ARTICLE AD BOX
Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah mulai menyiapkan pengembangan budidaya ikan skala besar di 40.000 desa sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan, sekaligus meningkatkan produksi protein hewani nasional. Program nan diinisiasi Presiden Prabowo Subianto itu bakal mengandalkan teknologi Mini Recirculating Aquaculture System (Mini RAS) nan diadopsi dari Norwegia.
Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono mengatakan, pengembangan budidaya tematik tersebut menjadi salah satu strategi untuk memperkuat produksi perikanan nasional di tengah kebutuhan pangan nan terus meningkat.
"Apalagi sekarang oleh Bapak Presiden juga dikembangkan budidaya tematik. Jadi budidaya tematik di setiap desa itu bakal kita bangun dan itu menggunakan teknologi Mini RAS (Recirculating Aquaculture System). Ini bagus sekali ya nan kita mengambil dari Norwegia," kata Trenggono dalam Economic Update 2026 CNBC Indonesia, Kamis (25/6/2026).
Ia menuturkan, program tersebut bakal dijalankan secara bertahap. Namun, jika seluruh sasaran pembangunan 40.000 desa budidaya terealisasi, kebutuhan bibit ikan nasional bakal melonjak sangat signifikan.
"Jadi kelak sekali waktu kita gini, kan kita diminta membangun 40.000 titik desa ya. Bayangin itu jika terjadi kan artinya setiap tahun jika satu titik 30 ton, itu kan jika misalnya 1.000 desa saja gitu, itu sudah berapa? Kalau 40.000 desa berapa itu? Itu kita butuh bibitnya saja, hulu hilir ya, butuh bibitnya saja sudah 15 miliar bibit kurang lebih setiap tahun," jelasnya.
Adapun pengembangan budidaya tematik, katanya, tidak bakal diseragamkan di seluruh Indonesia. Komoditas nan dibudidayakan bakal disesuaikan dengan karakter wilayah dan preferensi konsumsi masyarakat setempat, sekaligus mempertimbangkan kesempatan pasar ekspor.
"Disesuaikan dengan komoditas nan disukai oleh masyarakat lokal. Jadi seperti kayak di Jawa itu kan ada dua jenis ya, lele sama nila kan gitu," tutur dia.
"Kalau di luar Jawa ada beberapa komoditas nan kita kembangkan, seperti misalnya ikan mas dan seterusnya gitu ya, ikan mas terus kemudian ikan gurame gitu ya. Nah ini, ini nan kita kembangkan," sambung Trenggono.
Menurut dia, pilihan komoditas tersebut bakal terus diperluas mengikuti permintaan pasar di masing-masing wilayah maupun kebutuhan ekspor.
"Nanti kita sesuaikan dengan kondisi demand-nya sendiri seperti apa. Wilayah masing-masing kesukaan. Dan sekaligus juga sebetulnya untuk kepentingan ekspor, seperti kayak patin misalnya begitu, kita bisa kembangkan ke arah sana," ujarnya.
Di sisi lain, Trenggono memastikan produksi sektor perikanan nasional saat ini tetap bisa memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat sekaligus mencatatkan surplus perdagangan.
Ia menyebutkan, produksi perikanan tangkap Indonesia rata-rata mencapai 7,5 juta ton per tahun, sedangkan produksi budidaya sekitar 5,5 juta ton. Dengan demikian, total produksi ikan nasional mencapai sekitar 13 juta ton setiap tahun. Sementara produksi rumput laut mencapai sekitar 10 juta ton per tahun, sehingga total produksi sektor kelautan dan perikanan sekitar 24 juta ton per tahun.
"Kita rata-rata itu produksinya di 7,5 juta ton untuk tangkapan ya. Sementara untuk budidaya kira-kira sekitar 5,5 juta ton. Jadi 13 juta ton per tahun. Rumput laut sekitar 10 juta ton ya. Jadi total kira-kira sekitar 24 juta ton satu tahun ya," beber Trenggono.
Ia menegaskan, sektor perikanan Indonesia hingga sekarang tetap mencatatkan surplus neraca perdagangan, lantaran nilai ekspor jauh lebih tinggi dibanding impor.
"Nah ini unik untuk nan sektor perikanan, nan 13 juta ton ini, Indonesia selalu surplus. Jadi artinya ekspor kita lebih tinggi dibandingkan dengan impornya. Jadi ekspor kita rata-rata di US$6,5 miliar, sementara impor kita tuh nggak sampai US$1 miliar ya, kira-kira sekitar US$600-an juta lah kurang lebih gitu. Jadi kita selalu surplus ya," ujarnya.
"Dan untuk kebutuhan di dalam negeri sendiri, untuk kesiapan protein dari sektor perikanan ini cukup," pungkas dia.
(wur)
Addsource on Google

19 jam yang lalu
3








English (US) ·
Indonesian (ID) ·