Pedagang Beras Tak Takut El Nino-Stok Numpuk, Tapi Cemas Gegara Ini

1 jam yang lalu 1
ARTICLE AD BOX

Jakarta, CNBC Indonesia - Kekhawatiran pasar dunia terhadap potensi gangguan produksi beras akibat ancaman El Nino belum membikin pedagang beras di Indonesia cemas. Pedagang di Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC) justru menilai Indonesia berada dalam posisi nan relatif aman, lantaran mempunyai persediaan beras pemerintah (CBP) nan melimpah.

Sebagai informasi, nilai beras bumi kembali menguat pada perdagangan Selasa (23/6/2026). Kontrak beras referensi tercatat mencapai US$12,48 per hundredweight (cwt), naik 2,21% dibandingkan hari sebelumnya dan menjadi level tertinggi dalam lebih dari sepekan.

Pasar merespons meningkatnya akibat cuaca di Asia Tenggara. Sejumlah negara produsen beras mulai menghadapi ancaman El Nino nan diperkirakan memicu cuaca lebih panas dan kering dalam beberapa bulan ke depan. Filipina apalagi telah memperingatkan potensi penurunan produksi gabah hingga 700 ribu ton.

Namun, Ketua Koperasi Pedagang Pasar Induk Beras Cipinang (KOPIC) Dedy menilai pemerintah sudah mengantisipasi akibat tersebut, dengan menyiapkan stok beras dalam jumlah besar.

"Kalau nan dampaknya memang betul-betul bakal terjadi El Nino, nan sudah-sudah sih iya berakibat juga," kata Dedy kepada CNBC Indonesia, saat ditemui di PIBC, Jakarta, Rabu (24/6/2026).

Ia pun mengapresiasi langkah pemerintah nan saat ini mempunyai persediaan beras dalam jumlah besar.

"Tapi, saya mengapresiasi betul terhadap pemerintah, tujuannya memang luar biasa bagus, kenapa pemerintah itu punya stok gabah alias beras dengan sangat banyak gitu kan. Pasti kan mereka, pemerintah, itu kan punya pandangan ke depan nan jauh lebih bagus betul. Jadi mempersiapkan jangan sampai kita tuh kekurangan pangan, kekurangan pasokan," ujarnya.

Menurut Dedy, keberadaan stok beras pemerintah bakal menjadi alas krusial andaikan El Nino betul-betul mengganggu produksi di daerah.

"Nah, pada saat kelak (El Nino), pasar induk ini hanya mengandalkan pasokan dari beberapa wilayah ya kan. Kadang kala jika kelak ancamannya El Nino, wilayah pun bakal mengalami kekeringan, produsen beras juga pasti susah untuk mendapatkan gabahnya untuk memproduksi. Ya mau nggak mau, angan kita pasti pemerintah nan mempunyai stoknya di Buloh itu (bantu suplai) untuk pedagang. Kalau berambisi ke mitra produsen kita agak susah pasti," jelas dia.

Pandangan tersebut sejalan dengan kondisi stok beras nasional saat ini nan berada di level tertinggi sepanjang sejarah. Cadangan Beras Pemerintah (CBP) nan dikelola Bulog telah mencapai sekitar 5,2 juta ton.

Dengan stok sebesar itu, Dedy optimistis Indonesia tidak bakal mengalami kekurangan beras dalam setidaknya satu tahun ke depan meskipun El Nino terjadi.

"Saya rasa jika pemerintah punya stok lebih dari 5 juta ton, Insyaallah ya untuk satu tahun ke depan kondusif ya, yakin," tutur dia.

Apalagi, menurutnya, sejumlah wilayah tetap bakal memasuki masa panen dalam beberapa bulan mendatang.

"Apalagi sejenak lagi kan panen gadu. Sekarang ini posisi musim tanam, ada beberapa wilayah juga nan saya lihat, di Juli juga nyambung lagi ada panen. Nanti akhir Juli alias Agustus mulai panen. Memang saya rasa pemerintah sudah bagus lah antisipasinya," katanya.

Karena itu, dia menilai pasokan maupun nilai beras secara umum tetap bakal relatif terjaga dalam beberapa waktu ke depan.

Menurut Dedy, rumor utama nan saat ini dihadapi pedagang justru bukan ancaman kelangkaan beras, melainkan melemahnya daya beli masyarakat nan membikin perdagangan beras lesu.

"Yang terpenting gini, kita sama-sama memahami pemerintah punya tujuan untuk agar pangan ini aman, masyarakat juga harganya terjangkau tetap aman. Tapi di sisi lain kita kan berbeda, nan namanya tujuan pemerintah dengan pedagang itu berbeda. Kalau pedagang murni lah pasti mereka cari keuntungan, cari keuntungan gitu kan," ucap Dedy.


Meski begitu, dia berambisi kondisi ekonomi masyarakat dapat membaik sehingga aktivitas perdagangan kembali bergairah.

"Cuman masalah sekarang adalah daya beli masyarakat. Masalah kondisi pasar penjualan menurun. Mungkin mengenai dengan kondisi saat ini adalah berbarengan dengan tahun aliran baru. Jadi orang mungkin mengalokasikan anggaran untuk anak-anak sekolah. Saya berambisi pasar induk ini tetap kondusif, kita sebagai pedagang juga roda ekonominya tetap berjalan," ujarnya.

Menurut dia, tekanan biaya hidup nan meningkat juga ikut memengaruhi kondisi pasar.

"Apalagi dengan BBM-nya naik kan, pengaruh juga, walaupun itu non-subsidi itu juga berdampak. Terus kemudian untuk pengemasan pedagang juga agak mengeluh kan, plastik-plastik naik nan seperti itu. Ya harapannya, semoga kelak ke depan kita tuh tetap melangkah kembali, pasarnya bergairah, masyarakatnya juga tetap daya belinya juga bagus," pungkasnya.

Suasana Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC), Jakarta, Rabu (24/6/2026). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky)Suasana Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC), Jakarta, Rabu (24/6/2026). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky) Foto: Suasana Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC), Jakarta, Rabu (24/6/2026). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky)

(dce)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya