Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Tertolong Konsumsi Domestik

1 jam yang lalu 2
Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Tertolong Konsumsi Domestik ilustrasi(Antara)

Permata Institute for Economic Research (PIER) menilai ekonomi Indonesia perlu semakin mengandalkan kekuatan domestik, terutama konsumsi masyarakat, guna menghadapi meningkatnya tekanan terhadap perekonomian global. Strategi ini dinilai krusial untuk menjaga stabilitas pertumbuhan nasional.

Chief Economist Permata Bank, Josua Pardede, mengungkapkan bahwa sejumlah lembaga internasional memproyeksikan pertumbuhan ekonomi dunia bakal melambat pada tahun ini. Meski demikian, ekonomi Indonesia dipandang tetap cukup resilien berkah pedoman permintaan domestik nan solid.

"Kalau lembaga-lembaga bumi mengatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap tetap resilien, artinya ini cukup banyak ditopang oleh ekonomi domestik,” ujar Josua dalam pemaparan ekonomi Indonesia kuartal II 2026 (2Q26) secara daring di Jakarta, Senin (11/8).

Pergeseran Dinamika Pertumbuhan Kuartal II 2026

PIER mencatat adanya pergeseran dinamika pada mesin pertumbuhan ekonomi selama kuartal II 2026. Konsumsi rumah tangga tetap menjadi kontributor utama, walaupun mengalami normalisasi pascaperayaan Lebaran.

Data menunjukkan pertumbuhan konsumsi rumah tangga berada di level 5,06% secara year-on-year (YoY), sedikit menurun dibandingkan triwulan sebelumnya nan mencapai 5,52% YoY. Di sisi lain, sektor investasi alias Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) menunjukkan performa positif dengan percepatan pertumbuhan dari 5,96 persen YoY menjadi 6,87 persen YoY.

Meski investasi meningkat, Josua menegaskan bahwa kenaikan tersebut belum bisa menggantikan posisi konsumsi rumah tangga sebagai motor penggerak utama ekonomi nasional. Oleh lantaran itu, penguatan daya beli masyarakat menjadi kunci utama saat permintaan dari pasar eksternal mulai tertekan.

Tantangan Eksternal dan Ekspansi Manufaktur

Saat ini, Indonesia tetap berada dalam fase pemulihan (recovering) dengan indeks PMI manufaktur nan konsisten di atas level 50. Angka ini mengindikasikan bahwa aktivitas industri nasional tetap berada dalam area ekspansi, meski tantangan ke depan tetap kudu diwaspadai.

Beberapa aspek eksternal nan berpotensi membatasi support pasar ekspor meliputi:

  • Perlambatan ekonomi dunia dan ketegangan geopolitik.
  • Perang jual beli nan tetap berlanjut.
  • Perlambatan ekonomi Tiongkok sebagai mitra jual beli utama Indonesia.

“Dorongan ataupun support dari pasar ekspor dan pasar eksternal memang bakal cukup terbatas. Hal ini perlu kita cermati lebih dalam,” tambah Josua.

Dampak Kenaikan Harga Energi

Selain rumor perdagangan, kenaikan nilai daya sejak Maret 2026 turut menjadi perhatian serius. Lonjakan nilai daya dunia memicu inflasi, terutama bagi negara berkembang nan berjuntai pada impor minyak mentah.

Kenaikan biaya daya berakibat langsung pada biaya transportasi dan produksi, nan pada akhirnya mengerek nilai peralatan dan jasa. Jika tidak dibarengi dengan peningkatan pendapatan, kondisi ini berisiko menekan daya beli masyarakat secara signifikan.

Dalam situasi tersebut, PIER menekankan pentingnya peran pemerintah untuk menjaga daya beli sekaligus menciptakan suasana investasi nan kondusif. Tujuannya agar pertumbuhan ekonomi tidak hanya bersandar pada shopping masyarakat, tetapi juga didukung oleh pembuatan lapangan kerja dan peningkatan pendapatan nan berkelanjutan. (Ant/E-3)

Selengkapnya