ARTICLE AD BOX
Jakarta, CNN Indonesia --
Duel Prancis vs Maroko dalam perempat final Piala Dunia 2026 di Stadion Boston, Jumat (10/7) awal hari WIB seumpama pertarungan dua kutub medan magnet.
Bagi publik Benua Afrika, laga ini membawa ingatan kolektif ke musim dingin di Qatar empat tahun lalu. Momen ketika dongeng bagus Maroko dihentikan secara sadis oleh gol sigap Theo Hernandez dan sontekan Randal Kolo Muani.
Kini, waktu seakan melingkar membentuk dejavu. Hanya saja, tajuk pertemuan di Boston bukan lagi sekadar perebutan tiket semifinal biasa, melainkan misi pelunasan dosa dan dendam kesumat Singa Atlas nan belum tuntas.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, konstelasi kekuatan sudah jauh bergeser. Timnas Maroko pada jenis 2026 ini bukan lagi tim 'kuda hitam' mengandalkan keberuntungan defensif, melainkan kekuatan baru menuntut rasa hormat dari para raksasa dunia.
Sebab, narasi tim telah sepenuhnya bergeser dari era Walid Regragui ke tangan dingin Mohamed Ouahbi. Pelatih keturunan Belgia-Maroko nan dijuluki 'The Professor' itu menyuntikkan filosofi anyar ke dalam skuad senior.
Rekam jejak Ouahbi bukan kaleng-kaleng. Juru strategi ini adalah sosok di kembali layar kesuksesan membawa timnas Maroko U-20 merengkuh takhta juara di Piala Dunia U-20 2025 di Chile.
Jika di Qatar Maroko identik dengan strategi low-block alias pertahanan grendel pasif, di tangan Ouahbi mereka beralih bentuk menjadi tim proaktif. Singa Atlas sekarang fasih mempermainkan penguasaan bola tinggi dan transisi mematikan.
Kombinasi strategi ini terbukti efektif sepanjang turnamen. Maroko melaju ke perempat final dengan ketangguhan mental luar biasa saat mendepak Belanda lewat adu penalti. Disusul kemenangan meyakinkan 3-0 atas Kanada di babak 16 besar.
Di kubu seberang, Prancis didikan Didier Deschamps tetap berdiri kukuh sebagai mesin menakutkan. Langkah Les Bleus ke babak 8 besar terhitung mulus tanpa riak berfaedah setelah mendepak Paraguay dengan tensi permainan tinggi.
Kengerian Prancis terletak pada produktivitas mereka nan sudah mengemas 14 gol sepanjang turnamen. Di ujung tombak, Kylian Mbappe berdiri sebagai predator utama, disokong Ousmane Dembele di sayap kanan serta percepatan Bradley Barcola alias Desire Doue di kiri.

Belum lagi kehadiran Michael Olise nan dipasang di pos nomor 10. Mengerikannya, kuartet lini serang Les Bleus sering kali tidak pakem di posisi masing-masing dan giat berotasi. Fleksibilitas tinggi ini siap mengacak-ngacak baris pertahanan lawan.
Lini pertahanan Prancis pun tak kalah solid berkah duet William Saliba dan Dayot Upamecano. Ketangguhan mereka disempurnakan oleh kompatriot di sektor bek sayap, ialah Jules Kounde di kanan serta Lucas Digne alias Theo Hernandez di kiri.
Kedalaman skuad inilah menjelma teror nyata bagi Maroko. Apalagi, bangku persediaan Prancis juga tetap menyimpan segudang pemain berbobot jempolan. Jelas, ini bukan perkara mudah bagi Ouahbi untuk membongkar tim nyaris tanpa celah.
Add
as a preferred source on Google

1 jam yang lalu
2








English (US) ·
Indonesian (ID) ·