Petugas mengisi bahan bakar biodiesel 50 persen (B50) ke bus di Stasiun Blending dan Pengisian Bahan Bakar Uji Jalan B50, Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Minggu (7/6/2026).(ANTARA/ABDAN SYAKURA)
EKONOM Universitas Negeri Manado (Unima) Robert Winerungan menanggapi pidato kenegaraan Presiden Prabowo Subianto saat Rapat Tahunan MPR dan Rapat Bersama DPR-DPD nan menyinggung soal swasembada daya melalui Biodiesel B50. Ia menilai, penghentian impor solar memberikan untung besar bagi perekonomian.
“Sebagian besar devisa kita lenyap untuk impor BBM dan bayar utang. Sekarang jika BBM itu, solar tidak impor lagi, nan Rp170 triliun itu devisa irit besar sekali. Jadi B50 ini sangat menghemat devisa. Devisa kita tidak terkuras oleh impor BBM lagi. Ada impor BBM, tapi sudah bukan solar,” kata Robert saat dihubungi, Sabtu (15/8/2026).
Menurut Robert, faedah penghematan devisa tersebut dapat meluas andaikan ruang nan tercipta digunakan untuk memperkuat keahlian teknologi Indonesia. Penguasaan teknologi dinilai dapat meningkatkan produktivitas dan menekan biaya produksi, sehingga produk-produk nasional semakin kompetitif dibandingkan produk negara lain.
Ia juga memandang meningkatnya pemanfaatan sawit sebagai bahan baku biodiesel dapat menciptakan kepastian permintaan nan pada akhirnya membantu menjaga penjualan dan stabilitas nilai komoditas tersebut. Robert pun mengapresiasi keahlian positif Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia nan bisa dengan sigap mengeksekusi perintah presiden mengenai swasembada energi.
“Itu spektakuler. Jadi intinya peran besar untuk BBM nan tidak impor lagi itu, devisa bisa dipakai untuk alih teknologi. Akan lebih maju lagi Indonesia kita. Jadi devisa tidak terkuras dan jika devisa itu terpakai untuk alih teknologi, itu bakal membikin Indonesia kita lebih maju lagi,” ujarnya.
Pakar ekonomi daya Universitas Padjadjaran (Unpad) Yayan Satyakti menilai, industri sawit selama ini mempunyai peran besar bagi perekonomian, mulai dari menyerap jutaan tenaga kerja, membantu mengurangi kemiskinan di perdesaan, hingga menghasilkan devisa melalui ekspor dan pengurangan impor.
Yayan menilai peningkatan penggunaan biodiesel hingga B50 perlu dibarengi dengan penguatan ekosistem pendukung. Pasalnya, peningkatan porsi biodiesel turut meningkatkan kebutuhan bahan baku. Karena itu, peningkatan produktivitas kebun sawit rakyat, diversifikasi bahan baku, serta penguatan pembiayaan menjadi krusial agar B50 dapat melangkah secara berkelanjutan.
“Perbaiki pungutan dan pasang katup pengaman campuran sekarang, diversifikasi ke bahan baku limbah sembari melindungi pangan melalui Harga Eceran Tertinggi alih-alih kuota ekspor, dan mulai meningkatkan produktivitas perkebunan rakyat segera, maka B50 menjadi kemenangan ketahanan daya nan betul-betul bisa ditanggung Indonesia, baik secara fiskal maupun lingkungan,” kata Yayan.
Sejumlah prasyarat nan disoroti Yayan tersebut telah tercermin dalam kebijakan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Yayan mencatat, Keputusan Menteri ESDM Nomor 113.K/EK.05/MEM.E/2026 telah mengatur arah kebijakan pencampuran biodiesel hingga 2030 dengan mempertimbangkan tiga aspek penting, ialah kesiapan bahan baku, pembiayaan, dan infrastruktur.
Dengan pendekatan tersebut, kebijakan B50 nan dijalankan Kementerian ESDM di bawah Menteri Bahlil Lahadalia tidak hanya berorientasi pada peningkatan persentase biodiesel. Kesiapan ekosistem turut menjadi pertimbangan sebelum peningkatan campuran dilakukan. Hal ini menjadi krusial untuk menjaga keberlanjutan program sekaligus memastikan faedah B50 terhadap ketahanan daya dapat diperoleh secara optimal.
“Syarat gerbang itulah petunjuknya. Keputusan itu sendiri mengakui bahwa jalur pencampuran berjuntai pada kesiapan pembiayaan nan persis merupakan variabel nan ditemukan model sebagai pengikat,” ujar Yayan.
Kajian Yayan juga menunjukkan bahwa kebutuhan bahan baku dapat dikelola melalui peningkatan produktivitas dan peremajaan kebun rakyat, sehingga tidak semata-mata mengandalkan pembukaan lahan baru.
“Dengan support pembiayaan, bahan baku, dan prasarana nan memadai, B50 berkesempatan menjadi instrumen krusial untuk memperkuat ketahanan daya sekaligus mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap daya impor,” tegas Yayan.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto mengatakan Indonesia mulai sukses mewujudkan swasembada energi. Menurut Prabowo, salah satu pencapaian tersebut ditandai dengan keberhasilan Indonesia memproduksi biodiesel B50 nan berbasis minyak kelapa sawit.
"Janji swasembada daya sekarang sudah mulai kita wujudkan dengan pertama kali swasembada BBM jenis solar kita sukses produksi diesel dengan B50 dari kelapa sawit," ujar Prabowo dalam pidato kenegaraan di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Jumat (14/8/2026).
Prabowo menjelaskan, produksi biodiesel B50 membikin Indonesia tidak lagi mengimpor solar dari luar negeri. Menurut dia, kebijakan tersebut mulai bertindak sejak 1 Juli 2026 dan turut menghemat devisa negara dalam jumlah besar. "Kita sukses irit devisa Rp 170 triliun, sekitar 9,5 miliar Dollar Amerika, tidak lagi kudu kita kirim ke luar negeri," ucap Prabowo.(H-2)









English (US) ·
Indonesian (ID) ·