Pemukiman Israel Makin Desak Warga Palestina di Tepi Barat

59 menit yang lalu 1
Pemukiman Israel Makin Desak Warga Palestina di Tepi Barat Tentara Israel berdiri di depan pintu masuk sebuah rumah Palestina nan dikepung oleh pemukim Israel di desa Qusra, selatan Nablus, di Tepi Barat nan diduduki, pada 14 Agustus 2026, sementara aktivis sayap kiri Israel dan sukarelawan solidaritas meletakka(AFP)

KEHADIRAN pemukiman Israel baru di Tepi Barat semakin mempersempit ruang hidup penduduk Palestina. Di sejumlah wilayah, penduduk tidak hanya kehilangan akses ke lahan pertanian tetapi juga menghadapi pembatasan pergerakan, penggusuran, serta tekanan dari pemukim nan tinggal di sekitar mereka.

Amin Rahal, 31, berbareng tiga saudaranya apalagi berakhir bekerja selama beberapa pekan. Mereka bergantian menjaga sisa lahan family di sebuah bukit di Tepi Barat untuk mengantisipasi masuknya pemukim Israel dari area permukiman baru di dekat rumah mereka.

“Kami tidak pernah meninggalkan tempat ini selain ada dua orang nan tetap berada di sini,” kata Rahal kepada AFP.

Ia menunjuk rumah prefabrikasi milik pemukim nan baru dipasang sekitar 100 meter dari rumahnya. Menurut Rahal, sejak kehadiran pemukim, sejumlah ayam dicuri, pohon oliva rusak, tanaman di laman rumah terdampak kendaraan segala medan, dan ternak milik pemukim masuk ke pekarangan keluarganya.

Pekan lalu, pemukim dari permukiman baru Emek Dotan nan berada di bawah rumah Rahal memasang tali melintasi lahannya. Mereka melarang Rahal dan keluarganya melewati pemisah tersebut.

Di kembali tali itu terdapat peternakan ayam dan sejumlah pohon oliva milik family Rahal. Kini, lahan tersebut tidak dapat mereka akses lantaran cemas terjadi kekerasan.

“Kami takut mereka bakal menyerang anak-anak, membakar salah satu rumah, menyerang kami pada malam hari, dan masuk ke rumah. Hal seperti itu sudah terjadi di desa-desa lain di Tepi Barat ketika pemukim datang,” ujarnya.

Kisah Rahal mencerminkan situasi nan semakin sering terjadi di Tepi Barat. Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) mencatat rata-rata enam kejadian nan melibatkan pemukim Israel setiap hari sepanjang 2026.

Insiden tersebut mencakup pencurian, perusakan, pembakaran, pemukulan hingga pembunuhan. Warga Palestina juga mengeluhkan banyak kasus kekerasan terhadap mereka tidak berujung pada hukuman.

Wilayah utara Tepi Barat sebelumnya relatif lebih tenang lantaran jumlah permukiman Israel di area itu lebih sedikit. Kondisi tersebut mulai berubah setelah sejumlah letak permukiman nan dikosongkan pada 2005 kembali dikembangkan.

Empat permukiman, ialah Homesh, Sa-Nur, Ganim, dan Kadim, sebelumnya dikosongkan berasas rencana pelepasan diri nan dijalankan mantan Perdana Menteri Israel Ariel Sharon. Langkah tersebut dimaksudkan untuk menciptakan ruang Palestina nan lebih menyatu di Tepi Barat.

Namun, di bawah pemerintahan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu saat ini, lokasi-lokasi tersebut kembali menjadi sasaran pengembangan pemukiman.

Pemerintah Israel menyetujui rencana pada Desember untuk melegalkan 17 permukiman tambahan di Tepi Barat bagian utara. Rencana itu juga diarahkan untuk menghubungkan permukiman-permukiman tersebut.

Perkembangan itu kembali menimbulkan persoalan mengenai Kesepakatan Oslo nan menjadi bagian dari proses perdamaian Israel-Palestina pada 1990-an. Menteri Keuangan Israel Bezalel Smotrich, nan juga seorang pemukim, berulang kali menyerukan agar Kesepakatan Oslo dibatalkan.

Di luar Yerusalem Timur nan telah dianeksasi Israel, sekitar 500.000 pemukim Israel sekarang tinggal di Tepi Barat. Wilayah tersebut diduduki Israel sejak 1967 dan menjadi tempat tinggal sekitar tiga juta penduduk Palestina.

Perubahan situasi semakin terasa di sekitar Jenin. Di kota tersebut, pangkalan militer Israel didirikan di Area A, wilayah nan berasas pengaturan Oslo berada di bawah kendali Palestina.

Warga sebelumnya menganggap Area A dan Area B relatif kondusif dari aktivitas pemukiman. Area B berada di bawah kendali militer Israel, tetapi urusan sipilnya dikelola Palestina. Perkembangan terbaru membikin dugaan tersebut mulai berubah.

Pada Agustus, pasukan Israel menghancurkan sejumlah toko nan berjarak sekitar 30 meter dari jalan menuju Ganim dan Kadim. Di area itu, sejumlah karavan pemukim mulai tersambung dengan jaringan listrik dan ditempati penduduk Israel.

Bara al-Damaj, pemilik toko produk batu nan tempatnya ikut dihancurkan, mengatakan dirinya menerima perintah untuk segera meninggalkan gedung sebelum pembongkaran dilakukan. Ia juga mengaku memandang peningkatan kehadiran militer setelah pangkalan baru dibangun di pintu masuk Ganim.

“Mereka datang langsung kepada kami dan memberikan perintah resmi untuk segera mengosongkan toko, kemudian langsung menghancurkannya,” kata al-Damaj.

“Dalam sekejap, mereka menghancurkan angan kami,” lanjutnya.

Kehadiran pemukim dan pembangunan jalan baru juga mengubah akses penduduk terhadap lahan mereka. Mohammed, penduduk setempat nan meminta nama belakangnya tidak disebut demi argumen keamanan, mengatakan anaknya baru-baru ini ditahan dan dipukuli tentara ketika sedang melangkah di ladang.

Keluarganya juga tidak lagi dapat mengakses lahan kedua nan berada di sisi lain jalan baru menuju permukiman. Sejumlah jalan pertanian diblokade dengan timbunan material oleh buldoser militer. Bagi warga, terputusnya jalan berfaedah terputus pula akses menuju Jenin.

Di Desa Deir Abu Deif, kondisi tersebut membikin aktivitas penduduk semakin terbatas. Faij Rawajbi, 38, pemilik toko hasil pertanian nan tokonya dihancurkan di dekat jalan menuju permukiman, menggambarkan perubahan itu sebagai situasi nan menakut-nakuti kehidupan sehari-hari warga.

“Situasinya sangat menakutkan. Kami dikepung dari segala arah,” katanya.

Rawajbi juga mengeluhkan keberadaan tim keamanan bersenjata dari permukiman nan mulai memeriksa identitas warga. Menurut dia, tindakan tersebut membikin golongan keamanan pemukim seolah-olah bertindak sebagai abdi negara resmi.

“Van putih ini meneror kami dan seluruh wilayah timur Jenin,” ujarnya ketika kendaraan tersebut melintas.

“Semua di sini sudah menjadi permukiman. Mereka telah mengubah kehidupan kami secara terbalik,” kata Rawajbi. (AFP/Z-2)

Selengkapnya