Deklarasi Nyapeda Nyakola untuk siswa SMP Bandung.(MI/Naviandri )
PULUHAN siswa SMP nan berasal dari beragam sekolah di Kota Bandung berbareng Komunitas Bike to Work (B2W) Bandung, mendeklarasikan "Nyapeda Nyakola", aktivitas nan mendorong budaya bersepeda ke sekolah sekaligus meningkatkan keselamatan pelajar di jalan. Para siswa dan organisasi B2W, sebelumnya bersepeda dari Pendopo menuju Balai Kota Bandung pada Sabtu (22/8).
Ketua B2W Bandung Mochamad Andi Nurfauzi menerangkan, aktivitas Nyapeda Nyakola tidak hanya ditujukan untuk membujuk siswa menjadikan sepeda sebagai moda transportasi ke sekolah. Gerakan itu juga membawa nilai-nilai kearifan lokal Sunda dalam edukasi bersepeda. Pihaknya mau membawa nilai-nilai kearifan lokal Sunda, bahasa Sunda, terhadap program bersepeda anak-anak ke sekolah.
Selain itu aspek keselamatan tentu menjadi perhatian utama lantaran pelajar merupakan golongan pengguna jalan nan memerlukan perlindungan lebih baik.
"Melalui Nyapeda Nyakola, B2W bakal memetakan akibat nan dihadapi siswa ketika bersepeda sekaligus mendorong penyediaan jalur sepeda nan aman. Tujuannya memang kita bisa memetakan berbareng risikonya, kemudian mendorong agar jalur-jalur sepeda, jalur anak-anak bersepeda ke sekolah, lebih kondusif dan didukung juga untuk keselamatan anak-anak sekolah ini," paparnya.
Menurut Andi, program tersebut tidak berakhir pada deklarasi. B2W berencana mendatangi sejumlah sekolah untuk memberikan pendampingan, dengan tahap awal menyasar SMPN 55, SMPN 43, SMPN 13, dan SMPN 36 Bandung. B2W juga menyiapkan modul edukasi bagi orangtua dan pembimbing sebelum materi tersebut disosialisasikan kepada siswa. Pendampingan bakal dilakukan berbareng organisasi sepeda di sekitar sekolah. Materi modul dibuat praktis dan mudah dipahami pelajar.
"Isinya mencakup tata langkah beranjak lajur, penggunaan tanda alias isyarat saat bersepeda, pemeriksaan kondisi sepeda, hingga perlengkapan keselamatan seperti helm dan busana berwarna terang. Jadi lebih ke tata langkah ketika mereka bersepeda di jalan. Contohnya ketika mereka mau beranjak dari lajur kiri ke lajur kanan, apa nan kudu dilakukan, tandanya apa, apa nan perlu dicek di sepeda," terangnya.
Dorong Jalur Sepeda Terproteksi Andi menyebut, B2W menilai penyediaan jalur sepeda nan kondusif dan terproteksi menjadi kebutuhan mendesak di Bandung. Pembangunan akomodasi tersebut bukan hanya menyangkut kenyamanan pesepeda, tetapi juga telah mempunyai dasar regulasi. Pembangunan jalur sepeda pun bersifat mandatory berdasarkan undang-undang dan sudah diatur pula lewat Peraturan Wali Kota Bandung No 47 Tahun 2022.
Tapi sebetulnya bukan hanya lajur sepeda, melainkan jalur sepeda nan terproteksi nan kita harapkan ada. Ia mencontohkan perlunya jalur terproteksi untuk mencegah kecelakaan seperti nan pernah terjadi di ruas Jalan Soekarno-Hatta. Jalur sepeda nan dipisahkan secara bentuk dinilai dapat mengurangi akibat kendaraan bermotor masuk ke ruang pesepeda.
"Konsep jalur sepeda terproteksi di Jakarta, menurut dia, dapat menjadi salah satu referensi. Pembatas bentuk seperti beton maupun stick cone dapat membikin ruang pesepeda lebih steril dari kendaraan bermotor. Harusnya steril dari kendaraan bermotor dengan dibatasi oleh beton, stick cone beton. Itu sebetulnya konkret, untuk menghindari ketika dari kanan ini ruas kendaraan bermotor tidak bisa masuk ke lajur jalur sepeda nan terproteksi," tandasnya.
Andi mengatakan pemerintah sebenarnya telah mempunyai pedoman pembangunan jalur sepeda. Karena itu, tantangan berikutnya adalah kemauan politik dan support anggaran untuk merealisasikannya.
Selain jalur sepeda, B2W mendorong peningkatan akomodasi penyeberangan bagi pelajar. Mereka telah berbincang dengan DPRD Jabar mengenai kebutuhan akomodasi penyeberangan kondusif di sekitar SMK 9 dan SMK 7. Fasilitas nan dibahas mencakup pembangunan jembatan penyeberangan orang (JPO) maupun Pelican Crossing. Jika pembangunan JPO terkendala anggaran, B2W menilai Pelican Crossing dapat menjadi pengganti nan lebih memungkinkan.
"B2W juga terus berkomunikasi dengan Pemerintah Kota Bandung mengenai perkembangan perbaikan sejumlah jalur sepeda. Dinas Perhubungan Kota Bandung disebut memberikan pembaruan mengenai sejumlah ruas nan tengah diperbaiki," ucapnya.
Guru dan Siswa Terlibat Gerakan Nyapeda Nyakola mendapat support dari pembimbing nan sebelumnya telah menginisiasi organisasi sepeda di lingkungan sekolah. Guru SMPN 36 Bandung Endang Mujiyatiningsih mengungkapkan aktivitas bersepeda ke sekolah sebenarnya telah dilakukan sejak lama.
Banyak anak-anak nan rupanya ke sekolah pakai sepeda, hanya mereka belum tahu secara edukasinya gimana langkah menggunakan sepeda ke sekolah. Menurut Endang, edukasi tidak hanya berangkaian dengan tertib lampau lintas, tetapi juga keahlian merawat sepeda. Pihak sekolah pun memberikan support dengan menyediakan akomodasi parkir alias terminal sepeda nan sekarang mulai digunakan siswa.
Kondisi rute menuju SMPN 36 menjadi tantangan tersendiri. Sebagian besar siswa tinggal di sekitar sekolah akibat sistem zonasi sehingga memilih jalur nan relatif tidak padat. Namun, Endang mengingatkan jalan nan lengang justru dapat membikin kendaraan melaju dengan kecepatan tinggi.
"Karena itu, siswa dibiasakan tetap berada di sisi kiri jalan dan memperhatikan kondisi lampau lintas, terlebih sekolah berada di area Pasar Induk Caringin. Bagi siswa, aktivitas bersepeda berbareng tersebut memberikan pengalaman langsung menghadapi beragam situasi lampau lintas," sambungnya. (AN/E-4)









English (US) ·
Indonesian (ID) ·