ARTICLE AD BOX
loading...
Zaenal Abidin, Ketua Umum PB Ikatan Dokter Indonesia (periode 2012-2015). Foto/Dok. SINDOnews
Zaenal Abidin
Ketua Umum PB Ikatan Dokter Indonesia (IDI) periooe 2012–2015
Ketua Himpunan Fasyankes Dokter Indonesia (HIFDI)
SEBUAH dalil nan ditanamkan Emil Salim dalam Pembangunan Berwawasan Lingkungan: “Apa nan diambil dari alam kudu kembali kepada alam, sekurang-kurangnya diganti dengan perihal berkedudukan serupa kepada alam.” Prinsip ini sederhana, nyaris seperti norma fisika. Tetapi dalam praktik pembangunan kita beberapa dasawarsa terakhir, prinsip ini diabaikan berulang kali. Dan, sekarang tagihan ekologisnya datang dengan kembang nan tidak kita bayangkan.
Indonesia adalah salah satu negara dengan kekayaan hayati terbesar di dunia. Sekitar 10% rimba tropis bumi berada di sini. Sekitar 17% jenis burung bumi hidup di hutan-hutan Indonesia. Dan 35% hingga 39% (641 hingga 716 spesies) dari seluruh jenis burung di Indonesia tersebut berada di rimba Papua.
Ratusan jenis mamalia unik, termasuk jenis nan menjadi sumber genetika krusial bagi pertanian dan kedokteran, menjadikan Indonesia sebagai laboratorium alam nan tak ternilai harganya. Emil Salim menyebut Indonesia sebagai “negeri sumber genetika”, sebuah gelar nan mengandung tanggung jawab sekaligus potensi nan belum sepenuhnya kita rawat.
Namun info 2025 menunjukkan bahwa kita sedang menyia-nyiakan warisan luar biasa itu. Deforestasi mencapai 433.751 hektare dalam setahun, nomor tertinggi dalam lima tahun terakhir. Sebanyak 62% dari area nan terdampak deforestasi pada 2024 adalah kediaman delapan jenis megafauna ikonik Indonesia. Setiap pohon nan tumbang bukan hanya kehilangan kayu, dia adalah punahnya ekosistem, hilangnya sumber obat-obatan, dan musnahnya warisan genetika nan tidak bisa direproduksi dengan teknologi apa pun.
Eco-Development: Alternatif nan Sudah Lama Ada
Emil Salim memperkenalkan konsep eco-development jauh sebelum bumi ramai membicarakan pembangunan berkelanjutan. Konsepnya tegas: pembangunan tidak boleh menolak pengolahan sumber alam, tetapi kesejahteraan manusia kudu dimaknai lebih luas, mencakup mutu lingkungan nan layak dihidupi (livable environment) dan agunan bahwa kesejahteraan terpelihara kesinambungannya bagi generasi mendatang. Kesejahteraan hari ini tidak boleh dibangun di atas puing kehancuran lingkungan untuk hari esok.









English (US) ·
Indonesian (ID) ·