Profil Bapak Reformasi China Zhu Rongji, Meninggal Usia 97 Tahun

57 menit yang lalu 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Mantan Perdana Menteri China Zhu Rongji meninggal bumi pada usia 97 tahun. Sosok nan dikenal tegas dan blak-blakan itu dikenang sebagai salah satu arsitek reformasi ekonomi China nan membawa negara tersebut berasosiasi dengan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).

Kantor buletin resmi Xinhua melaporkan Zhu meninggal bumi lantaran sakit di Beijing pada Rabu (12/8/2026) sekitar pukul 11.00 waktu setempat.

Selama menjabat sebagai perdana menteri pada 1998-2003, Zhu mendorong perubahan besar terhadap perusahaan milik negara, menekan korupsi, dan memaksa badan upaya pemerintah menjadi lebih efisien serta berorientasi pada keuntungan.

Gaya kepemimpinannya nan keras membikin Zhu mendapat julukan "Bos" dan Zhu Fengzi alias "Zhu si Gila". Ia juga dikenal berani mengkritik pejabat nan tidak kompeten dan mengakui kesalahan pemerintah secara terbuka.

"Saya telah menyiapkan 100 peti meninggal di sini, 99 untuk pejabat korup dan satu untuk diri saya sendiri," ujar Zhu pada 1998, sebagaimana dikutip People's Daily.

Reformasi nan dijalankan Zhu melanjutkan kebijakan pembukaan ekonomi nan dirintis Deng Xiaoping sejak 1979. Salah satu agenda terbesarnya adalah merestrukturisasi perusahaan milik negara, nan berakibat pada jutaan pekerja lantaran pemutusan hubungan kerja, tetapi sekaligus mendorong efisiensi dan daya saing industri China.

Zhu juga memainkan peran krusial dalam perjuangan panjang China untuk masuk WTO. Setelah negosiasi selama bertahun-tahun, dia apalagi datang ke Washington pada 1999 dengan menawarkan konsesi pembukaan pasar untuk memperoleh support Amerika Serikat.

Upaya tersebut sempat terancam kandas setelah pemerintahan Bill Clinton menilai tawaran China belum memadai. Di dalam negeri, Zhu juga menghadapi kritik lantaran dianggap memberikan terlalu banyak konsesi. Namun, dia memperkuat hingga China akhirnya resmi menjadi personil WTO pada Desember 2001.

Keanggotaan WTO kemudian menjadi salah satu tonggak krusial dalam transformasi ekonomi China. Perdagangan dan ekspor berkembang pesat, sementara pertumbuhan ekonomi China tercatat tetap di atas 8% per tahun sepanjang 2000-2010 dan mencapai 14,2% pada 2007.

Dari Inflasi hingga Kepemilikan Rumah

Sebelum menjadi perdana menteri, Zhu membangun reputasinya sebagai wakil perdana menteri pada awal 1990-an dengan menangani inflasi. Ia menerapkan pengendalian nilai serta menghentikan penyaluran angsuran kepada perusahaan negara nan merugi, meski kebijakan tersebut mendapat perlawanan dari sejumlah pemerintah daerah.

Zhu juga berkedudukan dalam reformasi sistem perpajakan nan membikin pemerintah wilayah menyetorkan lebih banyak pendapatan kepada pemerintah pusat. Pada 1998, pemerintahannya mendorong penjualan apartemen milik perusahaan negara kepada masyarakat, nan kemudian memicu lonjakan kepemilikan rumah di area perkotaan China.

Meski demikian, Zhu tidak mendorong privatisasi ekonomi secara menyeluruh. Ia membantu merancang perubahan pada sektor perbankan, penerbangan, minyak dan beragam badan upaya lain agar beraksi layaknya korporasi nan mengejar keuntungan, tetapi kepemilikan pemerintah tetap dipertahankan.

Pernah Diasingkan ke Pedesaan

Zhu lahir di Hunan pada 23 Oktober 1928. Kariernya sebagai perencana ekonomi terhenti selama sekitar 22 tahun setelah dia dicap sebagai "kaum kanan" pada 1957 lantaran memuji reformasi di Hungaria dan Yugoslavia.

Selama Revolusi Kebudayaan 1966-1976, Zhu diasingkan ke pedesaan dan menjalani pekerjaan kasar. Namanya kemudian dipulihkan pada 1979, sebelum pekerjaan politiknya kembali melesat hingga menjadi wakil sekretaris partai di Shanghai pada 1987 dan wali kota pada 1988.

Saat memimpin Shanghai pada 1989, Zhu dikenal sebagai sosok moderat lantaran sukses meredakan ketegangan di tengah demonstrasi tanpa mengerahkan militer. Diplomat Australia Shelley Warner apalagi menilai Zhu sukses meredakan situasi politik nan berpotensi berkembang menjadi kekerasan lokal.

Setelah itu, Zhu ditunjuk sebagai wakil perdana menteri pada 1991 dan masuk Komite Tetap Politbiro pada 1993. Ia kemudian menjadi perdana menteri pada usia 69 tahun dan menempati posisi ketiga dalam jenjang kepemimpinan China, di bawah Presiden Jiang Zemin dan Li Peng.

Zhu juga dikenal lantaran kesediaannya mengambil tanggung jawab atas kegagalan pemerintah. Setelah banjir besar pada 1998 nan menewaskan sekitar 4.150 orang, dia mengecam buruknya kualitas sejumlah tanggul. Tiga tahun kemudian, Zhu meminta maaf melalui televisi nasional setelah ledakan di sebuah gedung sekolah di China selatan menewaskan sedikitnya 42 orang, sebagian besar anak-anak.

Warisan Zhu Rongji terutama melekat pada keberaniannya mendorong reformasi nan tidak populer, restrukturisasi perusahaan negara, pembenahan fiskal, serta keberhasilan membawa China ke WTO. Kebijakan-kebijakan tersebut menjadi bagian krusial dari fondasi nan membantu mengubah China menjadi salah satu kekuatan ekonomi dan eksportir terbesar dunia.

(tfa/tfa) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya