Peran Danantara sebagai Pendorong Kebangkitan Teknologi Indonesia

55 menit yang lalu 3
Peran Danantara sebagai Pendorong Kebangkitan Teknologi Indonesia Ilham Akbar Habibie (tengah).(Antara/Indrianto Eko Suwarso)

PENGUASAAN teknologi dan pengembangan sumber daya manusia (SDM) menjadi kesempatan besar bagi Indonesia untuk mengoptimalkan kekayaan sumber daya alam sekaligus meningkatkan posisi dalam rantai nilai industri global. Transformasi tersebut diperlukan agar Indonesia bisa menghasilkan material dan produk teknologi berbobot tambah tinggi nan memperkuat industri nasional sekaligus memberikan faedah nan lebih luas bagi masyarakat.

"Pembangunan teknologi kudu melangkah beriringan dengan pengembangan kualitas SDM. Dengan SDM semakin kuat, Indonesia bakal mempunyai keahlian untuk mengembangkan teknologi secara berdikari dan tidak terus berjuntai pada produk maupun pengetahuan dari negara lain," kata teknokrat sekaligus putra sulung Presiden ke-3 Republik Indonesia BJ Habibie, Ilham Habibie.

Ilham menekankan bahwa tidak ada negara nan dapat menjadi maju hanya dengan mengandalkan kekayaan sumber daya alam. Indonesia perlu mengubah orientasi pembangunan dari negara berbasis sumber daya alam menjadi negara dengan pedoman industri dan teknologi nan kuat.

"Industri pada akhirnya sangat berjuntai pada keahlian suatu negara untuk menerapkan, melembagakan, dan menguasai teknologi. Kalau kita tidak bisa menerapkan, melembagakan, menguasai teknologi, kita tidak bakal menjadi negara maju," ucap Ilham.

Potensi Mineral dan Tantangan Rantai Nilai

Berdasarkan info Kementerian ESDM, Indonesia mempunyai persediaan nikel dan timah terbesar di dunia, serta masuk jejeran 10 besar bumi untuk bauksit, batu bara, emas, dan tembaga. Namun, kekayaan mineral tersebut belum otomatis menempatkan Indonesia pada posisi kuat dalam rantai nilai material maju.

Penguatan penguasaan teknologi, industri, dan kualitas SDM diperlukan agar sumber daya alam dapat diolah menjadi produk berbobot tambah tinggi, menciptakan lapangan pekerjaan berkualitas, dan memperkuat kemandirian industri nasional.

Menjelang HUT ke-81 Republik Indonesia, momentum ini digunakan untuk mendorong transformasi industri nasional melalui penguasaan teknologi demi menjaga kedaulatan bangsa. Dalam konteks tersebut, Danantara Indonesia berkedudukan sebagai enabler dengan memperkuat ekosistem industri melalui kerjasama pemerintah, BUMN, industri, dan akademisi.

"Kami sepakat bahwa sudah saatnya Indonesia naik kelas dalam rantai nilai material maju. Indonesia diberkahi dengan kekayaan mineral nan luar biasa, mulai dari nikel, bauksit, tembaga, timah, hingga rare earth. Bahan-bahan ini menjadi fondasi teknologi masa depan, seperti baterai kendaraan listrik, semikonduktor, pertahanan, dan daya bersih," kata CEO Danantara, Rosan Roeslani.

Rosan menyayangkan selama puluhan tahun Indonesia sering berakhir di titik ekstraksi: mengekspor bahan mentah, lampau membeli kembali produk jadinya dengan nilai nan jauh lebih mahal.

Investasi Berdampak dan Kolaborasi Strategis

Pendekatan Danantara dalam investasi tidak hanya berorientasi pada pembuatan nilai ekonomi, tetapi juga pada akibat nyata bagi masyarakat. Investasi jangka panjang diarahkan untuk menciptakan nilai tambah di dalam negeri, membuka lapangan pekerjaan berkualitas, serta memperkuat kapabilitas industri nasional.  "Ini sudah menjadi komitmen Danantara agar investasi menciptakan nilai bagi bangsa," ujar Rosan.

Visi tersebut mulai diterjemahkan ke dalam beragam corak kerjasama lintas industri untuk memastikan pengembangan teknologi dan pasar melangkah seiring. Salah satunya melalui Advanced Materials Industry Dialogue nan mendorong pengembangan material maju secara terintegrasi.

Upaya tersebut diperkuat melalui penandatanganan kerja sama hilirisasi mineral kritis antara Mind Id, LEN, Krakatau Steel, dan Perminas. Kerja sama ini menjadi contoh awal pembangunan supply-offtake dan pengembangan teknologi berbareng untuk mendukung kebutuhan industri strategis nasional.

Transformasi Kapabilitas: Managing Director Industrialization Danantara, Ardy Muawin, menyatakan bahwa penguasaan material maju memungkinkan Indonesia beralih bentuk dari resource-rich country menjadi capability-driven country nan disegani dunia.

"Konsep kami dalam membujuk mitra investasi bukan hanya soal biaya dan waktu, tapi juga industrial development. Kami mau ada transfer teknologi, co-development, hingga keterlibatan universitas dan lembaga riset seperti BRIN, sehingga pengembangan lanjutan itu nantinya bisa menjadi milik Indonesia," ucap Ardy. (Ant/I-2)

Selengkapnya