Pekan Raya Jakarta 2026 Belum Humanis bagi Pengunjungnya

1 hari yang lalu 4
ARTICLE AD BOX

loading...

Tulus Abadi, Pegiat Perlindungan Konsumen, Ketua Forum Konsumen Berdaya Indonesia (FKBI). Foto/Dok.SindoNews

Tulus Abadi
Pegiat Perlindungan Konsumen, Ketua Forum Konsumen Berdaya Indonesia (FKBI)

PELAKSANAAN Pekan Raya Jakarta (PRJ) 2026, tengah di gelar di Kemayoran, Jakarta Pusat, terhitung sejak 22 Juni hingga 22 Juli 2026, sebulan penuh. Masyarakat Jakarta, dan sekitarnya, tampak antusias menyambutnya, senyampang liburan anak anak sekolah. Kendati PRJ menjadi acara tahunan dan sudah berjalan lama, namun tetap menyisakan beberapa persoalan.

Pertama, nuansa komersialistik makin kentara. Nuansa ini bukan hanya tampak dari gebyar fisiknya saja, tetapi juga bisa disorot dari tarif masuk ke area PRJ nan kian mahal. Dan banyak dikeluhkan oleh penduduk di akun medsos milik PRJ. Tarif masuk ke area PRJ mulai Rp40.000 (khusus Senin), Rp50.000 (Selasa-Jumat), dan Rp60.000 (Sabtu, minggu, hari libur).

Tarif tersebut tergolong mahal, karena belum termasuk tarif parkir, untuk mobil Rp35.000 (flat), plus belum tarif konser musik. PRJ bukan lagi menjadi "pasar rakyat" tapi justru menjadi area pasar dan pesta eksploitatif rakyat/masyarakat sebagai pengunjung/konsumen PRJ 2026. Tarif parkir nan mahal itu, belum setara dengan upaya visitor "war area parkir", nan bisa mencapai 1-2 jam, khususnya saat peak time.

Kedua, gebyar dan nuansa komersialistiknya PRJ 2026 itu, ironisnya, tidak sejalan dengan aspek kenyamanan dan keamanan di area PRJ 2026 tersebut. Terbukti, sebagaimana dilaporkan media, di area PRJ tetap banyak tindakan copet, nan sangat merugikan visitor PRJ.

Aksi copet seolah menjadi "tradisi" penyelenggaraan PRJ setiap tahun acara PRJ. Aksi copet sangat meresahkan visitor PRJ, dan di sisi lain terlihat belum ada tindakan mitigasi nan signifikan, nan dilakukan oleh managemen PRJ, plus abdi negara penegak norma untuk melindungi visitor dari tindakan copet tersebut.

Ketiga, selaras dengan masalah tindakan copet, managemen PRJ juga tampak kandas mewujudkan PRJ sebagai area KTR (Kawasan Tanpa Rokok). Terbukti di area PRJ justru terdapat stand produsen rokok dengan sales girl nan menawarkan produk rokok ke para visitor PRJ.

Selengkapnya