Peternak Ngeluh Harga Ayam Hidup Anjlok, Begini Respons Amran

2 jam yang lalu 2
ARTICLE AD BOX

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman merespons keluhan peternak ayam nan menyebut anjloknya nilai ayam hidup (live bird) saat ini tidak hanya dipicu kelebihan pasokan (oversupply), tetapi juga tingginya biaya produksi akibat kenaikan nilai bahan baku pakan impor.

Amran menegaskan, pemerintah telah menyiapkan intervensi melalui program subsidi jagung SPHP bagi peternak. Menurutnya, jagung nan menjadi salah satu bahan utama pakan telah diserap pemerintah saat musim panen dengan nilai nan menguntungkan petani, kemudian disalurkan kembali kepada peternak ketika pasokan dibutuhkan.

"Kalau pakan kita sudah subsidi jagung, ada jagung kita 200 ribu ton sudah subsidi jagung SPHP, kita kasih dengan nilai nan baik untuk peternak. Justru kami beli dari awal untuk peternak. Jadi kami beli kumpul-kumpul jagung agar petani berproduksi dengan baik, kita beri nilai nan baik ialah Rp5.500 per kg, kemudian kita simpan," kata Amran saat ditemui di Jakarta, Senin (29/6/2026).

"Setelah peternak butuh pada musim seperti sekarang, ini langsung kita supply. Oke," sambungnya.

Jawaban itu disampaikan Amran saat menanggapi keluhan peternak, nan menyebut persoalan di industri unggas bukan hanya disebabkan oleh oversupply, melainkan juga membengkaknya biaya produksi akibat kenaikan nilai bahan baku impor.

Peternak ayam ras petelur mengumpulkan telur di Peternakan Bumdes Karya Mandiri, Kalisuren, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Senin (11/5/2026). Pelaku upaya peternakan sekarang menghadapi tekanan dobel akibat lonjakan nilai pakan di tengah anjloknya nilai jual telur dan ayam hidup di tingkat peternak. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)Peternak ayam ras petelur mengumpulkan telur di Peternakan Bumdes Karya Mandiri, Kalisuren, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Senin (11/5/2026). Pelaku upaya peternakan sekarang menghadapi tekanan dobel akibat lonjakan nilai pakan di tengah anjloknya nilai jual telur dan ayam hidup di tingkat peternak. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki) Foto: Peternak ayam ras petelur mengumpulkan telur di Peternakan Bumdes Karya Mandiri, Kalisuren, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Senin (11/5/2026). Pelaku upaya peternakan sekarang menghadapi tekanan dobel akibat lonjakan nilai pakan di tengah anjloknya nilai jual telur dan ayam hidup di tingkat peternak. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Sebelumnya, Ketua Umum Perhimpunan Peternak Rakyat Mandiri Indonesia (Permindo) Kusnan mengatakan, nilai ayam hidup di beragam sentra produksi nasional saat ini hanya berkisar Rp15.000-Rp17.000 per kilogram (kg), sementara biaya pokok produksi (HPP) peternak telah mencapai sekitar Rp22.000 per kg.

Di sisi lain, nilai pakan sebagai komponen biaya terbesar terus meningkat menjadi Rp8.600-Rp9.500 per kg alias naik sekitar Rp1.000 per kg dibandingkan periode sebelumnya. Kondisi tersebut membikin peternak menanggung kerugian sekitar Rp5.000-Rp7.000 per kg ayam nan dijual.

Menurut Kusnan, kondisi ini merupakan kejadian cost-price squeeze, ketika biaya produksi terus meningkat sementara nilai jual justru turun.

"Peternak rakyat tidak sedang menghadapi krisis nilai ayam semata, tetapi menghadapi krisis margin upaya akibat nilai jual nan turun berbarengan dengan kenaikan biaya pakan nan tidak terkendali," ujar Kusnan.

Permindo juga menilai rendahnya nilai ayam merupakan akumulasi beragam persoalan struktural, mulai dari tata kelola impor bahan baku pakan, tekanan likuiditas industri, hingga praktik panic selling nan memperlemah posisi tawar peternak.

Karena itu, Permindo meminta pemerintah segera melakukan langkah korektif, antara lain mengevaluasi tata kelola impor bahan baku pakan, menyediakan akomodasi pembiayaan bagi industri pakan, membentuk buffer stock bahan baku nasional, serta memperkuat program serapan ayam hidup dan karkas ketika nilai jatuh di bawah HPP.

(wur)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya