Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah mendorong Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) untuk terlibat langsung dalam investasi proyek hilirisasi. Langkah tersebut dinilai krusial untuk menciptakan keseimbangan antara kesiapan pasokan, kebutuhan industri, serta penyerapan produk hasil hilirisasi.
Deputi Bidang Koordinasi Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Elen Setiadi mengatakan, pemerintah perlu mempercepat pengembangan industri hilir dengan memastikan adanya investasi dan pasar bagi produk nan dihasilkan.
"Jadi keseimbangan ini nan perlu kita ciptakan sembari mempercepat mendorong salah satunya tugasnya Danantara tadi sudah sampaikan Pak Singgih saya tidak bisa ulang, gimana coba kita mendorong Danantara bisa melakukan investasi," ujarnya dalam MINDialogue dengan tema Komoditas untuk Negeri: Strategi Penguatan Cadangan Mineral untuk Stabilitas dan Kedaulatan Ekonomi RI, Rabu (12/8/2026).
Menurut Elen, salah satu contoh proyek nan dapat didorong melalui investasi Danantara adalah pengembangan hilirisasi batu bara menjadi Dimethyl Ether (DME).
Ia menilai Indonesia mempunyai potensi batu bara nan sangat besar, salah satunya di Sumatera Selatan. Dengan persediaan nan mencapai sekitar 1 miliar ton, pemanfaatan batu bara dalam jumlah puluhan juta ton per tahun dinilai tidak bakal menggerus persediaan secara signifikan.
"Contoh nan paling mudah adalah tadi misalnya kita punya potensi batu bara itu besar sekali. Ini Pak Dirut PTBA ada di sini, itu persediaan nan di Sumatera Selatan itu, jika hanya sekedar mengeluarkan hanya 75, 50, sampai 70 juta ton itu hariakhir 2 kali tidak habis, lantaran cadangannya 1 miliaran ton," kata dia.
Oleh karena itu, dia memandang bahwa persediaan tersebut perlu dimanfaatkan untuk menghasilkan produk berbobot tambah, bukan sekadar dijual sebagai komoditas mentah.
"Tinggal Danantara menyelesaikan gimana sistem investasinya, nah jika kalau itu sudah ada, ada produknya itu kita bisa kembangkan dan lain sebagainya, kita nan tadi menjual gas, apalagi mengganti LPG, kita sudah hitung Pak kompensasi LPG dengan investasi itu, itu tidak sampai 10 tahun, itu sudah kita bisa menggantikan," ujar Elen.
(pgr/pgr)
[Gambas:Video CNBC]

43 menit yang lalu
2








English (US) ·
Indonesian (ID) ·