Perlombaan Ruang Angkasa Baru: AS dan Tiongkok Berebut Kutub Selatan Bulan

50 menit yang lalu 4
 AS dan Tiongkok Berebut Kutub Selatan Bulan ilustrasi(China Media Group)

PERSAINGAN eksplorasi ruang angkasa antara Amerika Serikat dan Tiongkok sekarang memasuki babak baru nan semakin memanas. Wilayah kutub selatan Bulan menjadi medan pertempuran utama bagi kedua negara adikuasa tersebut dalam memperebutkan kendali atas kosmos.

Fokus kedua negara tertuju pada kutub selatan Bulan lantaran para intelektual meyakini area tersebut menyimpan persediaan es air. Sumber daya krusial ini dapat diolah menjadi bahan bakar roket, udara untuk bernapas, hingga air minum guna menunjang keberlangsungan pemukiman manusia di luar bumi kelak.

Dalam beberapa tahun terakhir, Tiongkok menunjukkan kemajuan pesat dalam teknologi antariksa. Negara tersebut sukses meluncurkan stasiun ruang angkasa Tiangong serta menjadi negara pertama nan membawa sampel tanah dari sisi jauh Bulan. Selain itu, Tiongkok mematok sasaran ambisius untuk membangun pemukiman permanen di Bulan pada tahun 2040.

Ambisi besar tersebut didorong langsung oleh Pemimpin Tiongkok, Xi Jinping, nan menempatkan pembangunan kekuatan antariksa sebagai bagian dari revitalisasi nasional. "Laju eksplorasi ruang angkasa manusia tidak ada habisnya. Langkah demi langkah, Anda bakal memulai perjalanan eksplorasi antarbintang nan baru, memberikan kontribusi baru untuk membangun negara kedirgantaraan nan kuat dan mewujudkan revitalisasi besar Tiongkok," ujar Xi dalam pidatonya pada 2020.

Kemajuan sigap dan sifat program luar angkasa Tiongkok nan tertutup memicu kekhawatiran mendalam bagi para kreator kebijakan serta pejabat di Capitol Hill. Mantan Administrator NASA, Jim Bridenstine, mengakui rekam jejak kedisiplinan Tiongkok dalam mencapai target-targetnya. "Tapi apa nan kita tahu adalah ketika mereka menetapkan sasaran bagi diri mereka sendiri, mereka mencapainya," ujar Bridenstine.

Merespons ancaman tersebut, Amerika Serikat terpacu untuk mempercepat program antariksanya demi membangun pangkalan Bulan milik sendiri. Dalam strateginya, AS sangat mengandalkan sektor swasta untuk mengembangkan wahana pendarat robotik berbiaya rendah. Salah satunya adalah rencana pengiriman wahana pendarat Griffin, nan dikembangkan oleh perusahaan Astrobotic Technology asal Pittsburgh, ke kutub selatan Bulan pada akhir tahun 2026.

Misi tersebut bermaksud menguji performa dan ketahanan teknologi di medan kutub selatan nan dikenal sangat ekstrem dan berbahaya. Dengan sedikitnya norma internasional nan mengatur area tersebut, persaingan sengit antara AS dan Tiongkok di kutub selatan Bulan diprediksi bakal menjadi titik kembali krusial dalam sejarah eksplorasi antariksa global. (CNN/Z-2)

Selengkapnya