Jakarta, CNBC Indonesia - Keterbatasan bentuk kerap kali menjadikan penyandang disabilitas kesulitan untuk mandiri. Kendati demikian, dengan pendekatan nan tepat, Kelompok Pandawa Patra, sukses membukakan jalan bagi para penyandang disabilitas untuk bergerak maju.
Local hero Pandawa Patra, Haryono, menjelaskan bahwa golongan nan dirintis pada 2017, dulu hanya terdiri dari tujuh personil penyandang disabilitas. Saat itu, keterbatasan akomodasi dan akses terhadap training menjadi tantangan utama dalam mengembangkan aktivitas kelompok.
"Kami cukup kesulitan memberikan edukasi kepada teman-teman disabilitas lantaran keterbatasan fasilitas. Kegiatan belajar tetap dilakukan di rumah dengan skala nan sangat kecil. Tempat berkumpul pun sangat terbatas," kata Haryono dalam keterangannya, Senin (24/8/2026).
Perubahan mulai dirasakan pada akhir tahun 2021, saat itu, Pandawa Patra mendapatkan pendampingan dari Pertamina. Sebelum menjalankan program, Pertamina berbareng golongan melakukan pemetaan kebutuhan dan potensi anggota.
Akhirnya diputuskan konsep integrated farming sebagai solusi. Program ini mengintegrasikan sektor pertanian dan peternakan sebagai media pembelajaran sekaligus pemberdayaan ekonomi secara berkelanjutan.
Dirinya menyatakan, langkah tersebut menjadi pembeda lantaran program tidak berakhir pada pemberian bantuan, melainkan memperkuat kapabilitas golongan melalui proses pendampingan nan berkelanjutan.
"Pertamina tidak langsung memberikan bantuan, tetapi lebih dulu berdiskusi, memetakan kebutuhan kami, lampau menyusun program nan sesuai dengan kondisi anggota," jelasnya.
Melalui beragam training di bagian pertanian dan peternakan, golongan ini tidak hanya membekali personil dengan keahlian baru, tetapi juga menanamkan keberanian untuk mencoba, belajar, dan berkembang.
Kelompok sukses memberdayakan penyandang disabilitas dan family rentan dengan meningkatkan kapabilitas dan kepercayaan diri untuk berkarya.
Kini, Pandawa Patra telah mempunyai 29 anggota, nan terdiri dari 24 penyandang disabilitas beserta keluarganya, sedangkan lima lainnya adalah family rentan.
"Di sini kami selalu mengatakan kepada teman-teman bahwa Pandawa Patra bukan tempat mencari uang, tetapi tempat belajar. Kalau mau gagal, silakan kandas di sini. Ketika kembali ke rumah, mereka kudu sudah siap dan percaya diri untuk berhasil," tegasnya.
Martuti (42), salah seorang personil Pandawa Patra mengaku sangat bersyukur, dia dan anaknya, Bagas Suprianto (21) nan merupakan seorang penyandang disabilitas, bisa tergabung dalam kelompok. Melalui wadah ini, dia mendapat banyak belajar langkah menanam, beternak, hingga faedah lainnya.
Guna mengembangkan kelompok, Pertamina juga menghadirkan penemuan dengan memanfaatkan biogas limbah kotoran sapi untuk kebutuhan listrik Integrated Farming. Konsep pemanfaatan daya terbarukan ini menjadi roh Desa Energi Berdikari (DEB) Pertamina.
DEB merupakan komitmen Pertamina (Persero) untuk mendorong kemandirian masyarakat sekaligus menciptakan pembangunan nan inklusif di beragam wilayah di Indonesia.
Salah satu implementasinya, seperti nan dilakukan Pertamina melalui PT Pertamina Patra Niaga (PPN) Fuel Terminal (FT) Boyolali kepada Kelompok Pandawa Patra di Desa Keposong, Kecamatan Tamansari, Boyolali, Jawa Tengah.
Sementara itu, VP Corporate Communication Pertamina Muhammad Baron mengatakan, DEB Pandawa Patra merupakan salah satu DEB nan membuktikan bahwa kemauan untuk berdikari itu bisa diwujudkan oleh siapa saja selama ada kemauan.
"Dengan keterbatasan nan mereka miliki, personil DEB Pandawa Patra menjadi tempat untuk menumbuhkan kemandirian personil kelompok," tutup Baron.
(dpu/dpu)
[Gambas:Video CNBC]

1 jam yang lalu
3








English (US) ·
Indonesian (ID) ·