ARTICLE AD BOX
Jakarta, CNN Indonesia --
Legenda sepak bola Jerman, Lothar Matthaus, melontarkan kritik pedas menyusul tersingkirnya Timnas Jerman secara memalukan di babak 32 besar Piala Dunia 2026.
Mantan kapten nan membawa Jerman Barat juara Piala Dunia 1990 itu menuding kehadiran alias eksistensi serta kombinasi tangan istri dan kekasih alias Wives and Girlfriends (WAGs) para pemain dan pembimbing Timnas Jerman menjadi biang keladi hancurnya keselarasan tim.
Langkah Die Mannschaft kudu terhenti secara tragis setelah kalah 3-4 lewat drama adu penalti melawan Paraguay, menyusul hasil seri 1-1 pada waktu normal di Boston, Amerika Serikat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Matthaus membandingkan situasi ini dengan kegagalan Jerman di Piala Dunia 1994 di Amerika Serikat. Kala itu, Jerman nan berstatus juara memperkuat secara mengejutkan didepak Bulgaria di perempat final lantaran para pemain terlalu terdistraksi oleh urusan keluarga.
"Ada dokumenter nan dibuat tentang topik ini pada tahun '94, dan saya rasa kali ini tidak jauh berbeda," ujar Matthaus, seperti dilansir Daily Mail.
"Ada banyak perihal nan kudu diproses, baik di dalam maupun di luar lapangan. Istri, keluarga, semuanya terlibat hingga menciptakan banyak tajuk buletin utama," tambah dia.
Matthaus mengungkapkan bahwa di kembali layar, konsentrasi para pemain pecah lantaran meributkan masalah logistik, mulai dari akomodasi hotel hingga pilihan transportasi untuk family mereka.
Meskipun riak-riak ini tidak pernah terendus oleh media selama turnamen berlangsung, laki-laki pemilik 150 caps berbareng timnas Jerman ini menjamin bahwa ruang tukar Jerman sempat memanas akibat kecemburuan sosial antar-pemain.
"Satu pemain marah kepada pemain lainnya hanya lantaran ibu dari salah satu pemain diizinkan ikut terbang berbareng rombongan tim, sementara istri dan anak pemain lain juga mendapat akomodasi nan sama. Di sisi lain, family pemain sisanya dipaksa menggunakan penerbangan komersial biasa," ungkap Matthaus membongkar borok internal tim.
Ia pun menyindir skuad didikan Julian Nagelsmann nan dinilainya menganggap turnamen ini tak ubahnya seperti akomodasi liburan gratis.
"Intinya, ada banyak kegaduhan nan tidak tampak dari luar. Fokus mereka sama sekali bukan pada Piala Dunia ini. Turnamen ini selalu dianggap sebagai hari libur family gratis. Mereka apalagi belum ada dua minggu di Amerika, tetapi seluruh family mereka sudah diboyong ke sana. Mereka baru boleh diterbangkan ke sini untuk babak perempat final jika tim sudah berprestasi!" kecamnya.
Sebelum Jerman tersingkir, Matthaus sebenarnya sudah sempat melempar kritik mengenai kehadiran kekasih sang pelatih, Lena Wurzenberger (34), nan dinilai terlalu intim dan selalu menempel di sekitar kamp training tim.
Wurzenberger, nan merupakan mantan wartawan BILD tersebut kedapatan menginap di hotel tim, bersepeda berbareng Nagelsmann menuju tempat latihan, hingga ikut menonton para pemain persediaan melakukan sesi warm-down usai Jerman menang telak 7-1 atas Curacao di laga pembuka.
Matthaus menilai, kehadiran pasangan dari seorang "bos" alias pembimbing kepala di lingkungan sensitif seperti ruang makan alias area santuy tim bisa membikin para pemain merasa tidak nyaman dan canggung untuk berbincang jujur.
"Secara alami bakal selalu ada emosi bahwa ketika istri dari bos Anda berada di dalam ruangan, Anda mungkin tidak bakal bisa sepenuhnya jujur saat mengobrol di meja makan mengenai strategi alias kondisi tim," kritik Matthaus.
Meskipun gelombang dorongan mundur sekarang mengalir deras pasca-kegagalan memalukan Jerman di tanah Amerika Utara, Julian Nagelsmann dengan tegas menyatakan bahwa dirinya menolak untuk meletakkan jabatannya sebagai pembimbing kepala Timnas Jerman.
(wiw/jal)
Add
as a preferred source on Google

1 jam yang lalu
2








English (US) ·
Indonesian (ID) ·