Presiden Tertua Bikin Heboh, "Pelesir" ke Eropa dan Tak Pulang-Pulang

55 menit yang lalu 4

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Kamerun Paul Biya kembali menjadi sorotan setelah menghabiskan beberapa minggu di Jenewa, Swiss. Kepergiannya sejak 7 Juni untuk argumen pribadi memicu kritik mengenai kepemimpinan negara di tengah spekulasi mengenai kondisi kesehatannya.

Biya, 93 tahun, merupakan kepala negara tertua di bumi dan telah memimpin Kamerun selama lebih dari empat dekade. Pemerintah menyatakan perjalanan tersebut merupakan "tinggal sejenak dan pribadi" berbareng istrinya, seperti dikutip AfricaNews, Senin (10/8/2026).

Kunjungan Biya ke Jenewa bukan perihal baru. Ia telah berulang kali melakukan perjalanan ke kota tersebut dalam beberapa tahun terakhir, sementara kondisi kesehatannya terus menjadi bahan spekulasi publik.

Pemerintah Kamerun membantah berita mengenai kondisi kesehatan serius sang presiden. Menteri Komunikasi Kamerun sebelumnya menepis laporan nan menyebut Biya sempat dirawat di rumah sakit di Jenewa.

Namun, ketidakhadiran Biya di dalam negeri menuai kritik dari kubu oposisi. Tokoh oposisi Mamadou Mota menyebut absennya presiden sebagai "kekosongan institusional nan mencolok".

Presiden Uni Demokratik Kamerun (UDC) Patricia Tomaino Ndam Njoya juga mendesak pemerintah menetapkan sistem nan jelas untuk menghadapi kondisi ketika presiden tidak bisa menjalankan tugasnya.

Ia menyerukan adanya "prosedur nan tidak memihak untuk menentukan ketidakmampuan sementara alias permanen" kepala negara.

Sorotan terhadap Biya bukan kali ini saja terjadi. Pada akhir 2024, dia juga menuai kritik setelah tercatat tidak berada di Kamerun selama sekitar 50 hari, memicu kembali perdebatan mengenai kapasitasnya memimpin negara di usia nan telah mencapai 93 tahun.

(luc/luc) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya