," ujar salah satu petani Sheetal Danavle, sebagaimana dibuat BBC International, dikutip Jumat (31/7/2026).

Belum lagi tanaman stroberi nan kudu diganti setiap musim dan tidak ditanam dari biji. Sebagai gantinya, petani membeli bibit muda dari pemasok.

Di India, biaya pembelian bibit untuk kebun mini mencapai sekitar US$2.500 setiap tahun. Ini sekitar Rp 41 juta.

"Kalau musim panennya bagus, kami bisa memperoleh untung dua kali lipat dari modal. Tapi cuaca membikin upaya ini menjadi pertaruhan nan sangat besar," katanya.

Bibit Impor

Sebenarnya, ribuan petani membudidayakan stroberi di wilayah Mahabaleshwar sehingga buah ini menjadi salah satu komoditas hortikultura paling menguntungkan di India bagian barat. Meski demikian, industri stroberi India tetap berjuntai pada varietas nan diimpor dari California, Florida, Italia, dan Spanyol.

Hingga sekarang belum ada varietas stroberi lokal nan sukses dikembangkan. Dibutuhkan waktu sekitar 10 hingga 15 tahun bagi pemulia tanaman di AS dan Eropa untuk menghasilkan varietas stroberi berbobot tinggi nan kemudian dipatenkan.

"Kami mengimpor tanaman induk bersertifikat dari para pemulia di luar negeri," kata pendiri sekaligus kepala Tara Farms Fresh, perusahaan pembibit stroberi berlisensi, Nelson Sequeira.

Setelah masuk ke India, tanaman induk tersebut kudu menjalani proses karantina pemerintah sebelum ditanam di pembibitan. Dari tanaman induk inilah kemudian tumbuh bibit-bibit baru nan selanjutnya dijual kepada para petani.

"Satu tanaman induk impor seumpama sebuah mesin produksi. Satu tanaman bisa menghasilkan rata-rata 20 bibit baru melalui stolon, apalagi petani nan lebih maju bisa memperoleh 30 hingga 40 bibit dari satu tanaman induk," jelas Sequeira.

"Tanaman tidak menyentuh tanah. Kami menggunakan pipa industri berukuran besar nan dibelah menjadi dua sehingga membentuk wadah panjang menyerupai talang," katanya menyebut proses tersebut merupakan operasi berteknologi tinggi dan sangat presisi.

"Sebagai pengganti tanah, kami menggunakan media tanam unik berbahan cocopeat nan seluruhnya berasal dari sabut kelapa. Kami juga memasang sistem irigasi tetes dan pengabutan (fogging) nan sangat presisi untuk mengendalikan suasana mikro."

StrawberryStrawberry Foto: Jacek Dylag via Unsplash

Varietas Stroberi Lokal

Saat ini Sequeira dan para pembibit lainnya tetap berjuntai pada tanaman induk dari luar negeri. Namun kondisi tersebut diharapkan berubah berkah penelitian nan dilakukan Mahatma Phule Krishi Vidyapeeth (MPKV), sebuah universitas pertanian di Maharashtra.

MPKV bekerja sama dengan Bhabha Atomic Research Centre (BARC) dalam program pemuliaan stroberi. Para peneliti menggunakan radiasi gamma dosis rendah nan dikendalikan pada jaringan tanaman untuk memicu mutasi genetik nan stabil.

"Tujuan kami adalah mempercepat pengembangan varietas stroberi pertama original India nan tahan terhadap perubahan iklim, mempunyai ukuran buah besar, tekstur padat seperti varietas asing, tetapi juga bisa memperkuat terhadap gelombang panas di India," ujar pengajar hortikultura di MPKV, Dr. Darshan Shashank Kadam.

Ia mengakui proses tersebut kemungkinan memerlukan waktu 10 hingga 15 tahun. Sambil menunggu hasil penelitian, MPKV juga membantu petani dengan menyusun paket teknologi budidaya.

"Kami telah menetapkan agenda tanam, rekomendasi pemupukan, dan penggunaan unsur pengatur tumbuh nan disesuaikan unik dengan kondisi Mahabaleshwar," katanya.

Hidroponik dan AI Jadi Andalan

Sementara itu, perkebunan skala besar mulai mengangkat teknologi modern. Pendiri sekaligus CEO Berry Fresh Agrotech, Ketan Yashwant Sodha, mengaku awalnya menggunakan metode budidaya konvensional di lahan terbuka.

Namun selama satu dasawarsa terakhir, hujan terus turun saat musim panen utama antara November hingga awal Januari. Sehingga hasil panennya sering gagal.

"Ketika tanaman sedang berada di puncak produksi, satu kali hujan saja bisa menghancurkan seluruh kebun," ujarnya.

Karena itu, pada 2022 dia mulai bereksperimen menggunakan sistem hidroponik, ialah metode budidaya tanpa tanah nan memungkinkan pengendalian air, nutrisi, cahaya, dan suhu secara ketat. Meski mengalami banyak kegagalan di awal, Sodha akhirnya sukses mengembangkan sistem tersebut.

"Kami telah menguji 19 varietas stroberi, termasuk varietas langka dari Jepang, dan menjadi satu-satunya perusahaan di India nan sedang menguji varietas unik dari Belanda musim ini," katanya.

Ia mengatakan setiap tanaman hanya diberi sekitar 750 mililiter air per hari agar menghasilkan buah dengan kadar gula dan aroma nan lebih pekat. Timnya juga rutin melakukan kajian laboratorium terhadap daun dan tangkai daun untuk mengetahui secara tepat kebutuhan nutrisi tanaman.

Dengan menggunakan rumah tanam semi-tertutup (polyhouse), stroberi sekarang dapat diproduksi sepanjang tahun. Perusahaannya sekarang berencana memperluas upaya menjadi akomodasi seluas lima acre nan bisa menampung sekitar 200.000 tanaman.

Stroberi bukan lagi buah musiman bagi kami," ujar Sodha.

Petani lain, Krishan Bhilare, nan keluarganya telah menanam stroberi selama beberapa generasi di Mahabaleshwar, juga mulai memanfaatkan teknologi. Melalui jaringan Farmer Producer Organisation (FPO), mereka memasang menara pemantau cuaca di beberapa titik lahan.

Sistem tersebut menggunakan kepintaran buatan (AI) untuk memprediksi kapan hujan bakal turun sehingga petani dapat menunda penyemprotan pestisida agar tidak terbuang sia-sia. Kelompok petani juga membangun sistem pertanian vertikal menggunakan media cocopeat.

"Dengan menumpuk lima pot dalam satu menara vertikal, kepadatan tanaman meningkat dari 25.000 menjadi 125.000 tanaman per acre. Artinya, kapabilitas produksi meningkat lima kali lipat tanpa perlu menambah luas lahan," ujar Bhilare.

Namun investasi tersebut tetap terlalu mahal bagi banyak petani kecil. Danavle sebenarnya pernah mencoba hidroponik pada 2017 dan sukses menghasilkan stroberi organik berbobot tinggi tapi sebuah siklon besar menghancurkan seluruh instalasi hidroponiknya.

"Setelah itu kami tidak punya keberanian untuk membangunnya lagi," katanya.

"Saya membikin video tentang langkah menanam stroberi dan membujuk visitor datang ke kebun untuk belajar sekaligus memetik buah sendiri. Mereka membeli langsung dari kebun sehingga kami tidak lagi berjuntai pada perantara. Pendapatan kami pun meningkat. Sekarang saya menjadi influencer sekaligus wirausaha," ujarnya.

(sef/sef) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya