Wali Kota Bandung Muhammad Farhan (kiri).(Dok Diskominfo Kota Bandung)
PEMERINTAH Kota Bandung berbareng Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) serta Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara menyiapkan pengembangan akomodasi pengolahan sampah berkapasitas hingga 300 ton per hari di Tempat Pengolahan Sampah Organik dan Sirkular (TPSOS) Gedebage.
Komitmen tersebut ditandai dengan penandatanganan kerja sama antara Pemkot Bandung, Danantara, dan Kemdiktisaintek di Balai Kota Bandung pada Jumat (21/8). Pengembangan akomodasi tersebut merupakan langkah sigap nan dilakukan Pemkot Bandung untuk menghadirkan solusi pengelolaan sampah dengan teknologi baru.
“Telah ada kesepakatan bersama, komitmen berbareng antara Pemkot Bandung dengan PT Danantara Development Management Fund dan
Kemdiktisaintek. Dalam perihal ini kami bakal membangun satu akomodasi pengolahan sampah dengan menggunakan sebuah teknologi nan baru,” terang Wali Kota Bandung Muhammad Farhan kemarin.
Menurut Farhan, akomodasi tersebut bakal dibangun di area Gedebage. Pemkot Bandung berbareng pihak mengenai sebelumnya telah melakukan survei letak dan menilai area tersebut memungkinkan untuk dikembangkan sebagai akomodasi pengolahan sampah berkapasitas hingga 300 ton per hari. Langkah tersebut krusial lantaran Kota Bandung selama ini tetap berjuntai pada akomodasi tempat pemprosesan akhir nan dikelola Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat (Jabar).
“Terus terang Kota Bandung itu satu-satunya ibu kota provinsi nan tidak punya TPA. Jadi kami sangat tergantung kepada TPA-TPA nan dibangun oleh provinsi, baik nan di Sarimukti maupun nan sekarang sedang dibangun di Legok Nangka,” ungkapnya.
Farhan menambahkan, proses pembangunan Legok Nangka tetap memerlukan waktu. Karena itu, Kota Bandung perlu bergerak menyiapkan solusi pengelolaan sampah sembari menunggu akomodasi tersebut beroperasi.
“Pak Gubernur memberikan pekerjaan rumah. Sambil menunggu tiga tahun Legok Nangka jadi, kalian bisa bikin apa? Nah, ini salah satu terobosan nan kami lakukan,” tandasnya.
Farhan menargetkan pembangunan dan persiapan akomodasi dapat dipercepat sehingga mulai beraksi pada akhir 2026 alias awal 2027. Aspek manajemen pemerintahan juga bakal segera disiapkan, termasuk finalisasi perubahan anggaran 2026 dan penyusunan Kebijakan Umum Anggaran 2027. Ia berharap, pengembangan akomodasi di Gedebage menjadi solusi konkret untuk memperkuat sistem pengelolaan sampah Kota Bandung sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap TPA.
Chief Technology Officer (CTO) BPI Danantara, Sigit Puji Santosa mengatakan, teknologi nan disiapkan mengusung konsep pengolahan sampah secara terdesentralisasi. Sampah tidak seluruhnya perlu dibawa ke tempat pembuangan akhir, tetapi dapat diselesaikan di wilayah masing-masing.
Ini adalah solusi nan disebut desentralisasi. "Artinya tidak perlu dibawa ke TPA, tempat penimbunan akhir, tapi kita selesaikan di regional masing-masing. Teknologi ini bakal memproses sampah menjadi Solid Recovered Fuel (SRF), material dengan nilai kalor tinggi nan dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar untuk refinery, pabrik, maupun boiler."
"Konsep tersebut tidak hanya mengurangi timbunan sampah, tetapi juga menghasilkan produk nan mempunyai nilai ekonomi dan dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan industri. Teknologi nan dipilih juga kudu memenuhi aspek lingkungan dan sosial. Salah satunya dengan memastikan proses pengolahan tidak menimbulkan aroma nan mengganggu masyarakat sekitar. Kita pastikan teknologi nan kita pilih adalah teknologi nan ter-contained dan ter-capture sehingga tidak ada aroma nan mengganggu lingkungan sekitarnya,” paparnya.
Dari sisi investasi, Sigit menyebut nilai pembangunan akomodasi berkapasitas 300 ton per hari tetap dalam tahap penghitungan finansial. Berdasarkan proses benchmarking, kebutuhan investasi diperkirakan berada pada kisaran Rp50 miliar hingga Rp60 miliar. Fasilitas di Gedebage menjadi tahap awal alias pilot project. Apabila berhasil, konsep serupa dapat dikembangkan di letak lain, termasuk di sejumlah sub wilayah kota (SWK) di Kota Bandung dan wilayah lainnya.
Sementara itu Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Prof. Brian Yuliarto menerangkan, pengembangan teknologi tersebut merupakan bagian dari support perguruan tinggi dalam mempercepat penyelesaian persoalan sampah di beragam wilayah Indonesia. Perguruan tinggi melakukan beragam kajian untuk mendapatkan pendekatan teknologi nan dapat diterapkan sesuai kebutuhan daerah. Hal tersebut sesuai pengarahan Presiden, perguruan-perguruan tinggi melakukan beragam kajian untuk mendukung percepatan penyelesaian sampah nan ada di beragam wilayah Indonesia.
"Teknologi nan dikembangkan memproses sampah organik maupun non-organik melalui pendekatan nan berbeda, termasuk pemanfaatan maggot untuk sampah organik dan SRF untuk material nan dapat diolah menjadi bahan bakar. Kajian tersebut juga memperkaya teknologi nan telah dikembangkan di sejumlah negara, termasuk Turki, untuk mendapatkan teknologi nan dinilai sesuai dengan kebutuhan Kota Bandung," ucapnya.
Ini kata Brian, tahap awal sebagai pilot project. Kalau ini bisa berhasil, pihaknya berambisi setiap SWK juga bisa dilakukan pembangunannya sehingga penyelesaian sampah di Kota Bandung ini harapannya bisa diselesaikan dan bakal menjadi percontohan untuk daerah-daerah lain.
Brian berharap, kerjasama antara Pemkot Bandung, Kemdiktisaintek, Danantara, serta perguruan tinggi dapat menghasilkan model pengelolaan sampah nan tidak hanya menyelesaikan persoalan lingkungan, tetapi juga mempunyai nilai ekonomi dan dapat direplikasi di wilayah lain.
Pengembangan akomodasi pengolahan sampah di TPSOS Gedebage diharapkan menjadi langkah awal dalam membangun sistem pengelolaan sampah nan lebih terdesentralisasi di Kota Bandung, dengan kapabilitas awal hingga 300 ton sampah per hari dan sasaran operasional pada awal 2027. (AN/E-4)









English (US) ·
Indonesian (ID) ·