Peternakan Sapi Digital Terintegrasi Wujudkan Desa Mandiri Energi dan Ekonomi Berkelanjutan

4 jam yang lalu 4
Peternakan Sapi Digital Terintegrasi Wujudkan Desa Mandiri Energi dan Ekonomi Berkelanjutan Ilustrasi(Dok Istimewa)

PETERNAKAN sapi menjadi salah satu potensi ekonomi masyarakat nan dapat dikembangkan untuk memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan pendapatan peternak. Namun, pengelolaan peternakan nan tetap konvensional menghadapi beragam kendala, mulai dari penyediaan pakan, tingginya kebutuhan tenaga kerja, pengolahan limbah ternak, hingga belum optimalnya pemanfaatan limbah sebagai sumber daya dan produk berbobot ekonomi.

Kondisi tersebut menjadi perhatian dalam Program Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM) Tahun 2026 di Bintaran Wetan, Bantul, Yogyakarta, berbareng Kelompok Tani Ternak Sumber Mulyo. Program bertema “Strategi Pengembangan Sistem Peternakan Sapi Digital Terintegrasi dalam Mewujudkan Desa Mandiri Energi dan Ekonomi Berkelanjutan di Bintaran Wetan Bantul Yogyakarta” ini merupakan bagian dari Program Hibah PKM Universitas AKPRIND Indonesia nan memperoleh pendanaan Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM), Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia Tahun Anggaran 2026.

Tim pelaksana terdiri atas Catur Iswahyudi, Ambar Pertiwiningrum, dari Universitas Gadjah Mada (UGM), dan Ganjar Andaka. Kolaborasi tersebut memadukan kompetensi teknologi digital, rekayasa, pengolahan limbah, fermentasi, dan teknologi tepat guna untuk menjawab kebutuhan nyata masyarakat.

Program diarahkan untuk mengintegrasikan teknologi tepat guna (TTG), digitalisasi manajemen peternakan, pengolahan pakan, pengelolaan limbah, fermentasi bahan organik, dan pemanfaatan biomassa. Pendekatan ini diharapkan bisa meningkatkan efisiensi produksi, mengurangi beban kerja peternak, serta menciptakan sistem ekonomi sirkular di tingkat kelompok.

Salah satu teknologi nan diterapkan adalah mesin pencacah rumput. Mesin tersebut digunakan untuk mempercepat proses penyediaan pakan dengan mencacah rumput menjadi ukuran nan lebih seragam sehingga lebih mudah dicampur dan diberikan kepada sapi. Penerapan mesin diharapkan dapat menghemat waktu, mengurangi pekerjaan manual, dan meningkatkan efisiensi penyediaan pakan.

Selain itu, program menerapkan mesin mixer kompos untuk mengolah kotoran sapi, sisa pakan, dan bahan organik lainnya. Mesin ini membantu menghasilkan campuran bahan nan lebih homogen sehingga proses pengomposan dapat berjalan lebih efektif. Hasil pengolahan dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik untuk mendukung aktivitas pertanian dan berpotensi dikembangkan menjadi produk berbobot ekonomi.

Teknologi lainnya adalah bak fermentasi nan digunakan untuk mendukung proses pengolahan bahan organik secara lebih terkontrol. Bak fermentasi menjadi bagian dari sistem pengelolaan limbah peternakan terpadu, sehingga limbah nan sebelumnya berpotensi menimbulkan pencemaran dapat diolah menjadi sumber daya nan bermanfaat.

Ambar Pertiwiningrum dari Universitas Gadjah Mada (UGM) menekankan pentingnya integrasi antara peternakan dan pengelolaan limbah. Menurutnya, kotoran sapi tidak semestinya hanya dipandang sebagai limbah, tetapi dapat menjadi bahan baku untuk menghasilkan pupuk organik maupun sumber daya terbarukan.

“Peternakan dapat menjadi bagian dari sistem ekonomi sirkular. Kotoran sapi diolah, hasilnya dapat dimanfaatkan kembali untuk pertanian, sementara biomassa dan residunya dapat dikembangkan menjadi sumber daya dan produk berbobot ekonomi,” jelas Ambar.

Sementara itu, Catur Iswahyudi, memperkuat aspek digitalisasi. Sistem digital diarahkan untuk membantu golongan dalam pencatatan info ternak, kebutuhan pakan, produksi, pengelolaan limbah, dokumentasi, dan pemasaran. Pengelolaan berbasis info diharapkan membantu peternak mengambil keputusan secara lebih tepat sekaligus meningkatkan tata kelola upaya kelompok.

Ganjar Andaka, menambahkan bahwa teknologi nan diterapkan kudu sesuai kebutuhan masyarakat, mudah digunakan, mudah dirawat, dan memberikan faedah nyata. Oleh lantaran itu, penerapan mesin dilengkapi training dan pendampingan agar personil golongan bisa mengoperasikan serta merawat peralatan secara mandiri.

Dalam penyelenggaraan PKM, Kelompok Tani Ternak Sumber Mulyo mendapatkan sosialisasi, training penggunaan mesin, praktik pengolahan pakan, pengoperasian mixer kompos, pengelolaan bak fermentasi, pengolahan limbah, serta pendampingan digitalisasi manajemen peternakan.

Program juga diarahkan untuk mendukung desa berdikari daya melalui pemanfaatan biomassa peternakan. Kotoran sapi nan dikelola dengan baik berpotensi menjadi bahan baku daya terbarukan. Dengan demikian, sistem peternakan dapat menghasilkan faedah lebih luas, tidak hanya berupa ternak, tetapi juga pupuk, energi, dan produk turunan lainnya.

Sinergi antara Universitas AKPRIND Indonesia, Universitas Gadjah Mada (UGM), dan Kelompok Tani Ternak Sumber Mulyo menjadi kekuatan dalam penyelenggaraan program. Perguruan tinggi memberikan support teknologi, peningkatan kapabilitas sumber daya manusia, pendampingan, dan evaluasi, sedangkan mitra menjadi pelaksana utama penerapan teknologi di lapangan.

Melalui penerapan mesin pencacah rumput, mesin mixer kompos, bak fermentasi, dan sistem manajemen peternakan berbasis digital, program ini diharapkan bisa meningkatkan produktivitas, mengurangi limbah, memperkuat ekonomi kelompok, serta membangun sistem peternakan nan efisien, ramah lingkungan, dan berkelanjutan.

Pada akhirnya, PKM ini diharapkan menjadi model pemberdayaan masyarakat nan mengintegrasikan peternakan, teknologi tepat guna, digitalisasi, ekonomi sirkular, dan daya terbarukan, sehingga Bintaran Wetan dapat berkembang menuju desa nan semakin berdikari energi, produktif, dan mempunyai ekonomi masyarakat nan berkelanjutan. (H-2)

Selengkapnya