Jerman Hadapi Ancaman Perang Besar, Pemerintah sedang Bersiap

59 menit yang lalu 5

Jakarta, CNBC Indonesia - Jerman sekarang menghadapi ancaman serangan perang hibrida setiap harinya dari luar negeri. Peringatan ini disampaikan oleh Menteri Dalam Negeri Alexander Dobrindt menyusul dugaan upaya serangan nan melibatkan pesawat nirawak alias drone bermuatan bahan peledak di Bandara Leipzig/Halle.

Mengutip Reuters, Senin (10/8/2026), Dobrindt memaparkan kepada surat berita Bild am Sonntag bahwa kekuatan asing sengaja mau menundukkan Jerman secara politik dan sosial dengan mengobarkan ketakutan. Surat berita tersebut juga melaporkan bahwa pemerintah berencana untuk segera meningkatkan kapabilitas anti-drone Jerman demi menghadapi ancaman nyata tersebut.

"Kami tidak sedang berperang, tetapi kami adalah sasaran harian perang hibrida. Spionase, sabotase, serangan siber, alias operasi rahasia oleh kekuatan asing nan bermaksud untuk menggoyahkan Jerman alias menimbulkan kerugian langsung adalah realita nan konstan," tegasnya.

Meskipun menyampaikan peringatan nan sangat keras, Dobrindt sama sekali tidak menyebut identitas negara-negara tertentu nan dicurigai sebagai dalang di kembali teror tersebut. Setelah drone bermuatan bahan peledak itu ditemukan di airport wilayah timur Jerman pada hari Selasa, beberapa personil parlemen Jerman langsung menuding Rusia.

Negara tersebut diketahui telah bertempur dengan Ukraina sejak invasi militernya secara penuh pada tahun 2022 lalu.

Kedutaan Besar Rusia di Berlin pada hari Jumat dengan sigap menepis peristiwa Leipzig tersebut sebagai sebuah provokasi nan sengaja dibuat-buat. Pihak kedutaan menyebut bahwa kejadian tersebut hanyalah contoh lain dari rentetan tuduhan tidak berdasar terhadap negaranya.

Mengutip sumber pemerintah, surat berita Bild melaporkan bahwa kementerian nan dipimpin Dobrindt mau menggandakan tim mahir anti-drone federal Jerman dari 150 menjadi 300 personel. Mereka juga berencana memperluas jaringan pangkalan mengenai dari empat menjadi delapan titik, meski pihak kementerian belum memberikan tanggapan resmi saat dimintai komentar.

Di sisi lain, angkatan bersenjata Jerman pada hari Sabtu melaporkan bahwa dua pesawat nirawak kembali terlihat terbang melintas pada Kamis malam. Drone tersebut terpantau mengudara tepat di atas situs pangkalan militer Jerman di Mechernich, negara bagian barat Rhine-Westphalia Utara.

Secara terpisah, Presiden Serbia Aleksandar Vucic memberikan pandangannya mengenai bentrok ini dalam sebuah siniar Jerman. Ia beranggapan bahwa perang hibrida Rusia terhadap kekuatan Eropa pada dasarnya sama persis dengan apa nan selama ini telah dilakukan Eropa terhadap Rusia.

Vucic menyoroti tindakan kekuatan Eropa nan telah mempersenjatai Ukraina, menjatuhkan hukuman ekonomi pada Rusia, serta memberikan support finansial nan masif kepada Kyiv. Meskipun demikian, dia menyatakan kepada pembawa aktivitas siniar MD MEETS sekaligus CEO Axel Springer, Mathias Dopfner, bahwa Ukraina bukanlah pihak nan memulai perang.

Ia mengingatkan publik agar tidak kebingungan dalam membedakan secara jelas mana pihak nan menjadi korban dan mana nan merupakan agresor sesungguhnya. Berdasarkan teks bahasa Jerman dari komentarnya, pemimpin Serbia itu mengaku tidak memandang perang antara Rusia dan Ukraina bakal berhujung sebelum musim semi tahun depan akibat keengganan untuk saling berkompromi.

"Saya percaya kita berada di awal perang besar," paparnya.

Komentar Vucic di aktivitas siniar tersebut muncul tepat setelah dia mengadakan pertemuan tatap muka dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky pada pekan ini. Dalam pertemuan krusial itu, Vucic secara terbuka berjanji untuk mendukung penuh kemerdekaan Ukraina dan bakal terus berupaya meningkatkan hubungan ekonomi bilateral kedua belah pihak.

(tps/sef) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya