loading...
Ali Masykur Musa mengatakan, NU tidak boleh hanya memandang dirinya sebagai organisasi nan bekerja dalam batas-batas geografis Indonesia. Foto/Dok. SindoNews
JAKARTA - Nahdlatul Ulama (NU) tidak boleh hanya memandang dirinya sebagai organisasi nan bekerja dalam batas-batas geografis Indonesia. Perubahan bumi nan semakin terbuka menuntut NU mengambil peran nan lebih luas dalam membangun kehidupan dunia nan damai, demikian di sampaikan pada Silatnas Majelis IPNU, Jumat 7 Agustus 2026.
Mudir 'Ali JATMAN Ali Masykur Musa mengatakan, perkembangan bumi telah membikin batas-batas antarnegara semakin cair. Interaksi sosial, ekonomi, teknologi, informasi, dan beragam persoalan kemanusiaan telah menghubungkan satu masyarakat dengan masyarakat lainnya melampaui pemisah teritorial. “NU kudu menjadi bagian penduduk dunia, lantaran saat ini telah terjadi state borderless,” katanya. Baca juga: Ma'ruf Amin Ingatkan NU: Hati-Hati Jangan Rebutan Tambang
Dalam situasi tersebut, NU, menurutnya, perlu mengambil posisi sebagai kekuatan nan mendorong kehidupan bumi nan tenteram dan berdampingan. Ia membayangkan NU sebagai kekuatan nan turut membangun peaceful coexistence.
Sebuah kehidupan berbareng nan tenteram di tengah bumi nan semakin tanpa pemisah melalui pendekatan nan dia sebut sebagai equilibrium diplomacy. “Karena sekarang tidak ada kekuasaan nan diperoleh tanpa menuju kekuatan diplomasi,” ujarnya.
Pernyataan tersebut membawa pendapat kepemimpinan NU keluar dari kerangka organisasi internal. Bagi Ali Masykur Musa, ketua umum PBNU ke depan kudu memahami bahwa kepemimpinan organisasi juga bergesekan dengan dinamika geopolitik dan hubungan antaraktor di tingkat global.
Di sinilah dia membedakan antara hard diplomacy dan soft diplomacy . Menurutnya, hard diplomacy merupakan domain negara, nan dijalankan melalui perangkat negara seperti Kementerian Luar Negeri, TNI, dan Polri.
Sementara NU mempunyai ruang nan berbeda. “Kalau NU kudu mengambil peran, namanya soft diplomacy,” tegasnya.
Soft diplomacy, dalam kerangka pemikiran Ali Masykur Musa, menjadi instrumen nan memungkinkan NU menghadirkan pengaruh melalui kekuatan sosial-keagamaan, nilai-nilai Islam Ahlus Sunnah wal Jamaah, jaringan ulama, pesantren, dan masyarakat sipil. Termasuk tradisi perbincangan dan perdamaian nan selama ini menjadi bagian dari karakter NU.









English (US) ·
Indonesian (ID) ·