Panas Bumi RI Sudah Berumur 100 Tahun, Begini Dampaknya Bagi Ekonomi

12 jam yang lalu 3

Jakarta, CNBC Indonesia - PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) menekankan besarnya akibat ekonomi dan pengaruh berganda (multiplier effect) dari pengembangan panas bumi bagi masyarakat Indonesia.

Panas bumi saat ini memasuki satu abad namalain 100 tahun perjalanan di Tanah Air dan turut mendorong pertumbuhan ekonomi wilayah serta nasional.

Presiden Direktur PGE Ahmad Yani menjelaskan, keberhasilan perusahaan dalam mengintegrasikan operasional industri dengan pemberdayaan masyarakat lokal di beragam wilayah kerja bisa menciptakan pusat pertumbuhan ekonomi baru di sekitar letak pembangkit.

"Tentu saja dengan pengembangan proyek, itu bakal memberikan multiplier effect kepada masyarakat sekitar. Multiplier effect kepada masyarakat sekitar dengan adanya proyek, bakal membuka lapangan kerja, lapangan kerja dan ekonomi masyarakat setempat itu bakal tumbuh," katanya di sela aktivitas The 12th Indonesia International Geothermal Convention & Exhibition (IIGCE) di JCC Senayan, nan ditayangkan dalam program Energy Corner CNBC Indonesia, Kamis (20/8/2026).

Dia mengambil contoh keberhasilan akibat ekonomi ini pada wilayah operasional Kamojang di Garut, Jawa Barat, nan telah dikelola selama lebih dari 40 tahun. Di wilayah itu, perusahaan membangun kepercayaan publik melalui penguatan kapabilitas pengetahuan serta pengembangan organisasi nan terbukti bisa berdikari secara ekonomi.

"Di Kamojang itu membuktikan lebih dari 4 dasawarsa PGE berbareng masyarakat tumbuh berbareng dalam membangun ekonomi tumbuh-kembang masyarakat di sana, tumbuh berbareng mengenai dengan knowledge-nya, community development, untuk penguatan ekonomi masyarakat, itu terbukti," paparnya.

Komitmen keberlanjutan ini membuahkan hasil dengan diraihnya penghargaan Proper Emas sebanyak 15 kali berturut-turut dari pemerintah. Hal itu menjadi bukti bahwa industri panas bumi bisa memberikan agunan keamanan daya sekaligus memberikan perlindungan lingkungan dan kesejahteraan bagi penduduk di sekitarnya.

"Bahwasannya ada impact, sustainability impact dari pembangunan geothermal di mana energi yang memberikan energy security, agunan energy security, kemudian juga perlindungan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat nan ada di sekitarnya," tandasnya.

Berdasarkan catatan Kementerian ESDM, Indonesia saat ini berada pada ranking ke-2 bumi dalam kapabilitas panas bumi terpasang. Total potensi panas bumi Indonesia mencapai 23.202,77 MW, sedangkan kapabilitas nan telah terpasang sekitar 2.776,39 MW. Dengan demikian, baru sekitar 11,6% potensi panas bumi nan telah dimanfaatkan dan sekitar 88,4% tetap belum tergali.

Potensi panas bumi Indonesia tersebar luas di beragam wilayah. Sumatra mempunyai potensi sekitar 9.441,10 MW, Jawa sekitar 7.587,80 MW, Sulawesi sekitar 3.006 MW, dan Nusa Tenggara sekitar 1.272,87 MW. Sementara itu, Kalimantan, Bali, Maluku, dan Papua juga mempunyai potensi panas bumi, namun dalam bahan paparan disebutkan belum mempunyai kapabilitas terpasang.

Untuk tahun 2026, pemerintah menyiapkan pengembangan pada 2 letak Penugasan Survei Pendahuluan dan Eksplorasi (WPSPE) dan 4 Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP), dengan total sumber daya sekitar 131 MW, tambahan kapabilitas sekitar 185 MW, serta proyeksi nilai investasi sekitar US$ 1,16 miliar.

Pemerintah juga menyiapkan sejumlah katalis izin dan investasi untuk mempercepat pengembangan panas bumi, antara lain melalui revisi PP Nomor 7 Tahun 2017 nan diarahkan untuk mendukung pemanfaatan tidak langsung panas bumi dan meningkatkan tingkat pengembalian investasi, serta revisi Perpres Nomor 112 Tahun 2022 untuk mengakselerasi pengembangan Energi Baru Terbarukan (EBT).

Dampak terhadap PNBP dan Investasi

Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Eniya Listiani Dewi menyebut, realisasi Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) dari panas bumi saat ini mencapai Rp 2,45 triliun.

"Target untuk tahun ini memang naik lagi, kita semangat untuk menghadirkan Rp 2,6 triliun lantaran tadi ada banyak pengeboran nan kudu dilakukan," ucapnya saat pembukaan aktivitas The 12th IIGCE di JCC Senayan, Rabu (19/8/2026).

Dari sisi investasi, investasi panas bumi pada tahun ini ditargetkan naik menjadi US$ 1,1 miliar. Namun, dengan adanya lelang baru, diharapkan investasi panas bumi bakal naik sampai US$ 2,2 miliar alias sekitar Rp 39 triliun pada 2026.

Eniya juga mengatakan, meski umur panas bumi di RI ini sudah mencapai 100 tahun, namun uapnya pun hingga sekarang tetap mengalir dan berkontribusi untuk sumber daya bersih di Tanah Air.

Kini PLTP Kamojang dikelola oleh PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO).

"Hari ini memang tepat peringatan 100 tahun, di mana tajak sumur pengeboran panas bumi dulu tahun 1926 mulai dicanangkan, mulai dibor di Kamojang dan saat ini pun, berumur 100 tahun pun, uapnya tetap mengalir. Ini merupakan hidayah dari Tuhan nan Maha Esa. Kalau uap-uap itu tidak dimanfaatkan, kita tentu saja menjadi kaum nan merugi," ungkapnya.

"Jadi rasanya memang panas bumi nan kita kenal, ini nantinya sangat bisa bersaing dengan diesel, sangat bisa bersaing dengan bahan bakar dari fosil, batu bara ataupun diesel, lantaran 24 jam bisa menghadirkan listrik," ujarnya.

"Salah satu daya terbarukan nan sangat kita andalkan, dan potensi terbesar ada di Indonesia, tadi juga disampaikan install kapabilitas kita tetap nomor 2 di dunia. Tetapi dengan adanya RUPTL PLN nan sudah disahkan, ini capaian kita, kita harapkan naik 5,2 GW, sehingga bauran daya baru terbarukan, porsinya bisa naik," ungkapnya.

Di hadapan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia dan para peserta IIGCE, Eniya memaparkan bahwa saat ini bauran daya baru terbarukan saat ini sudah tercapai 17%. Dia menjelaskan, bauran EBT pada Kuartal I-2026 sempat mencapai 18%, namun lantaran ada pembangkit lain non EBT nan baru beroperasi, maka bauran daya baru terbarukan turun menjadi 16,8-17%.

Adapun, dari porsi EBT tersebut, menurutnya terbesar tetap berasal dari bahan bakar nabati seperti Fatty Acid Methyl Ester (FAME) alias biodiesel sebesar 5,2%. Lalu, diikuti air (PLTA) 3,5%, kemudian panas bumi (PLTP) 2,2%.

Bila kapabilitas PLTP bertambah 5,2 GW hingga 2034 sesuai RUPTL 2025-2034, maka porsi bauran panas bumi bakal naik menjadi 4,5%.

Sementara bauran Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) disebut tetap 0,5%.

(wia) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya