ilustrasi nilai minyak bumi naik.(MI)
MENTERI Perdagangan (Mendag) Budi Santoso menyebut kenaikan biaya logistik akibat tingginya harga minyak dunia menjadi salah satu aspek nan mendorong kenaikan harga daging sapi di dalam negeri.
Budi mengatakan kenaikan biaya impor menjadi salah satu hambatan nan dihadapi importir daging sapi. Salah satu komponen biaya nan meningkat adalah biaya logistik dan transportasi seiring kenaikan nilai minyak dunia.
"Jadi memang salah satunya aspek biayanya, biaya impor nan naik. Jadi sekarang sebagian lagi nyari produk daging sapi nan biayanya nggak terlalu mahal," ujar Budi di Jakarta, Rabu (12/8).
Menurutnya, kondisi tersebut membikin sebagian importir tetap mencari sumber pasokan daging sapi dari negara lain nan mempunyai biaya pengadaan dan logistik lebih rendah.
Di sisi lain, Budi mengungkapkan realisasi impor daging sapi saat ini tetap relatif rendah, ialah rata-rata sekitar 40 persen dari kuota nan telah diberikan pemerintah melalui neraca komoditas.
Karena itu, Kemendag meminta para importir segera merealisasikan kuota impor nan telah diperoleh dengan mencari pemasok dari luar negeri nan menawarkan nilai lebih kompetitif.
"Jadi kita minta untuk segera mencari sumber atau supplier di luar negeri nan harganya tentu lebih bagus sehingga bisa menutup harga-harga nan ada di dalam negeri ini," jelasnya.
Selain daging sapi, pemerintah juga mendorong percepatan realisasi impor daging kerbau. Menurutnya, daging kerbau dapat menjadi pengganti pasokan lantaran harganya relatif murah.
"Kita sebenarnya ada ada beberapa pilihan ya, tapi memang selama ini kebanyakan dari Australia. Tapi kita sedang mencoba dari beberapa negara nan bisa memasok, termasuk mungkin kita itu juga sebenarnya ada kuota untuk daging kerbau juga," kata Budi.
Ia menambahkan, realisasi impor daging kerbau juga tetap rendah. Pemerintah bakal mengupayakan agar seluruh kuota impor daging, baik sapi maupun kerbau, segera direalisasikan untuk membantu menjaga kesiapan pasokan dan stabilitas nilai di dalam negeri.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti menyampaikan nilai rata-rata secara nasional komoditas daging sapi berada di atas nilai referensi penjualan (HAP) tingkat konsumen pada minggu pertama Agustus 2026.
Dalam Rapat Koordinasi Inflasi Daerah, nan dipantau secara daring di Jakarta, Senin, dia mengatakan nilai rata-rata daging sapi secara nasional pada minggu pertama Agustus 2026 mencapai Rp143.737 per kilogram, sedangkan HAP-nya ditetapkan sebesar Rp140.000 per kilogram.
Menurutnya, kondisi tersebut perlu mendapat perhatian meskipun jumlah kabupaten/kota nan mengalami kenaikan Indeks Perkembangan Harga (IPH) daging sapi hanya 56 daerah.
Selain kondisi nilai secara nasional, kata Amalia, terdapat sejumlah kabupaten/kota nan mencatat nilai daging sapi di atas HAP sekaligus tetap mengalami kenaikan IPH.
Sebagai contoh, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, nilai daging sapinya sudah 17,86 persen di atas HAP. Namun di wilayah tersebut, IPH daging sapi juga tetap mengalami kenaikan sebesar 7,51 persen, sehingga nilai rata-rata mencapai Rp165.000 per kilogram. (Ant/P-3)









English (US) ·
Indonesian (ID) ·