Perbedaan Sikap Arab Saudi dan Emirat terkait Eskalasi Militer AS ke Iran

1 jam yang lalu 3
Perbedaan Sikap Arab Saudi dan Emirat mengenai Eskalasi Militer AS ke Iran Presiden Emirat Arab Sheikh Mohamed bin Zayed Al Nahyan dan Presiden AS Donald Trump.(Al Jazeera)

PERBEDAAN pandangan tajam muncul di antara sekutu utama Amerika Serikat di Teluk mengenai langkah menangani ketegangan dengan Iran. Laporan terbaru menyebut ada lobi nan kontradiktif dari Arab Saudi dan Emirat Arab terhadap Presiden AS Donald Trump mengenai potensi serangan militer.

Berdasarkan laporan Wall Street Journal nan mengutip pejabat senior Teluk, Arab Saudi mendesak Presiden Trump untuk tidak melakukan serangan besar-besaran terhadap Iran selama akhir pekan lalu. Sebaliknya, Emirat Arab justru melobi Washington untuk mengambil tindakan nan lebih tegas terhadap Teheran.

Tuntutan Eskalasi Militer

Para pejabat Emirat berargumen bahwa Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) tidak bakal melunakkan tuntutan mereka tanpa ada eskalasi nyata dari pihak Amerika Serikat. Langkah tegas nan diusulkan mencakup pengambilalihan kendali atas Selat Hormuz oleh Washington, hingga kemungkinan dilakukan invasi darat.

Sikap garang Emirat ini sejalan dengan tindakan nyata nan telah mereka ambil di lapangan. Emirat dilaporkan telah melakukan serangan berdikari terhadap target-target Iran dan menempatkan pasukan pertahanan udara Israel di wilayah mereka untuk membantu menangkal serangan dari Iran.

Dinamika Keamanan Regional

Perpecahan strategi ini menunjukkan kompleksitas keamanan di Timur Tengah. Di satu sisi, Riyadh tampak lebih berhati-hati untuk menghindari perang terbuka nan dapat mengganggu stabilitas domestik dan pasar daya global. Di sisi lain, Abu Dhabi mendorong konfrontasi langsung untuk mematahkan pengaruh militer Iran di area secara permanen.

Hingga saat ini, tekanan dari kedua negara Teluk tersebut menjadi pertimbangan krusial bagi pemerintahan Trump dalam menentukan langkah selanjutnya di Selat Hormuz, nan merupakan jalur vital bagi pasokan minyak dunia. (The Times of Israel/I-2)

Selengkapnya