Perkuat Fondasi Demi Pertumbuhan 8%

49 menit yang lalu 1
Perkuat Fondasi Demi Pertumbuhan 8% Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa berbincang kepada pers seusai mengikuti rapat di Istana Kepresidenan, Jakarta. Purbaya menyatakan pergerakan ekonomi nasional menuju pertumbuhan 8% mulai terlihat.(ANTARA/GALIH PRADIPTA)

MENTERI Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan pergerakan ekonomi nasional menuju pertumbuhan 8% mulai terlihat. Ia meyakini sasaran tersebut dapat dicapai dalam dua hingga tiga tahun ke depan, seiring dengan upaya pemerintah memperkuat fondasi perekonomian, menghidupkan sektor swasta, serta memperbaiki suasana investasi.

"Pertumbuhan 8% mungkin orang-orang bilang terlalu tinggi. Tapi jika untuk saya, sudah nyaris kelihatan," katanya.

Menurutnya, perekonomian Indonesia sebenarnya sudah mempunyai modal untuk tumbuh lebih tinggi. Ia memandang ekonomi nasional dapat mencapai pertumbuhan sekitar 6% hanya dengan menghidupkan kembali aktivitas sektor swasta dan pemerintah, tanpa kudu melakukan reformasi industri nan signifikan.

Kondisi tersebut, ungkap Purbaya, menjadi modal awal untuk mengakselerasi pertumbuhan ekonomi hingga mencapai 8%. Pemerintah saat ini berfokus menyiapkan fondasi perekonomian nan kuat agar pertumbuhan dapat terus meningkat secara berkelanjutan.

"Nanti dua tahun alias tiga tahun lagi, Anda sudah memandang nomor 8% sudah menyundul ke atas," ujarnya meyakinkan.

Optimisme tersebut sejalan dengan keahlian ekonomi terkini. Purbaya menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,29% pada triwulan II 2026 tetap tergolong solid, meski perekonomian nasional menghadapi tekanan global, terutama akibat tingginya nilai minyak bumi dan pelemahan sektor eksternal nan turut berakibat pada keahlian ekspor.
"Pertumbuhan 5,29% sudah cukup baik di tengah tekanan global," ujar Purbaya.

Ia meyakini pertumbuhan ekonomi bakal meningkat pada triwulan III dan IV 2026. 

Mesin pertumbuhan
Untuk mendorong percepatan tersebut, pemerintah bakal mengoptimalkan seluruh mesin pertumbuhan, termasuk meningkatkan likuiditas dalam perekonomian dan mendorong penurunan suku kembang agar perbankan dapat menyalurkan angsuran dengan kembang nan lebih rendah. Dengan demikian, aktivitas bumi upaya dan konsumsi masyarakat diharapkan semakin terdorong.

"Kami bakal memaksimalkan seluruh engine (mesin) pertumbuhan ekonomi. Ke depan, saya percaya di triwulan III dan IV 2026 bakal mendorong ekonomi ke arah lebih cepat, high round menuju 6%," ucapnya optimistis.

Tekanan bumi usaha
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Widjaja Kamdani mengungkapkan pelaku upaya hingga saat ini tetap menghadapi sejumlah tekanan. Tekanan itu mulai dari kenaikan biaya produksi, pelemahan nilai tukar rupiah, perlambatan permintaan ekspor, hingga melemahnya daya beli domestik dinilai membatasi ruang ekspansi bumi usaha.

Ia mengatakan, aktivitas ekonomi di sektor riil sepanjang kuartal II 2026 belum melangkah optimal lantaran bumi upaya kudu menghadapi tekanan dari sisi biaya maupun permintaan. Menurutnya, lonjakan nilai daya akibat bentrok di Selat Hormuz, pelemahan nilai tukar rupiah nan meningkatkan biaya bahan baku impor, serta perlambatan permintaan dari negara-negara mitra jual beli menjadi tantangan utama bagi pelaku usaha.

"Jadi, aktivitas ekonomi di sektor riil nan dialami pelaku upaya sepanjang kuartal II 2026 cukup berat," ujar Shinta.

Menurutnya, pertumbuhan ekonomi pada kuartal II 2026 tetap tergolong rentan sehingga perlu dijaga momentumnya agar semakin kuat. Dengan demikian, bumi upaya diharapkan dapat kembali melakukan ekspansi dan keluar dari tren industri nan tetap berkarakter defensif.

"Sehingga membalikkan tren industri nan sifatnya lebih melindungi alias tetap mengalami tekanan terhadap kondisi nan ada," ujarnya. (E-1)

Selengkapnya