NTT, CNBC Indonesia - Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto mengungkapkan tetap banyak penduduk Nusa Tenggara Timur nan memilih mengungsi ke wilayah terpencil lantaran takut dengan gempa susulan. Hal ini juga diperparah rumor gempa susulan nan beredar di media sosial.
Hal itu diungkapkan Suharyanto dalam laporannya kepada Presiden Prabowo Subianto dalam rapat mengenai penanganan gempa NTT di Posko Penanganan Bencana di Nagekeo, Rabu (26/8/2026).
Hingga saat ini, Suharyanto mengatakan terdapat 143 kali gempa susulan nan dirasakan oleh masyarakat. Namun, gempa nan paling kuat nan dirasakan masyarakat berkekuatan M 6,2. Banyaknya gempa susulan tersebut membikin masyarakat memilih mengungsi ke wilayah terpencil dibanding tinggal di rumah mereka.
"Kemudian gempa-gempa besarnya ratusan kali terasa, 143 kali nan terasa ini masyarakat Flores ini takut begitu Bapak Presiden sehingga mereka mengungsi di titik-titik nan jauh, pengungsi-pengungsi mandiri. Kami sudah himbau agar mereka masuk ke pengungsian terpusat tetapi kan masyarakat tidak bisa dipaksa Bapak Presiden," kata Suharyanto.
Di sisi lain, Suharyanto mengatakan, terdapat sejumlah rumor alias hoaks nan beredar di masyarakat. Beberapa di antaranya bakal adanya gempa susulan nan besar dan apalagi bakal ada tsunami.
"Jadi sebetulnya jumlah pengungsi nan banyak ini bukan lantaran terdampak gempa secara langsung tetapi lantaran gempa susulannya banyak. Mereka ketakutan dan juga ada beberapa rumor dari media sosial nan menyatakan bahwa bakal ada gempa susulan nan lebih besar, apalagi ada tsunami," katanya.
Untuk itu jejeran BNPB berbareng pemerintah wilayah dan lembaga mengenai terus memerangi isu-isu hoaks dan mengedukasi masyarakat.
"Ini nan terus kami perangi, gotong royong semua unsur untuk memberikan penjelasan kepada masyarakat," katanya.
Dalam laporannya, Suharyanto mengatakan, hingga info per Selasa (25/8/2026) pukul 17.00 WIB, gempa NTT mengakibatkan 105 orang meninggal bumi dan 1.678 orang luka-luka. Selain itu, katanya, terdapat 179.037 penduduk nan mengungsi, 81.436 unit rumah rusak dan 1.951 akomodasi umum nan rusak.
Berdasarkan info Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terdapat 7.259 kali gempa susulan sejak gempa utama berkekuatan M 7,7 pada Sabtu (15/8/2026) hingga Selasa (25/8/2026) kemarin. Dari ribuan gempa susulan tersebut, tidak ada gempa nan kekuatannya lebih dari M 7,7.
(hoi/hoi)
[Gambas:Video CNBC]

1 hari yang lalu
6








English (US) ·
Indonesian (ID) ·