CEO Prime Smart Dr Irawan Febianto berbareng para tokoh pendidikan bumi saat menghadiri 17th World Leaders Summit & Woman Leaders Forum 2026 di Examination Schools, University of Oxford, Inggris.(ISTIMEWA)
TRANSFORMASI sistem pendidikan nasional menuju pendidikan nan lebih inklusif terus menunjukkan perkembangan positif.
Di tengah upaya pemerintah memperluas akses pendidikan nan setara bagi seluruh anak Indonesia, praktik pendidikan inklusif nan dikembangkan di Bandung, Jawa Barat, sukses memperoleh pengakuan di tingkat internasional.
Adalah CEO Prime Smart Dr Irawan Febianto nan meraih penghargaan Inclusive Education Leader of the Year dalam arena 17th World Leaders Summit & Woman Leaders Forum 2026 nan diselenggarakan di Examination Schools, University of Oxford, Inggris, pada Juli 2026.
Penghargaan tersebut menjadi pengakuan atas kiprah Irawan dalam mengembangkan model pendidikan inklusif melalui Prime Smart di Bandung.
Lembaga pendidikan tersebut selama ini mengedepankan jasa belajar nan menyatukan siswa reguler dan anak berkebutuhan unik dalam lingkungan pendidikan nan setara, berkualitas, serta berorientasi pada pengembangan potensi setiap peserta didik.
Pengakuan internasional tersebut dinilai sejalan dengan arah pembangunan pendidikan Indonesia nan sekarang bergeser dari paradigma segregasi menuju sistem pendidikan inklusif. Pendekatan tersebut membuka kesempatan belajar nan sama bagi seluruh anak tanpa memandang latar belakang maupun kondisi mereka.
World Leaders Summit merupakan forum kepemimpinan internasional nan mempertemukan para pemimpin, akademisi, wirausahawan, kreator kebijakan, dan tokoh perubahan dari lebih dari 30 negara. Mereka membahas beragam rumor strategis, mulai dari kepemimpinan, inovasi, pendidikan, kewirausahaan hingga akibat sosial bagi masyarakat global.
Momentum penghargaan ini juga menjadi pengakuan atas perjalanan Prime Smart dalam membangun ekosistem pendidikan nan tidak hanya berorientasi pada prestasi akademik, tetapi juga pembentukan karakter, pengembangan keahlian individu, serta pemerataan akses pendidikan bagi seluruh peserta didik.
Forum tersebut dihadiri sejumlah tokoh internasional, antara lain Lord Mayor of Oxford Cllr Chewe Munkonge; personil House of Lords Lord Brennan KC; personil Parlemen Kenya Hon Samson Ndindi Nyoro, Cllr Lubna Arshad; mantan personil Parlemen Inggris Virendra Sharma, serta Natasha Hart MBE, berbareng para pemimpin dan penerima penghargaan dari beragam negara.
INOVASI PENDIDIKAN
Irawan Febianto mengatakan penghargaan tersebut bukan sekadar pencapaian pribadi, tetapi menjadi amanah untuk terus menghadirkan penemuan pendidikan nan bisa menjawab tantangan zaman.
Perkembangan Artificial Intelligence (AI), lanjut dia, kudu diimbangi dengan penguatan nilai-nilai kemanusiaan, empati, dan pendidikan nan inklusif agar teknologi betul-betul memberikan faedah bagi seluruh peserta didik.
"Penghargaan ini bukan hanya menjadi sebuah pencapaian, tetapi juga amanah untuk terus menghadirkan penemuan pendidikan nan relevan dengan tantangan masa depan. Di tengah pesatnya perkembangan Artificial Intelligence (AI), kami meyakini teknologi kudu melangkah berdampingan dengan nilai-nilai kemanusiaan, kepedulian, dan pendidikan nan inklusif," tandasnya.
Irawan berambisi pengakuan internasional tersebut dapat menjadi motivasi untuk terus memperkuat kontribusi bagi kemajuan pendidikan Indonesia sekaligus membuka kesempatan kerjasama dengan beragam institusi, baik di tingkat nasional maupun global.
Pengakuan nan diraih di panggung internasional itu menjadi sinyal bahwa praktik pendidikan inklusif nan berkembang di Indonesia mempunyai potensi menjadi rujukan dalam mewujudkan sistem pendidikan nan lebih adil, berkualitas, dan siap menghadapi tantangan masa depan menuju visi Indonesia Emas 2045.








English (US) ·
Indonesian (ID) ·