"Petaka Baru Dunia" Diumumkan PBB, 67 Juta Anak Muda Bisa Kena

1 jam yang lalu 6

Jakarta, CNBC Indonesia - Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengungkap ancaman baru nan membayangi kaum muda dunia. Sebanyak 67 juta anak muda berumur 15-24 tahun diperkirakan menganggur pada 2025 di tengah perlambatan ekonomi, ketegangan geopolitik, dan minimnya pembuatan lapangan kerja.

Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) menyebut tingkat pengangguran kaum muda dunia naik menjadi 12,4% pada 2025, dari 12,3% pada 2023. Kondisi ini menunjukkan tekanan terhadap pasar kerja semakin besar dan menakut-nakuti kesempatan generasi muda untuk memperoleh pekerjaan layak.

"Situasi ini memburuk nyaris di seluruh wilayah," demikian laporan ILO, seperti dikutip dari Reuters, Rabu (12/8/2026).

Kondisi tersebut sekaligus membalikkan tren pemulihan nan sempat terjadi setelah pandemi Covid-19. ILO menilai bukan hanya jumlah pekerjaan bagi kaum muda nan menurun, tetapi juga kualitas pekerjaan nan tersedia semakin memburuk.

ILO juga mencatat proporsi kaum muda nan tidak bekerja, tidak bersekolah, alias tidak mengikuti training (NEET) meningkat menjadi 20%. Jumlahnya mencapai lebih dari 257 juta orang di seluruh dunia.

"Pengangguran kaum muda meningkat antara 2023 dan 2025 di delapan dari 11 sub-kawasan dunia," kata ILO dalam laporannya. Kenaikan tersebut terjadi di negara berpenghasilan tinggi, menengah ke bawah, maupun rendah.

Negara Arab dan Afrika Utara Paling Terdampak

Negara-negara Arab mencatat tingkat pengangguran kaum muda tertinggi, ialah 26,2%, disusul Afrika Utara sebesar 22,6%. Di Amerika Utara, tingkat pengangguran kaum muda apalagi melonjak dari 8,3% pada 2023 menjadi 9,8% pada 2025, sementara Eropa Utara, Selatan, dan Barat berada di kisaran 15%.

ILO menyoroti semakin menyusutnya pekerjaan berketerampilan menengah seperti administrasi, kesekretariatan, penjualan, dan manufaktur.

"Menyusutnya lapangan kerja nan mengenai dengan pekerjaan berketerampilan menengah berfaedah antrean pencari kerja nan lebih panjang dan meningkatnya pengangguran bagi kaum muda berilmu tingkat menengah," tulis laporan tersebut.

Ancaman lain datang dari perkembangan kepintaran buatan (AI). ILO memperkirakan 6,1% pekerjaan nan saat ini dijalankan golongan usia 15-29 tahun termasuk kategori nan paling terpapar perubahan akibat AI.

Jika 10% dari pekerjaan tersebut betul-betul hilang, sekitar 5,6 juta pekerja muda berpotensi kehilangan pekerjaan, kudu beranjak karier, alias keluar dari angkatan kerja. Dampaknya diperkirakan paling terasa di negara-negara berpenghasilan tinggi.

Meski demikian, ILO mencatat lapangan kerja nan memerlukan keahlian tinggi, termasuk bagian sains, teknik, kesehatan, dan teknologi informasi, tetap terus tumbuh di banyak negara. Namun, kaum muda di negara berkembang menghadapi persoalan berbeda lantaran banyak nan tidak bisa memperkuat tanpa penghasilan dalam waktu lama.

Hampir sembilan dari 10 pekerja muda di negara berpenghasilan rendah dan menengah ke bawah tetap berjuntai pada sektor informal. Mereka umumnya bekerja tanpa perlindungan ketenagakerjaan dan agunan sosial nan memadai, sehingga semakin rentan terdorong ke dalam kemiskinan ketika kehilangan pekerjaan.

(tfa/sef) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya