Prabowo Mau Tutup Ratusan BUMN Tahun Ini, Sisa 250 Perusahaan

1 hari yang lalu 5
ARTICLE AD BOX

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Prabowo Subianto menargetkan restrukturisasi besar-besaran badan upaya milik negara (BUMN) rampung pada tahun ini. Langkah tersebut dilakukan untuk memangkas inefisiensi sekaligus mengurangi beban anggaran nan selama ini ditanggung negara.

Prabowo mengungkapkan, pemerintah menargetkan jumlah BUMN nan beraksi bakal dipangkas menjadi sekitar 250 perusahaan. Saat ini, sekitar 200 perusahaan pelat merah telah ditutup dari total lebih dari 1.000 entitas nan sebelumnya ada.

Menurutnya, jumlah BUMN nan terlalu banyak selama ini menimbulkan biaya operasional dan birokrasi nan besar, namun tidak seluruhnya bisa menghasilkan untung bagi negara.

"Ujungnya kelak 250 (perusahaan). Bayangkan lebih dari 750 kita tutup, 750 kepala utama, 750 dewan kali empat alias kali lima. 750 komisaris kali 10. Overhead-nya kaya apa, gajinya kaya apa saudara-saudara? Ini duit rakyat semua. Perusahaan (BUMN) tidak untung hanya bayar overhead," kata Prabowo.

Untuk itu Prabowo menginginkan proses restrukturisasi BUMN ini rampung dalam tahun ini.

"Kita mau rasional, efisien, dan ini kita buktikan. Dan ini kita lakukan. Saya minta dalam tahun ini kudu selesai ya. Jadi dalam dua tahun kita bakal bikin BUMN-BUMN lebih efisien, lebih transparan, lebih bekerja untuk rakyat," kata Prabowo.

Mengawali pembicaraan itu, Prabowo mengatakan bahwa dirinya mendapatkan usulkan dari para akademisi untuk mengalokasikan untung dari BUMN untuk aktivitas riset dan inovasi. Kepala negara menyetujui usulan ini, namun saat ini dia tetap ragu lantaran banyak perusahaan BUMN nan tidak mempunyai laba.

"Masalahnya BUMN-BUMN ini ada labanya nggak? sekarang mulai ada," kata Prabowo.

"Satu tahun ini mulai ada laba, masalahnya BUMN-BUMN ini kita sudah tahulah. Sudah lama jadi orang Indonesia kerabat sudah mengerti. Ini sedang kita bersihkan, sedang kita tertibkan," tambahnya.

(haa/haa)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya